Tema 7: Pijakan Teknis Qur’ani

oleh Iswan Muhammad Isa

Islam adalah agama Tauhid, dan sebagai manusia yang sadar Tauhid hendaknya setiap pemikiran, tindakan, dan penilaian kita tidak bertentangan serta tidak keluar dari kerangka semua nilai yang ada dalam al-Qur’an sebagai sumber primer.

Tauhid bukan sekadar ucapan atau pengetahuan kita tentang—sebagaimana banyak literatur menjelaskan—pelajaran sifat, asma, af‘al, atau zat Allah dalam satu kesatuan. Tauhid adalah bagaimana bentuk, pola, mekanisme, struktur, dan kualitas hubungan antara Allah, alam, dan manusia. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa alam dan manusia merupakan tanda-tanda atau representasi dari entitas Allah.

Bentuk, pola, struktur, mekanisme, dan kualitas hubungan inilah yang kita gunakan sebagai pijakan teknis Qur’ani dalam berpikir, bertindak, dan menilai dalam hidup dan kehidupan, dalam suatu bentuk konstruksi Tauhid.

Konstruksi Tauhid adalah upaya untuk membangun suatu sistem melalui ide-ide umum yang bersifat komprehensif, koheren, rasional, dan logis dalam ruang rujuk Qur’ani.

Al-Qur’an menjadi ruang rujuk karena al-Qur’an bukanlah kitab yang mengajarkan manusia bagaimana membangun budaya dan peradaban atau melatih kita berpikir, melainkan memberikan arah, petunjuk, sekat, pakem, serta melakukan verifikasi dan validasi terhadap seluruh aktivitas manusia sebagaimana ditegaskan dalam al-Ḥajj: 54.

Jadi, bidang datum pemikiran, tindakan, dan penilaian terhadap setiap entitas (Allah, alam, dan manusia) tidak terlepas dari aktualitas konstruksi Tauhid. Aktualitas adalah setiap teks suci, fenomena, gejala, tanda, dan simbol yang dapat kita amati dan rasakan, yang selalu terbentang untuk dipikirkan, ditindaklanjuti, dan dinilai.

Dengan perkataan lain, pengalaman, pengetahuan, pemahaman, kesadaran, makna, serta penjelasan terhadap hal-hal tersebut merupakan satu-satunya kebenaran dan pembenaran bagi setiap pemikiran, tindakan, dan penilaian terhadap setiap rangkaian peristiwa.

Kebenaran inilah yang kita kenal sebagai ad-Din al-Ḥaq, sedangkan pembenaran dikenal sebagai al-Millah ash-Shahih. Dengan kata lain, kebenaran inilah yang kita kenal dengan istilah agama, dan pembenaran kita kenal dengan istilah pemikiran agama.

Kebenaran dan pembenaran harus dibangun melalui “lompatan imajinasi”, yaitu adanya lampauan lokus atau domisili yang tidak terbatas hanya pada ruang saat ini, tetapi juga mencakup ruang masa lalu dan masa depan. Untuk mencapai hal ini, ada beberapa hal yang perlu disyaratkan agar dapat terhindar dari fluktuasi seminimal mungkin:

1. Tercapainya visi sinopsis

Yaitu adanya terobosan imajinasi dalam membangun konstruksi Tauhid dengan menghubungkan masa kini dengan masa lalu dan masa depan. Melakukan definisi pada ruang tertentu tanpa menghubungkannya dengan ruang lain hanyalah bersifat temporer dan tidak mampu melakukan terobosan imajinasi terhadap hal-hal yang berada di luar jangkauan indrawi.

Mungkin kita hanya mengetahui apa yang hadir di hadapan kita, tetapi kita tidak mengetahui segala sesuatu yang ada di luar sana. Pemaksaan dengan melakukan pembenaran terhadap hal tersebut justru menyebabkan terjadinya ilusi, baik terhadap pemahaman masa lalu, masa kini, maupun masa depan.

2. Pencarian tiada henti terhadap kesempurnaan rasional, logis, koherensi, dan akar autentisitas

Kesempurnaan rasional dan logis diperlukan agar setiap sesuatu tidak lagi memerlukan penjelasan rinci dalam penerapannya. Contohnya adalah cabang ilmu pengetahuan yang gagasannya murni, rasional, logis, dan terkendali, sehingga secara relatif dapat menghindari fluktuasi di dalamnya. Hal ini memang memerlukan waktu yang panjang, hampir 2000 tahun sejak perkembangannya hingga kini.

Al-Qur’an merupakan kitab yang memiliki dasar kesempurnaan rasional dan logis yang permanen. Kelemahan kita mungkin terletak pada ketidakmampuan menjahit bingkai rasionalitas berdasarkan al-Qur’an, karena terjebak dalam mitos, prasangka, dan primordialisme.

Koherensi dimaksudkan untuk menjaga aspek rasionalitas dalam mempertahankan lompatan imajinasi. Jangan sampai, misalnya, kita mewajibkan orang lain untuk mempertahankan koherensi, namun memberi kelonggaran yang sangat luas bagi diri kita sendiri. Atau secara sederhana, kita memerintahkan orang lain untuk melakukannya, tetapi kita sendiri tidak melakukannya.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ (٢) كَبُرَ مَقْتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفْعَلُونَ (٣)

“Wahai kamu yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu lakukan. Amat besar kebencian di sisi Allah mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan” (Ash-Shaff: 2–3)

Pencarian akar autentisitas dimaksudkan untuk mencari dan mendekati kebenaran universal (al-Ḥaq) dan dengan sendirinya menolak kebenaran yang setengah-setengah, yang selama ini membentuk prinsip-prinsip pertama dan utama.

Akar autentisitas ini digambarkan Allah melalui perumpamaan dalam Ibrahim: 24–25.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًۭا كَلِمَةًۭ طَيِّبَةًۭ كَشَجَرَةٍۢ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌۭ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ (٢٤) تُؤْتِىٓ أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍۢ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ ٱللَّهُ ٱلْأَمْثَـٰلَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (٢٥)

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada tiap musim dengan izin Allah. Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar selalu ingat.”

Prinsip pertama dan utama bukanlah mempertahankan kebenaran yang setengah-setengah dari pendapat-pendapat masa lalu dari masing-masing sumber, melainkan melakukan pencarian akar autentisitas yang tiada henti untuk mendekati kebenaran universal (al-Ḥaq). Yaitu usaha untuk mensejajarkan ad-Din dan al-Millah, agama dan pemikiran agama, antara God View dan World View, antara realitas dan fakta, antara apa yang Dia katakan dan apa yang kita katakan, serta pada akhirnya mensejajarkan antara “ide Allah” dan “ide manusia.”

Untuk mencapai hal ini, kita harus membangun atau memiliki bentuk konstruksi Tauhid yang dijadikan alat sebagai pijakan teknis dan pemahaman berbagai kata kunci.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *