Tema 69: Fase Adam Tinggal di Jannah

oleh Iswan Muhammad Isa

Dalam keseharian, ketika kita mendengar kata surga atau jannah (جنة) maka kita akan terbayang suatu tempat yang tidak berada di bumi dan tempat ini kita anggap sebagai lokasi yang nantinya akan diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman. Bagaimana penggunaan kata jannah dalam al-Qur’an?

Karena berasal dari huruf dasar ja-na-na yang mengandung mana dasar “tersembunyi dan tertutup/menutupi”. Ketika Allah menjadikan alam ini, Allah menjadikan tanaman, pohon-pohon yang menutupi bumi, baik dalam bentuk hamparan tanaman seperti padang rumput atau savana maupun hutan-hutan tropis yang dipenuhi buah buahan yang dapat dimakan. Daerah daerah yang ditutupi oleh pohon pohon inilah disebut jannah.

وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ

“Dialah yang membentuk tanaman (جنات) yang merambat dan yang tidak merambat.” (Al-An’am: 141)

Jadi, hutan-hutan yang dijadikan Allah sebelum ada manusia disebut Allah sebagai jannah di mana banyak buah dan air mengalir membentuk sungai. Hutan-hutan ini menutup permukaan bumi sehingga teduh dan tidak panas.

Dari makna “tertutup” inilah digunakan dalam menjelaskan fenomena maupun wujud-wujud yang merujuk kepada makna “tertutup”.

Misalnya dalam fenomena alam ketika malam menutup siang.

فَلَمَّا جَنَّ عَلَيْهِ اللَّيْلُ رَأَىٰ كَوْكَبًا ۖ قَالَ هَٰذَا رَبِّي ۖ فَلَمَّا أَفَلَ قَالَ لَا أُحِبُّ الْآفِلِينَ

“Ketika malam menutupi (َّجَن) bumi, dia melihat sebuah bintang (lalu) ia berkata, “inilah Tuhanku”, tapi ketika bintang tenggelam, ia berkata, “aku tidak suka pada yang tenggelam.” (Al-An’am: 76)

Dari makna dasar ini juga makhluk yang tidak kelihatan dari pandangan mata disebut jin. Demikian juga orang gila yang akalnya tertutup disebut majnun.

Jadi, dalam penggunaan lainnya, al-Qur’an juga menggunakan kata dasar ja-na-na untuk menyebutkan kebun-kebun dan taman-taman yang menutupi permukaan tanah serta hutan tropis yang rapat dan daun-daunnya menutupi permukaan bumi. Hal ini dapat kita lihat misalnya:

كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِم مِّنْهُ شَيْئًا ۚوَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا

“Kedua kebun itu (الْجَنَّتَيْنِ) menghasilkan buahnya dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun dan Kami alirkan sungai di celah kedua kebun itu.” (Al-Kahfi: 33)

Kata “jannatain” adalah jamak dari kata “jannah” yang maksudnya adalah kebun-kebun yang ada di atas permukaan bumi.

Demikian juga Fir’aun yang memiliki taman dan mata air disebut dengan kata jannah.

فَأَخْرَجْنَاهُم مِّن جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ

“Kami keluarkan mereka dari taman dan mata air.” (Asy-Syu’ara’: 57)

Dari beberapa contoh pemakaian kata jannah di atas, dapat kita lihat kata tersebut dipergunakan dalam realitas fisik di alam dunia. Lalu, apakah “jannah” yang ditempati kelompok Adam berada di dunia fisik (bumi) atau Adam tinggal di luar bumi sebagaimana keyakinan kita pada masa lalu?

Jika kita lihat penciptaan basyar yang disampaikan al-Qur’an, dapat dipastikan Adam hidup, tumbuh, dan berkembang di bumi ini, bukan awalnya di surga di luar bumi yang nantinya akan ditempati oleh orang orang beriman.

Untuk memastikan hal ini mari kita lihat gambaran “jannah” yang ditempati Adam.

إِنَّ لَكَ أَلَّا تَجُوعَ فِيهَا وَلَا تَعْرَىٰ ‎﴿١١٨﴾‏ وَأَنَّكَ لَا تَظْمَأُ فِيهَا وَلَا تَضْحَىٰ ‎﴿١١٩﴾‏

“Sesungguhnya kamu tidak akan kelaparan di dalamnya dan tidak akan telanjang (لَا تَعْرَى). Dan sesungguhnya kamu tidak akan dahaga dan tidak ditimpa panas sinar matahari.” (Thaha: 118-119)

Pada ayat di atas kata تَعْرَى diterjemahkan menjadi “telanjang”. Kata ini berasal dari الْعَرَاءُ yang bermakna keluar dari tempat teduh ke tempat yang panas; keluar dari daerah yang subur daerah yang tandus/terbuka tanpa pohon. Hal ini dapat kita lihat pada ayat berikut:

فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَهُوَ سَقِيمٌ

“Dan Kami lemparkan ia (Yunus) ke daerah yang tandus (pasir pantai), sedang ia dalam keadaan sakit.” (Ash-Shaffat: 145)

Jadi, kalimat تَعْرَى bukan berarti Adam tidak telanjang dan menggunakan pakaian, tapi yang dimaksud Adam tidak berada di tempat terbuka dan tandus. Jika dikatakan Adam tidak telanjang dan telah menggunakan pakaian, maka ayat ini akan bertentangan dengan ayat lain yaitu ketika Adam sadar maka ia menutup alat vitalnya dengan daun-daun jannah.

Di dalam jannah inilah kelompok Adam belajar secara berkelanjutan bagaimana memahami simbol-simbol/tanda-tanda objektif yang ada disekitarnya. Dalam fase inilah kelompok Adam memahami hubungan antara “suara” dan “bentuk”, dan membangun persepsi antara suara dan bentuk.

Dalam fase ini, bentuk “suara” masih terputus putus sesuai suara yang didengarnya dan bentuk-bentuk yang dilihatnya. Dengan perkataan lain, Adam baru mampu secara sederhana menghubungkan “tanda” dengan “yang ditandai” secara langsung. Misalnya:

  • Jejak hewan tertentu terhadap hewannya.
  • Bunyi suara tertentu terhadap objeknya.

Selain itu, kelompok Adam juga menyaksikan berbagai peristiwa di fenomena, termasuk kematian dari kelompoknya. Peristiwa dan fenomena ini juga ikut membangun persepsi dalam diri kelompok Adam misalnya bagaimana bertahan hidup dan bagaimana mencari makanan-makanan dari hewan-hewan yang ada.

Persepsi puncak yang terbangun adalah hubungan antara “bentuk” dengan “bentuk” di mana Adam menyaksikan berbagai fenomena kematian dan kehidupan yang silih berganti. 

Persepsi terhadap kehidupan dan kematian inilah yang diingatkan Allah dalam firman-Nya:

وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Jangan kau dekati pohon ini, sehingga engkau termasuk orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 35)

Ayat ini jangan kita bayangkan terjadi percakapan antara Adam dan Tuhan dalam bentuk bahasa sebab kita tahu bahwa Adam belum memiliki bahasa dan baru memahami asma’.

Ayat ini adalah majazi di mana Allah memisalkan dengan memberikan contoh bagaimana perkembangan dalam pemikiran manusia.

وَلَقَدْ ضَرَبْنَا لِلنَّاسِ فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ مِن كُلِّ مَثَلٍ لَّعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

“Sungguh, Kami benar-benar telah membuat dalam al-Qur’an ini segala macam perumpamaan bagi manusia agar mendapat pelajaran.” (Az-Zumar: 27)

Di sini Allah ingin menggambarkan bagaimana situasi dan bentuk hutan tropis asli pada masa kelompok Adam tinggal di sana dengan persepsinya yang belum sempurna. Survival instinct bisa membuat Adam berpikir dan bertindak apa saja demi rasa ingin bertahan hidup sebagaimana juga rasa cinta yang dapat memunculkan berbagai persepsi yang bersifat “post-truth”.

Post-truth adalah istilah di mana rasa atau perasaan mengalahkan atau melampaui kebenaran objektif sehingga muncul pemikiran dan tindakan yang didorong oleh hasrat, emosional yang tanpa kita sadari dapat menimbulkan pembohongan baik bersifat pribadi maupun publik. Jadi, yang disampaikan bukan lagi kebenaran objektif tapi berdasarkan rasa pribadi.

Oleh sebab itu Allah memberikan contoh/permasalahan menggunakan kata ضَرَبَ. Kata ضَرَبَ tidak tepat diterjemahkan “membuat”, kata ini merujuk pada makna “adanya sentuhan yang keras sehingga dirasakan”. Oleh sebab itu memukul atau menampar dengan keras disebut juga dengan istilah ضَرَبَ.

Persepsi post-truth inilah yang belum disadari Adam sehingga Adam terjebak dalam pemikiran syaithani.

One Comment

  1. Adam seorng nabi, tapi bukan seprang Rasul… barangkali begitu ya pak ustaz
    Karena ada beberapa hadist yang menagatakan Bahwa nabi membenarkan Adam adalah seorang Nabi. Mohon Pencerahannya

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *