Tema 66: Penciptaan Makhluk Hidup Dabbah

oleh Iswan Muhammad Isa

Pada tema sebelumnya, kita sudah mengetahui kehidupan berasal dari adanya air, kemudian muncul mikroba bersel tunggal dan dari mikroba ini tumbuh, berubah, dan berkembang dengan hukum-hukum tasbih, zauj, dan perlawanan.

Berdasarkan penelitian, hewan muncul dari air dan berevolusi sejak 500-600 juta tahun yang lalu atau penelitian terakhir melalui studi molekuler sejak 850 juta tahun yang lalu berdasarkan fosil-fosil yang ditemukan di bawah laut daerah Antartika dan Kutub Utara saat ini.

Jadi, kalau kita pelajari, mikroba awal bersel tunggal inilah yang melahirkan cikal bakal dunia tumbuhan dan hewan. Sebab waktu kemunculannya berdasarkan sains saling berdekatan. Hal ini akan disempurnakan oleh sains, yang jelas semuanya berasal dari air.

Sekarang kita lihat informasi al-Qur’an:

وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِّن مَّاءٍ ۖ فَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَىٰ بَطْنِهِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَىٰ رِجْلَيْنِ وَمِنْهُم مَّن يَمْشِي عَلَىٰ أَرْبَعٍ ۚ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari mereka berjalan di atas perutnya, dan sebagian dari mereka berjalan dengan dua kaki, dan sebagian dari mereka dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki Allah Maha Kuasa atas setiap sesuatu.” (An-Nur: 45)

Ayat di atas menyatakan semua jenis dabbah di muka bumi ini berasal dari air, kemudian berevolusi sesuai hukum-hukum hidup dan kehidupan (tasbih, zauj, dan perlawanan). Dari ayat ini juga kita dapat memahami bahwa evolusi hewan mengalami perubahan bentuk dan ada yang musnah. Misalnya zaman dinosaurus, jenis burung tidak mengalami kepunahan akibat dampak asteroid dan aktivitas vulkanik dan sekarang berevolusi menjadi burung-burung hingga saat ini.

Kepunahan ini terjadi sekitar 66 juta tahun yang lalu sedangkan manusia purba berdasarkan penelitian ditemukan sekitar 2,5 sampai 3 juta tahun yang lalu. Dengan perkataan lain, penciptaan manusia muncul setelah alam ini mengalami evolusi yang panjang.

Sekedar pengetahuan bersama, ada beberapa istilah proses kehidupan berdasarkan fasenya:

  1. Arkeozoikum: belum ada tanda-tanda kehidupan, kondisi bumi masih berupa gas yang mengandung panas yang tinggi. (Apakah jin pada masa ini?)
  2. Paleozoikum: kondisi bumi mulai membaik dan muncul makhluk sederhana bersel satu dan tumbuhan.
  3. Mesozoikum: muncul binatang berukuran besar. (dinosaurus dan lain-lain)
  4. Neozoikum: masa kehidupan muda yaitu muncul binatang jenis mamalia bersamaan hilangnya dinosaurus. Zaman munculnya binatang mamalia ini disebut zaman Neozoikum Tersier. Kemudian muncul zaman Neozoikum Kuarter yaitu ditemukannya fosil-fosil manusia purba.

Jadi, dengan rentang waktu yang panjang kita tidak bisa membayangkan bentuk hewan yang ada pada hari ini sama dan serupa bentuknya dengan hewan ratusan juta tahun yang lalu. Dengan perkataan lain, Allah tidak menciptakan kuda atau gajah yang ada pada hari ini melalui “sim salabim” pada masa lalu. Tapi semua itu melalui proses hukum-hukum perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan yang dimulai dari sel tunggal.

Sampai di sini kita sudah dapat membayangkan bahwa kehidupan dunia hewan tidak/makhluk hidup berkembang sejalan atau tidak berjauhan dengan dunia tumbuhan atau tanaman-tanaman yang ada di bumi.

Tanaman atau pohon yang ada inilah disebut al-Qur’an sebagai “jannah” sebagaimana ayat sebelumnya yang sudah kita bahas:

وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوشَاتٍ

“Dialah yang membentuk jannah (tanaman)…” (Al-An’am: 141)

Dengan perkataan lain, yang dimaksud “jannah” di sinilah daerah-daerah yang ditumbuhi pohon, savana, ataupun hutan-hutan tropis yang dipenuhi buah-buahan yang dapat dimakan oleh makhluk hidup. Inilah jannah yang ditempati oleh Adam nanti yang akan kita bahas pada tema selanjutnya.

Jadi, untuk memahami bagaimana kejadian atau peristiwa yang sebenarnya atau senyatanya, tidak cukup hanya membaca al-Qur’an atau terjemahannya, tapi harus membuat penjelasan secara timeline atau linimasa, yaitu suatu urutan kronologis dalam bentuk garis waktu. Garis waktu ini dapat kita gambarkan dengan menampilkan kejadian senyatanya pada periode waktu tertentu sesuai urutan.

Dalam kehidupan sehari-hari, timeline ini bisa direpresentasikan secara visual, misalnya  adanya kegiatan-kegiatan proyek dibuatkan timeline dari awal hingga akhir, bahkan dampak-dampaknya setelah itu.

Dalam konteks al-Qur’an, timeline inilah yang disebut takwil yaitu kronologis yang jelas hingga masalah atau kejadian bisa dipahami. Istilah ini dicontohkan Allah sebagaimana kisah Nabi Musa yang tidak sabar menilai suatu kejadian yang dialaminya bersama “orang berilmu” (Nabi Khidir?). Kemudian orang berilmu tersebut menjelaskan urutannya yang benar sesuai kenyataan. Kisah ini dimuat dalam surat al-Kahfi ayat 61-82. setelah menjelaskan sebab akibatnya secara runut atau timeline, kemudian dia berkata kepada Musa:

وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا

“Dan tidaklah aku melakukan ini berdasarkan kemauanku. Itulah takwil yang kau tidak mampu bersabar terhadapnya.” (Al-Kahfi: 82)

Dengan demikian, atas sesuatu yang kita belum paham secara jelas bentuk timeline-nya, kita jangan buru-buru menetapkan atau mengambil keputusan yang final.

Namun ada juga argumen bahwa kita tidak boleh melakukan takwil dengan membuat timeline karena hanya Allah yang tahu tentang takwil berdasarkan Ali ‘Imran: 7.

Jika hanya Allah yang tahu, tidak ada jalan lain bagi kita harus menanyakannya pada Allah melalui bekas atau tanda atau simbol atau ayat-ayat yang ditinggalkannya yaitu al-Qur’an dan alam semesta.

Artinya dalam membuat takwil, kita harus meyakini dulu yang kita buat bukanlah “kebenaran akhir” tapi merupakan proses yang terus berlanjut. Proses yang terus berlanjut inilah yang kita kenal sebagai tadabbur yaitu sejenis mentoring dan evaluasi.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Tidakkah mereka men-tadabbur al-Qur’an atau qalbu mereka sudah terkunci.” (Muhammad: 24)

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Tidakkah mereka men-tadabbur al-Qur’an? Sekiranya (al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pasti di dalamnya banyak yang bertentangan.” (An-Nisa: 82)

Jadi, tadabbur adalah monitoring dan evaluasi terhadap pemikiran, tindakan, dan penilaian kita untuk menuju kebenaran yang senyatanya.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *