Tema 65: Asal-Usul Munculnya Kehidupan

oleh Iswan Muhammad Isa

Berdasarkan al-Anbiya’: 30, secara umum dikatakan bahwa segala sesuatu yang hidup berasal dari air. Pertanyaannya: dari mana air itu berasal?

Kita telah tahu bahwa berdasarkan Hud: 7, ‘arasy ada pada air (عرشه على الماء). Hal ini menunjukkan bahwa asal muasal air bukan berasal dari bumi ini tapi dia berasal dari luar bumi. Hal ini dapat kita lihat misalnya pada ayat:

وَالَّذِي نَزَّلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَنشَرْنَا بِهِ بَلْدَةً مَّيْتًا ۚ كَذَٰلِكَ تُخْرَجُونَ

“Yang munurunkan air dari langit dengan suatu ukuran, lalu dengan air itu kami menghidupkan negeri yang mati. Seperti itulah kamu akan dikeluarkan.” (Az-Zukhruf: 11)

وَأَنزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ

“Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi dan sesungguhnya Kami Maha Kuasa melenyapkannya.” (Al-Mu’minun: 18)

Dari ayat di atas sangat jelas asal muasal air bukanlah berasal dari bumi ini tapi berasal dari luar bumi. Hal ini juga dibuktikan oleh penelitian sains bahwa air dibawa oleh komet dan asteroid yang menabrak bumi miliaran tahun yang lalu.

Secara umum kita bisa menyebut air dengan sebutan al-ma’ (الماء) tapi berdasarkan ayat di atas hujan juga digunakan kata al-ma’. Ada beberapa istilah air yang turun dari langit:

1. Ma’ (الماء)

Kata ini digunakan juga dalam makna hujan dalam arti adanya air yang turun dari langit.

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً ۖ لَّكُم مِّنْهُ شَرَابٌ وَمِنْهُ شَجَرٌ فِيهِ تُسِيمُونَ

“Dialah yang menurunkan hujan (air) dari langit untuk kamu. Sebagiannya menjadi minuman dan sebagiannya untuk pohon dan dengannya kamu mengembalakan ternakmu.” (An-Nahl: 10)

2. Wadaq (الودق)

Adalah istilah air hujan yang keluar dari celah awan.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يُزْجِي سَحَابًا ثُمَّ يُؤَلِّفُ بَيْنَهُ ثُمَّ يَجْعَلُهُ رُكَامًا فَتَرَى الْوَدْقَ يَخْرُجُ مِنْ خِلَالِهِ

“Tidakkah engkau melihat bahwa sesungguhnya Allah mengarahkan awan secara perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu menjadikannya bertumpuk-tumpuk. Maka engkau melihat hujan (al-wadaq) keluar dari celah-celahnya.” (An-Nur: 43)

3. Mathar (المطر)

Istilah mathar dalam al-Qur’an biasanya digunakan dalam konteks adanya azab.

وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِم مَّطَرًا ۖ فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنذَرِينَ

“Kami hujani mereka. Betapa buruk hujan yang menimpa mereka orang-orang yang diberi peringatan.” (Asy-Syu’ara: 173)

4. Gaits (الغيث)

Hujan yang turun yang membawa rahmat.

وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِن بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ

“Dialah yang menurunkan hujan (al-ghaits) setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dialah pelindung yang terpuji.” (Asy-Syura: 28) 

5. Sama’ (السماء)

Hujan yang sangat deras tanpa henti.

يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا

“Dia mengirim hujan kepadamu dengan lebat.” (Nuh: 11)

Jadi, dari air inilah pertama kali muncul kehidupan yang berdasarkan sains dimulai dari laut dalam bentuk mikroba bersel tunggal. Dari mikroba bersel tunggal inilah muncul tumbuhan dalam bentuk lumut yang biasa disebut Gangga laut, atau sebutan lainnya. dengan demikian dapat kita katakan semuanya muncul berawal dari laut, kemudian menyebar ke darat. Bagaimana proses dan urutannya, kita serahkan pada hasil penelitian para ahli. Tapi yang jelas, bermula dari sel tunggal yang dalam al-Qur’an disebut nafs wahidah (نفس واحدة).

Sampai di sini, secara qur’ani dan sains sudah dibuktikan bahwa kehidupan bukan disebabkan adanya ruh tapi disebabkan oleh adanya air. Tapi masih saja kita mendengar ajaran-ajaran yang mengaitkan adanya kehidupan berasal dari ruh.

Tanaman yang ada di darat pun, berdasarkan penelitian sains berasal dari laut yang kemudian merambat ke darat. Berdasarkan hukum-hukum evolusi (pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan) tanaman yang merambat ini berevolusi menjadi tegak.

وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ

“Dialah yang membentuk tanaman-tanaman (جنات) yang merambat dan yang lainnya tidak merambat, pohon kurma (النخل), tanaman yang berbeda-beda rasanya, serta Zaitun dan Delima (الرمان), yang serupa dan tidak serupa.” (Al-An’am: 141)

Jadi eksistensi adanya hidup dan kehidupan ini semuanya hasil evolusi melalui hukum-hukum pertumbuhan perubahan dan perkembangan yang disebut “halik” (هالك) pada al-Qashash: 88. Hukum evolusi ini ada yang mengarah pada perubahan bentuk dan ada yang mengarah pada penyempurnaan bentuk melalui hukum-hukum keseimbangan.

Secara umum hukum-hukum gerak revolusi atau sesuatu ini dikenal dengan konsep tasbih (تسبيح) yang dalam bentuk gerak tiada henti yang semuanya bertumpu atau tunduk pada hukum-hukum qadha yang telah ditetapkan Ahad pada masa ruang pra penciptaan.

Dari apa yang pernah kita bahas, kita dapat membagi ada tiga bentuk dasar hukum-hukum gerak yang menyebabkan adanya perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan:

1. Hukum Tasbih Material

Yaitu hukum gerak secara terus-menerus yang menyebabkan adanya perubahan, baik secara internal maupun eksternal, baik dari satu bentuk menjadi bentuk yang lain, dari satu keadaan menjadi keadaan lain. Misalnya dapat kita lihat pada al-Hasyr: 24, Yasin: 40, dan lain-lain.

2. Hukum Berpasangan (Zauj)

Hukum ini membuat sesuatu menuju keseimbangan, mampu beradaptasi untuk menuju kondisi stabil. Dalam hukum ini digunakan kata zauj yang memiliki makna awal “perbandingan antara satu dengan yang lainnya yang memiliki hubungan tertentu.”

Hukum zauj ini berlaku untuk segala sesuatu. Hal ini dapat kita lihat pada adz-Dzariyat: 49 (menciptakan segala sesuatu berpasangan), Yasin: 36, dan lain-lain.

3. Hukum Perlawanan

Hukum ini menyebabkan adanya kondisi saling melemahkan atau meniadakan. Hukum ini terdapat juga dalam wujud pemikiran manusia al-Isra’: 86 dan al-Kahfi: 54.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *