Pada pelajaran sebelumnya kita sudah memahami bahwa ayat pada Fussilat: 13 juga diperuntukkan bagi makhluk Jin. Pertanyaannya: apakah jin juga diwajibkan mengikuti al-Quran?
Sekarang mari kita lihat terjemahan al-Ahqaf: 29-32.
Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan al-Qur’an, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. (29) Mereka berkata: “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (al-Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (30) Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih. (31) Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (32)
Dari ayat di atas untuk sementara dapat kita katakan bahwa Jin diperintahkan Allah untuk mendengarkan al-Qur’an dan para pembesar jin atau juru dakwahnya menyuruh kaum Jin agar mengikuti al-Qur’an.
Yang menjadi pertanyaan, dalam al-Baqarah: 185 disebutkan bahwa al-Qur’an diturunkan untuk manusia yang disampaikan kepada Rasulullah, bukan untuk jin.
Siapa Jin sebenarnya? secara penciptaan jelas berbeda: manusia dari tanah dan jin dari api.
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
“Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (Al-A’raf: 12)
Bagaimana jenis apinya dapat dilihat pada ayat berikut:
وَخَلَقَ الْجَانَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ
“Dan Dia menciptakan jin dari nyala api.” (Ar-Rahman: 15)
وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِن قَبْلُ مِن نَّارِ السَّمُومِ
“Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (Al-Hijr: 27)
Dari ayat ini, kita dapat menyimpulkan sebelum terciptanya kelompok Adam sudah ada kelompok Jin yang bahan penciptaannya dari hawa panas api yang tidak berasap.
Secara fungsi, Jin memiliki perangkat kesadaran sebagaimana manusia. Hal ini dapat kita lihat pada firman Allah:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, dan mereka mempunyai mata tidak dipergunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tidak dipergunakannya untuk mendengar.” (Al-A’raf: 179)
Oleh sebab itu, Jin memiliki keterampilan dan ilmu pengetahuan sebagaimana manusia.
وَالشَّيَاطِينَ كُلَّ بَنَّاءٍ وَغَوَّاصٍ ﴿٣٧﴾ وَآخَرِينَ مُقَرَّنِينَ فِي الْأَصْفَادِ ﴿٣٨﴾
“Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) syaitan-syaitan semuanya ahli bangunan dan penyelam, dan syaitan yang lain yang terikat dalam belenggu.” (Shad: 37-38)
Ayat di atas menyatakan jin-jin itu (kita telah mempelajari arti dan makna “syaithan”) ada yang ahli bangunan dan ada yang ahli menyelam. Jin-jin ini tidak terikat pada suatu tempat atau wilayah. Tapi, berdasarkan ayat di atas ada juga kelompok Jin yang terikat pada suatu tempat atau wilayah tertentu. Jin inilah yang di dalam keyakinan masyarakat disebut “Qarin”.
Qorin sebenarnya lebih tepat kita maknai “tempat bercokol” atau “menetap”. Makna ini dapat kita lihat pada ayat berikut:
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَـٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran ar-Rahman, kami adakan baginya syaithan maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az-Zukhruf: 36)
Jadi, dalam pikiran kita selalu ada pemikiran syaithani yang merupakan lawan dari ilmu pengetahuan atau pemikiran Rahmani.
Kembali pada eksistensi jin. Jadi, sebelum budaya dan ilmu pengetahuan berkembang terlebih dahulu ada “dunia jin” yang telah maju pemikirannya. Permasalahannya, siapa utusan atau Rasul dari bangsa jin?
Mari kita pelajari ayat berikut:
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَـٰذَا
“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini?” (Al-An’am: 130)
Jadi, sebelum penciptaan Adam sudah ada masyarakat Jin yang memiliki kebudayaan, sains, dan teknologi serta memiliki rasul-rasul dari masyarakat jin itu sendiri
Bagaimana hubungannya dengan al-Quran yang dibawa Nabi SAW? Mari kita cermati ayat-ayat ini:
Dan sesungguhnya kami telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api, (8)
Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu untuk mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang barangsiapa yang (mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah api yang mengintai (untuk membakarnya). (9)
Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui (dengan adanya penjagaan itu) apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang yang di bumi ataukah Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka. (10)
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada (pula) yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (11)
Dan sesungguhnya kami mengetahui bahwa kami sekali-kali tidak akan dapat melepaskan diri (dari kekuasaan) Allah di muka bumi dan sekali-kali tidak (pula) dapat melepaskan diri (daripada)Nya dengan lari. (12)
Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. (13)
Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. (14)