Tema 59: Qadha Amar

oleh Iswan Muhammad Isa

Kesadaran makna melalui puncak kesadaran melahirkan gagasan atau ide, tindakan, serta penilaian terhadap Amar. Dalam konteks inilah Ahad melakukan intervensi terhadap Amar dengan menetapkan Qadha.

Qadha dalam al-Qur’an memiliki berbagai arti:

Menginformasikan

وَقَضَيْنَا إِلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ فِي الْكِتَابِ لَتُفْسِدُنَّ فِي الْأَرْضِ مَرَّتَيْنِ وَلَتَعْلُنَّ عُلُوًّا كَبِيرًا

“Kami informasikan kepada bani Israil di dalam Kitab: Kamu akan berbuat kerusakan di bumi ini 2 kali dan akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” (Al-Isra: 4)

Memerintahkan

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia, dan berbuat baik kepada kedua orang tua.” (Al-Isra: 23)

Mengakhiri sesuatu

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila shalat telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di muka bumi.” (Al-Jumu’ah: 10)

Mematikan

فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ

“Musa lalu meninjunya maka matilah.” (Al-Qashash: 15)

Qadha dalam arti yang kita diskusikan adalah ketetapan Ahad yang bersifat riil dan material, yakni ketetapan berupa hukum-hukum wujud objektif pada Amar. Ketetapan ini terjadi pada masa pra-penciptaan, ketika langit dan bumi yang baru sebagaimana kita saksikan pada masa penciptaan ini belum ada dan belum terbentuk. Dengan perkataan lain, pada masa pra-penciptaan, konsep langit dan bumi sudah ada, namun bentuknya tidak seperti langit dan bumi saat ini. Hal ini dapat kita lihat dalam firman Allah:

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا

“Tidakkah orang kafir itu tahu bahwa tadinya langit dan bumi itu ratqan (bersatu) kemudian kami fataqa (pisahkan).” (Al-Anbiya: 30)

Ayat di atas menjelaskan bahwa sebelum langit dan bumi yang ada pada masa penciptaan saat ini, langit dan bumi sudah ada dalam bentuk lain yang dalam al-Qur’an disebut ratqan (رتقا). Bentuk ratqan ini berasal dari entitas-entitas otonom sebagai bahan dasar pembentuk yang telah disebutkan sejak awal. Entitas otonom inilah yang dalam al-Qur’an disebut sebagai Amar.

Dengan demikian, Ahad melakukan Qadha, yaitu ketetapan hukum-hukum wujud yang riil terhadap Amar, sehingga terbentuklah langit dan bumi yang kita kenal saat ini. Hal ini diinformasikan dalam al-Qur’an sebagaimana firman-Nya:

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ

“Dibentuk langit bumi yang baru ketika (Ha) ber-Qaul kepadanya (Amar) Kun Fayakun.” (Al-Baqarah: 117)

Amar (أمر) memiliki makna sebagai “sesuatu” yang menjadi penyebab atau sebab awal dari rangkaian atau peristiwa selanjutnya yang diharapkan terjadi. Dalam pengertian ini, Amar bukan sekadar perintah dalam arti linguistik, melainkan menunjuk pada suatu entitas atau ketetapan awal yang melahirkan konsekuensi keberadaan, peristiwa, atau hukum-hukum wujud yang mengikuti setelahnya.

Makna ini dapat kita lihat pada beberapa ayat:

Yusuf: 18

وَجَاءُوا عَلَىٰ قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ ۚ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

“Mereka datang membawa bajunya (dilumuri) dengan darah palsu. (Yakub) berkata; justru hanya kalian sendirilah yang memandang baik amar itu. Hanya sabarlah yang terbaik (bagiku). Allah sajalah yang dimohon pertolongan terhadap apa yang kamu ceritakan.” (Yusuf: 18)

Maryam: 21

قَالَ كَذَٰلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِن قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا

“Dia (Jibril) berkata; “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu sangat mudah bagiku dan agar Kami menjadikannya sebagai ayat bagi manusia dan rahmat dari Kami.” Amran itulah yg di Qadha.” (Maryam: 21)

Az-Zukhruf: 79

أَمْ أَبْرَمُوا أَمْرًا فَإِنَّا مُبْرِمُونَ

“Bahkan, bukankah mereka telah merencanakan (tipu daya) melalui Amran? Sesungguhnya kami telah berencana juga.” (Az-Zukhruf: 79)

An-Naml: 32

قَالَتْ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي أَمْرِي مَا كُنتُ قَاطِعَةً أَمْرًا حَتَّىٰ تَشْهَدُونِ

“Dia (Balqis) berkata: “Wahai para pembesar, berilah pertimbangan dalam urusanku (أَمْرِي) ini. Aku tidak pernah memutuskan Amar (أَمْرًا) sebelum kalian hadir (dalam majelis).” (An-Naml: 32)

Dari makna dan penggunaan kata Amar (أمر) dalam konteks al-Baqarah: 117, dapat dipahami bahwa yang dimaksud dengan Amar adalah “entitas dasar” pembentuk eksistensi materi, yang bukan (sebatas pengetahuan kita) berupa atom, molekul, atau senyawa ion, melainkan dalam bentuk sesuatu (syai’ / شيء) yang bahkan belum memiliki nama.

Keberadaan sesuatu yang belum memiliki nama ini pada masa pra-penciptaan ditegaskan dalam al-Insān: 1.

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئًا مَّذْكُورًا

“Bukankah telah datang pada manusia suatu momen (حين) yang berasal dari masa lalu yang jauh sebelumnya (الدهر) yang ( pada waktu itu ) belum menjadi syai yang berbentuk (yang belum dapat dikenal yang dapat diberi nama).” (Al-Insan: 1)

Berdasarkan siklus kesadaran, “entitas dasar” yang disebut Amar harus tersusun dari dua atau lebih “entitas dasar.” Berdasarkan sifat-sifat otonom yang dapat kita pahami dari shay’ (sesuatu), maka “entitas dasar” ini mesti memiliki kualitas yang bermuatan positif dan negatif.

Bagaimana proses detailnya berlangsung merupakan ranah kerja sains. Namun, dari capaian pengetahuan manusia hingga hari ini, shay’ awal yang terbentuk dari Amar adalah Hidrogen dan Helium.

Hidrogen juga disebut sebagai “zat cair,” yang membentuk sekitar tiga perempat dari massa alam semesta, sementara seperempat sisanya adalah Helium.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *