Tema 58: Kesadaran (الوعي)

oleh Iswan Muhammad Isa

Kita sudah mendiskusikan pemahaman yang dengan penamaan tersebut muncul ilmu pengetahuan (al-‘ilm). Akumulasi dari seluruh komponen siklus hingga komponen pemahaman inilah yang membentuk kesadaran. Dengan perkataan lain, kesadaran adalah akumulasi yang berkelanjutan atau kumpulan dari keseluruhan komponen siklus yang berkelanjutan yang dimulai dari adanya pertemuan, sentuhan, rasa, pengalaman, pengetahuan, dan pemahaman.

Istilah kesadaran yang dimaksud dapat disetarakan dengan kata al-Wa‘ī (ٱلْوَعْي). Kata ini berasal dari vokal dasar wa-‘a-ya (و ع ي) yang merujuk pada makna “mengumpulkan segala sesuatu yang diketahui dalam satu wadah.” Huruf waw (و) yang terakhir dapat diganti dengan huruf alif, hamzah, atau ya, tergantung wazan/pola kata yang terbentuk dalam kalimat.

Berdasarkan makna dasar inilah turunan/derivasi kata tersebut dapat bermakna karung, menyimpan, atau menjaga.

Makna karung dapat kita lihat pada Yusuf: 76.

فَبَدَأَ بِأَوْعِيَتِهِمْ قَبْلَ وِعَاءِ أَخِيهِ ثُمَّ اسْتَخْرَجَهَا مِن وِعَاءِ أَخِيهِ ۚ كَذَٰلِكَ كِدْنَا لِيُوسُفَ ۖ مَا كَانَ لِيَأْخُذَ أَخَاهُ فِي دِينِ الْمَلِكِ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ

“Maka mulailah dia (memeriksa) karung-karung mereka sebelum ketemu saudara nya sendiri. Kemudian dia mengeluarkan nya dari karung saudara nya. Demikianlah Kami mengatur untuk Yusuf. Dia tidak dapat menghukum saudaranya, menurut hukum raja kecuali Allah menghendaki. kami angkat orang yang kami kehendaki. Dan di atas orang yang memiliki pengetahuan ada Yang Maha Tahu.” (Yusuf: 26)

Dalam makna disimpan atau dijaga dalam penguasaannya:

وَجَمَعَ فَأَوْعَىٰ

“Dan (Dia) mengumpulkannya, kemudian disimpan sambil dijaganya.” (Adz-Dzariyat: 18)

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُوعُونَ

“Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan (di dalam hati).” (Al-Insyiqaq: 22)

Berdasarkan contoh penggunaan vokal dasar wa-‘a-ya (وعي) di atas, dapat kita ketahui bahwa kesadaran meliputi semua hal baik kesadaran fisik maupun non-fisik, kesadaran lahir maupun batin. Jadi, melalui siklus kesadaran pada masa pra-penciptaan, Ahad memiliki kesadaran awal dan akhir tentang apa dan bagaimana entitas Amar: keberadaannya, pertumbuhannya, perkembangan, dan perubahannya, sesuai dengan sifat-sifat otonom pada dirinya yang tidak seimbang dan tidak stabil.

Kesadaran inilah — dengan meminjam istilah literatur — dapat kita sebut sebagai Kesadaran Universal (al-wa‘yu al-kullī), Kesadaran Kosmik (al-wa‘yu al-kawnī), atau Kesadaran Metakosmik (al-wa‘yu al-metakawsmi). Dengan perkataan lain, Ahad adalah dhurwat al-wa‘yi (ذروة الوعي), yaitu Puncak Kesadaran.

Puncak kesadaran ini tidak dapat kita ketahui kecuali diberitahukan oleh Allah, sebab berada di luar kesadaran manusia, berada pada wilayah pra-penciptaan, dan merupakan properti Allah. Sepanjang yang dapat kita pahami, puncak kesadaran ini disebut sebagai Rūḥ, sebagaimana firman Allah pada al-Isrā’ 85.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

“Mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah ruh itu urusan Tuhan Ku, dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan kecuali sedikit.” (Al-Isra: 85)

Dengan puncak kesadaran inilah Ahad memahami pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan Amar, termasuk akan munculnya kehidupan dan entitas abadi dalam prosesnya yang tidak stabil, tidak seimbang, serta mengandung cacat.

Sebagai ilustrasi untuk memahami munculnya entitas hidup dan entitas abadi: kita sebagai subjek yang memiliki kesadaran mengetahui bahwa dari sesuatu yang mati dapat muncul entitas hidup yang kita kenal sebagai ulat. Ulat ini kemudian akan berubah menjadi kepompong, dan selanjutnya hidup kembali dalam bentuk kupu-kupu dengan kehidupan yang berbeda dari kehidupannya ketika masih berupa ulat. Namun, sebagai subjek yang sadar kita juga mengetahui bahwa tidak semua ulat mengalami kehidupan lain dalam bentuk kupu-kupu.

Demikian pula hanya Ahad sebagai subjek dengan puncak kesadaran yang sepenuhnya memahami bahwa entitas Amar akan tumbuh, berkembang, dan berubah sesuai dengan sifat-sifat otonom yang ada pada dirinya. Hal inilah yang menimbulkan makna pada subjek Ahad terhadap Amar.

Pengertian Makna:

Makna adalah gagasan atau ide, tindakan, dan penilaian yang ingin disampaikan, tindakan yang ingin dilakukan, serta penilaian yang ingin diberikan terhadap objek atau tanda. Oleh sebab itu, al-Qur’an berulang kali menegaskan agar manusia selalu memperhatikan tanda.

Ide, tindakan, dan penilaian muncul sebagai konsekuensi logis dari siklus kesadaran terhadap objek atau tanda. Makna inilah yang memengaruhi ide, tindakan, dan penilaian pada subjek sadar, sekaligus menentukan bagaimana ia menggunakannya untuk berkomunikasi.

Secara umum, dengan meminjam ilmu tanda, makna dapat dipahami sebagai konsep yang dimiliki atau yang terdapat pada suatu tanda atau objek tanda. Dengan konsep tersebut, tanda dapat dianalisis, diprediksi, dan dinilai.

Perubahan Makna pada Objek Tanda:

1. Perluasan dan penyempitan.

Sebagai objek tanda yang tidak stabil dan tidak seimbang, tanda dapat meluas dan menyempit.

Perluasan: kata kepala meluas menjadi pemimpin atau ketua.

Penyempitan: kata ulama yang awalnya merujuk pada semua orang yang memiliki ilmu pengetahuan, menyempit menjadi sosok dengan ilmu dan ciri-ciri tertentu.

2. Ameliorasi.

Tanda yang bentuknya baru dianggap lebih baik dari tanda sebelumnya.

Contoh: kata wanita dianggap lebih baik daripada kata perempuan atau betina.

3. Pejorasi.

Tanda bernilai lebih rendah dari makna semula.

Contoh: kata tuli awalnya netral, kemudian dianggap bernilai rendah. Untuk menaikkan nilainya diganti dengan tuna rungu; demikian juga babu yang kemudian diganti dengan ART.

4. Asosiasi.
Perubahan makna dapat terjadi karena adanya ikatan atau kesamaan sifat.

Sebatas yang dapat kita pahami saat ini, berdasarkan siklus kesadaran, makna Ahad melakukan Qadha terhadap Amar sebagaimana dinyatakan dalam al-Baqarah: 117.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *