Pengetahuan adalah akumulasi dari pertemuan, sentuhan, rasa, dan pengalaman sebagaimana telah didiskusikan sebelumnya. Pengetahuan (ma‘rifah / مَعْرِفَة) adalah sesuatu yang diketahui berdasarkan pengalaman subjek itu sendiri, dan pengetahuan akan bertambah sesuai dengan proses pengalaman yang dialami subjek dalam bentuk siklus.
Dalam ruang/masa pra penciptaan, Ahad meliputi segala sesuatu (Amar). Maka, Ahad sebagai subjek memiliki seluruh pengetahuan tentang karakter, sifat, dan perilaku dari objek, baik yang zahir maupun batin.
Pengetahuan (ma‘rifah / مَعْرِفَة) yang berasal dari akar kata ع ر ف ini dapat kita lihat pada at-Tahrim: 3.
وَإِذْ أَسَرَّ النَّبِيُّ إِلَىٰ بَعْضِ أَزْوَاجِهِ حَدِيثًا فَلَمَّا نَبَّأَتْ بِهِ وَأَظْهَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ عَرَّفَ بَعْضَهُ وَأَعْرَضَ عَن بَعْضٍ
“Ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia suatu peristiwa kepada salah seorang istrinya (Hafsah). Kemudian, ketika (Hafsah) membicarakan kepada (Aisyah) dan Allah memberitahukan nya kepada (Nabi).”
Pengetahuan juga menjadi dasar awal dalam membentuk suatu tindakan (af‘āl) sebagai hasil atau tindak lanjut dari penginderaan terhadap segala sesuatu yang telah terjadi dan dilewati berdasarkan pengalaman. Dengan perkataan lain, pengetahuan dapat diperoleh melalui tanda-tanda yang diindrai, karakter atau sifat yang dilihat (bentuk), yang didengar (suara), serta yang dirasakan dari objek yang diketahui oleh subjek.
Pengetahuan yang diperoleh dari tanda-tanda ini dapat kita lihat dalam firman Allah:
وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّا بِسِيمَاهُمْ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَلَسْتُمْ مَعَنَا قَالُوا۟ بَلَىٰ وَلَٰكِن لَّبِثْتُمْ مِن قَبْلُ مَا لَقِيتُمْ ٱلسَّاعَةَ فَبَغَيْنَا
“Di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas pemisah dan di atas tempat tertinggi (الأعراف) ada orang-orang yang saling mengenal dengan tanda-tandanya masing-masing. Mereka menyeru para penghuni surga ‘salam alaikum’. Mereka belum dapat memasukinya, padahal mereka sangat ingin.” (Al-A’raf: 46)
Berdasarkan makna umum, pengetahuan yang terambil dari huruf ع ر ف secara derivatif memiliki berbagai makna seperti mengenal, mengetahui, cara yang baik, mengaku, dan tempat yang paling tinggi sebagaimana pada kata al-A‘rāf.
Makna mengenal dapat dilihat dalam firman-Nya:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (Al-Hujurat: 13)
Makna “mengetahui” dapat kita lihat dalam firman-Nya:
وَإِذَا سَمِعُوا مَا أُنزِلَ إِلَى الرَّسُولِ تَرَىٰ أَعْيُنَهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ مِمَّا عَرَفُوا مِنَ الْحَقِّ ۖ يَقُولُونَ رَبَّنَا آمَنَّا فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ
“Apabila mereka mendengar sesuatu yang diturunkan kepada Rasul, engkau melihat mata mereka bercucuran air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (مَعْرِفَةٌ), mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, Kami telah beriman. Maka catatlah Kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.” (Al-Ma’idah: 83)
Makna “cara yang baik”:
فَمَنۡ عُفِيَ لَهُ مِنۡ أَخِيهِ شَيۡءٞ فَٱتِّبَاعُۢ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَأَدَآءٌ إِلَيۡهِ بِإِحۡسَٰنٖۗ
“Barang siapa memperoleh maaf dari saudaranya, hendaklah dia mengikutinya dengan cara yang baik, dan membayar diyat (tebusan) kepadanya dengan baik.” (Al-Baqarah: 178)
Makna “mengakui”:
فَاعْتَرَفُوا بِذَنبِهِمْ
“Maka mereka mengakui.” (Al-Mulk: 11)
Dalam konteks ruang/masa pra penciptaan, pengetahuan Ahad meliputi seluruh arti dan makna pengetahuan terhadap objek amar. Dengan perkataan lain, Ahad berdasarkan pengetahuan melalui siklus memiliki potensi untuk mengenal, mengetahui, melakukan cara yang terbaik, serta mengakui adanya sifat-sifat otonom pada amar. Sifat-sifat otonom pada amar ini mengandung aspek abadi yang tidak dapat dihilangkan, baik pada masa pra penciptaan, masa penciptaan, maupun masa pasca penciptaan. Ia hanya dapat “dikendalikan” dalam arti dilakukan “perbaikan” tanpa menghilangkan sifat-sifat otonom pada dirinya. Perbaikan inilah yang nantinya dilakukan pada masa penciptaan.
Kumpulan Pengetahuan (al-ma‘rifah) menghasilkan apa yang kita kenal dengan Ilmu Pengetahuan (al-‘ilm). Ilmu Pengetahuan adalah pengetahuan dalam bentuk pengalaman-pengalaman yang diproses dengan cara tertentu sehingga dapat menjelaskan dan memprediksi fenomena-fenomena serta memberikan bukti-bukti yang bisa diuji.
Sebagai khalifah pada masa penciptaan, untuk memperoleh pengetahuan dan ilmu pengetahuan sebagaimana yang terjadi pada masa pra penciptaan baik pada Ahad maupun amar, manusia juga diperintahkan untuk melakukan pengamatan dalam bentuk pengalaman-pengalaman sehingga memperoleh ilmu pengetahuan. Misalnya firman Allah:
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ ﴿٢٠﴾ وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ ﴿٢١﴾
“Dalam alam semesta ini tanda-tanda bagi orang yang yakin, mengapa tidak kamu lakukan pengamatan.” (Adz-Dzariyat: 20-21)
Penguasaan terhadap pengetahuan dan ilmu pengetahuan inilah yang melahirkan pemahaman tentang segala sesuatu: mengenai asal-usulnya, bagaimana prosesnya, dan memprediksi bagaimana kelanjutannya.
Oleh sebab itu, untuk membangun ilmu pengetahuan Qur’ani kita juga diperintahkan agar melakukan iqra’, tartil, tadabbur, dan membangun ta’wil sehingga memperoleh pemahaman yang utuh.