Tema 55: Rasa/Perasaan

oleh Iswan Muhammad Isa

Sebelumnya telah disampaikan bahwa pertemuan pada masa pra-penciptaan bukanlah sesuatu yang diinginkan atau direncanakan, tetapi merupakan konsekuensi logis dari kriteria dan potensi antara Ahad dan Amar. Selain itu, diketahui juga bahwa sentuhan menimbulkan reaksi atau adanya hubungan timbal balik serta munculnya sifat-sifat “positif” pada Amar dalam bentuk sensasi atau getaran haptic.

Haptic inilah yang dapat kita pahami sebagai rasa/perasaan yang membentuk “cikal bakal pemikiran” karena menyerap data-data yang diperoleh. Hal ini terjadi baik pada Ahad maupun Amar dalam bentuk yang sesuai dengan kapasitas masing-masing melalui “operasi mental”. Dalam bentuk haptic, yaitu rasa/perasaan berupa getaran yang dapat diketahui dan dirasakan, baik yang terjadi pada dirinya sendiri maupun di luar dirinya.

Dalam al-Qur’an, rasa/perasaan ini secara umum disebut al-masya‘ir (المشاعر) yang terambil dari komponen huruf ش–ع–ر. Secara umum, kata ini merujuk pada makna sesuatu yang dapat diketahui karena adanya sentuhan atau tanda-tanda yang dapat disadari/dipahami, baik melalui pengetahuan maupun indera adi. Hal ini dapat kita lihat dalam al-Qur’an:

وَلَا تَقُولُوا لِمَن يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَـٰكِن لَّا تَشْعُرُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang yang gugur di jalan Allah itu mati, tapi mereka hidup; tapi kamu tidak merasakan.” (Al-Baqarah: 154)

Rasa/perasaan adalah kata sifat yang menggambarkan keadaan emosional atau fisik. Ketika subjek merasa, itu berarti subjek sedang mengalami atau mencerminkan keadaan tertentu yang bisa bersifat “positif” atau “negatif”. Misalnya, subjek dapat merasa bahagia, sedih, marah, atau merasakan tekanan dan beban.

Proses merasa sangat terkait dengan pikiran dan persepsi subjek tentang dunia atau ruang di sekitarnya. Merasa juga erat hubungannya dengan sensasi fisik, seperti merasakan sakit atau kenyamanan. Dalam konteks psikologi, misalnya, kita mengenal konsep kesehatan mental dan emosional. Rasa empati—yakni kemampuan untuk merasakan apa yang dialami orang lain—juga merupakan aspek penting dari pengertian ini. Dengan demikian, rasa/perasaan adalah bagian integral dari pengalaman yang membantu manusia memahami diri sendiri maupun pihak di luar dirinya.

Berbagai rasa/perasaan inilah yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an. Hal ini dapat kita lihat, misalnya:

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَىٰ مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ ۖ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنصَارُ اللَّهِ آمَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Ketika Isa merasakan (أحس) kekufuran mereka (Bani Israel), dia berkata: “Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk Allah?” Para Hawari menjawab: “Kamilah penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim.” (Ali ‘Imran: 52)

Pada ayat di atas, rasa/perasaan yang dirasakan oleh Isa AS dipergunakan kata ihsās (إحساس) yang makna dasarnya merujuk pada perasaan lembut dan kasih sayang. Dalam bahasa modern, kata ini dapat kita sejajarkan dengan istilah “empati”. Namun kata ini (ahassa / أحس) juga dapat digunakan dalam makna kebencian atau adanya beban yang dirasakan.

Jika rasa yang melalui kecapan mulut, seperti pahit, manis, dan sebagainya, digunakan kata nakhah (نَكْهَةٌ).

Jika yang dimaksud adalah perasaan psikologis akibat adanya situasi atau keadaan tertentu yang dihadapi seseorang, digunakan kata shudūr (صُدُور). Misalnya:

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

“Bukan kah telah Kami lapangkan perasaan mu.” (Al-Insyirah: 1)

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي

“Berkata (musa): Wahai Tuhanku, lapangkan lah perasaanku” (Thaha: 25)

Selain itu, ada rasa/perasaan yang diterima karena pemberian, baik dalam makna positif maupun negatif, yang disebut dengan zauq yang terambil dari kata zaqa (زَقَا). Rasa/perasaan ini hanya terjadi pada ruang penciptaan dan pasca penciptaan yang akan kita bahas nanti. Misalnya:

وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا بِهَا ۖ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ

“Dan apabila Kami rasakan (أذقنا) sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira. Tetapi apabila mereka ditimpa suatu musibah karena kesalahan mereka sendiri, seketika itu mereka putus asa.” (Ar-Rum: 36)

فَذُوقُوا بِمَا نَسِيتُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَـٰذَا إِنَّا نَسِينَاكُمْ ۖ وَذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

“Maka rasakanlah (ذوقوا) olehmu disebabkan kamu melupakan akan pertemuan (لقاء) dengan hari mu ini. Sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula). Dan rasakanlah (ذوقوا) siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan.” (As-Sajdah: 14)

Ayat pertama di atas terjadi pada ruang/masa penciptaan, sedangkan ayat kedua menginformasikan kejadian pada ruang/masa pasca penciptaan atau masa depan di alam akhirat.

Dalam Tasawuf, istilah zauq dijelaskan panjang lebar dan secara umum dipahami sebagai kekuatan untuk merasakan sesuatu melalui perasaan batin yang dijadikan alat untuk menangkap pesan-pesan dari Allah tanpa menggunakan panca indera.

Dengan demikian, banyak pakar filsafat dan Tasawuf menyatakan zauq tidak memiliki hubungan dengan akal, melainkan berasal dari rasa/perasaan yang mendalam dalam diri manusia.

Menurut Ibnu Arabi dalam al-Futuhat al-Makkiyyah, zauq adalah awal terbukanya (Tajalli). Dari Tajalli inilah akan lahir:

  • An-Nazariyyah (ilmu dari renungan mendalam).
  • Darbiyyah (ilmu pemberian Tuhan).
  • Rawiyyah (ilmu yang disampaikan Tuhan).
  • Lahziyyah (ilmu yang datang tiba-tiba).

Terlepas dari mana sumbernya, yang paling penting bagi kita adalah apakah pernyataan, kesimpulan, dan hasilnya bertentangan atau tidak dengan pesan dan informasi Allah dalam al-Qur’an.

Dalam konteks siklus, semua bentuk rasa/perasaan ini dialami oleh Ahad dan Amar dalam bentuk yang berbeda, sesuai kapasitas dan kriteria masing-masing entitas pada ruang pra penciptaan.

Siklus rasa/perasaan yang terjadi berulang-ulang inilah yang menimbulkan pengalaman. Apa dan bagaimana pengalaman itu akan kita bahas pada siklus pengalaman.

Catatan:

  • Takhalli (pengosongan diri).
  • Tahalli (pengisian diri).
  • Tajalli (penyaksian kehadiran Allah).

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *