Shad: 1
صّ وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ
Al-Fajr: 10
وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ
Kata ذِي pada ayat di atas menunjukkan fungsi atau sifat dari suatu keberadaan, bukan keberadaan itu sendiri. QS. Shād: 1 bermakna bahwa al-Qur’an mengandung/memiliki az-zikr. QS. al-Fajr: 10 bermakna bahwa Fir‘aun memiliki pilar-pilar. Jadi, al-Qur’an dan az-zikr adalah dua hal yang terpisah, di mana al-Qur’an berfungsi sebagai pemilik atau pengandung az-zikr.
Kita harus membedakan antara:
1. Al-Qur’an yang dapat kita baca, dilantunkan, dan digandakan.
Dalam pengertian ini, al-Qur’an mencakup seluruh wahyu yang dapat di-iqra’, karena berisi bacaan yang menjelaskan sesuatu agar kita mengerti dan memahaminya. Namun, dalam pemahaman ini, manusia bisa saja terjebak dalam pemikiran syaithani. Oleh sebab itu dikatakan:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Apabila kamu membaca Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)
Al-Qur’an dalam pengertian ini bersifat Hadits (baru) dan oleh sebab itu dikatakan:
مَا يَأْتِيهِمْ مِنْ ذِكْرٍ مِنْ رَبِّهِمْ مُحْدَثٍ إِلَّا اسْتَمَعُوهُ وَهُمْ يَلْعَبُونَ
“Tidaklah diturunkan kepada mereka peringatan dari Tuhan mereka dalam bentuk Hadits (baharu), kecuali mereka mendengarkannya sambil bermain-main.” (Al-Anbiya: 2)
Al-Qur’an dalam pengertian ḥadīts — yang dapat kita baca, dilantunkan, dan digandakan — inilah yang disebut sebagai al-Kitāb, dalam bentuk lisān ‘Arabī atau bahasa lisan kaum Nabi SAW.
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan lisan kaumnya agar dia dapat memberikan penjelasan kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dia Maha Perkasa lagi Bijaksana.” (Ibrahim: 4)
Dalam pengertian petunjuk, bacaan yang dapat dilantunkan dan digandakan ini terdiri dari dua jenis atau dua kelompok, yaitu al-Kitāb dan al-Qur’ān.
- Al-Kitāb adalah informasi tentang hukum wujud objektif.
- Al-Qur’ān adalah informasi tentang hukum wujud subjektif.
Dalam konteks satu kesatuan entitas, al-Kitāb dan al-Qur’ān tidak dapat dipisahkan; dengan perkataan lain, al-Qur’ān berada dalam al-Kitāb dalam bentuk kumpulan ayat-ayat. Kumpulan ayat-ayat inilah yang disebut “āyāt kitāb mubīn” dalam bentuk Qur’ānan ‘Arabiyyan (قُرْآنًا عَرَبِيًّا).
الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Alif Lam Ro. Itulah ayat-ayat Kitab mubin. Sesungguhnya Kami menurunkannya dalam bentuk bacaan dalam rumpun/kebangsa arab.” (Yusuf: 1-2)
Jadi, secara filosofis disebut Qur’ānan ‘Arabiyyan (قُرْآنًا عَرَبِيًّا), sedangkan secara teknis disebut Lisānan ‘Arabiyyan (لِسَانًا عَرَبِيًّا).
وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَامًا وَرَحْمَةً وَهَذَا كِتَابٌ مُصَدِّقٌ لِسَانًا عَرَبِيًّا لِيُنْذِرَ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَبُشْرَى لِلْمُحْسِنِينَ
“Dan sebelumnya telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini adalah Kitab yang membenarkannya dalam bentuk Lisanan Arabiyyan untuk memberi peringatan kepada orang-orang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ahqaf: 12)
Menggunakan istilah kalām atau sufistik, lisānan ‘arabiyyan inilah yang tergolong dalam pengertian ḥadīts — yaitu sesuatu yang dapat dibaca, ditulis, atau digandakan, yang diterima Nabi dan kemudian beliau sampaikan secara lisan kepada kaumnya.
Kita sudah mendiskusikan bahwa secara filosofis terdapat dua entitas:
1. Entitas Wujud Subjektif — disebut sebagai Lauh Maḥfūẓ, yang di dalamnya terdapat Qur’ān Majīd.
2. Entitas Wujud Objektif — disebut sebagai Ummul Kitāb.
Lauh Maḥfūẓ dan Ummul Kitāb dalam konteks satu kesatuan entitas disebut sebagai al-Kitāb al-Mubīn.
Agar al-Kitāb al-Mubīn ini dapat dipahami manusia, maka ia dijadikan (al-ja‘al) dalam bentuk Qur’ānan ‘Arabiyyan (قُرْآنًا عَرَبِيًّا), yang secara filosofis disebut Qur’ān Karīm dan berada di dalam Kitāb Maknūn (kitab tersembunyi).
Az-Zukhruf: 1-3
حم ﴿١﴾ وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ ﴿٢﴾ إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴿٣﴾
Menggunakan istilah kalām atau sufistik, Qur’ān Karīm yang berada dalam Kitāb Maknūn inilah yang tergolong Qadīm atau ada yang menyebutnya Azali, yang tidak dapat disentuh.
Dengan pemahaman ini, pertentangan antara Mu‘tazilah yang menganggap al-Qur’an itu ḥadīts (baru/tercipta) dan Jabariyyah yang menganggap al-Qur’an itu Qadīm/Azali dapat diselesaikan.
Proses al-ja‘al dalam bentuk Qur’ānan ‘Arabiyyan terhadap al-Kitāb al-Mubīn (entitas wujud subjektif dan entitas wujud objektif) berlangsung secara subjektif dalam bentuk wujud subjektif berupa kumpulan tema-tema yang juga disebut Ummul Kitāb.
Dengan demikian, ada dua jenis Ummul Kitāb:
- Ummul Kitāb dalam bentuk wujud objektif.
- Ummul Kitāb dalam bentuk wujud subjektif.
Ar-Ra’d: 39
يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
Az-Zukhruf: 1-4
حم وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ
Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa Qur’ānan ‘Arabiyyan adalah hasil proses atau “produk” yang bersumber dari Kesadaran Global/Kesadaran Universal Allah sebagai Entitas Abstrak, yang diwujudkan dalam bentuk wahyu yang dapat kita baca, kita tulis, dan kita lantunkan dalam bentuk lisānan ‘arabiyyan, yang disebut sebagai al-Qur’ān.
Kesadaran Global/Kesadaran Universal inilah yang disebut adz-dzikr (الذِّكْر) yang terdapat di dalam al-Qur’ān. Oleh sebab itu dikatakan:
Shad: 1
ص وَالْقُرْآنِ ذِي الذِّكْرِ
Al-Hijr: 9
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
Yasin: 69
وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ
Jadi, setidaknya ada tiga jenis bahasa Arab:
1. Bahasa Arab Awam — digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Bahasa Arab Akademik — digunakan oleh kaum intelektual dalam ranah keilmuan.
3. Bahasa Qur’ānan ‘Arabiyyan — digunakan di dalam al-Qur’an sebagai bacaan sekaligus sebagai sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan, atau sebagai “tafsir yang paling baik”.
Al-Furqan: 33
وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا