Kita telah mendiskusikan dua jenis kandungan wahyu, yaitu al-Kitab dan al-Qur’an. Sekarang kita akan melihat jenis lainnya, yaitu al-Furqān. Mari kita perhatikan ayat-ayat berikut:
Al-Baqarah: 53
وَإِذْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَالْفُرْقَانَ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Ali ‘Imran: 4
مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ
Al-Anbiya’: 48
وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَىٰ وَهَارُونَ الْفُرْقَانَ وَضِيَاءً وَذِكْرًا لِلْمُتَّقِينَ
Al-Baqarah: 185
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Al-Furqan: 1
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
Al-Anfal: 41
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَىٰ عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ ۗ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Ada dua hal yang sangat jelas dari ayat-ayat di atas, yaitu:
- Al-Furqān berbeda dengan al-Kitāb dan al-Qur’ān.
- Al-Furqān, selain bermakna terpisah atau berbeda, juga berarti bertemu.
Selain itu, kita dapat mengetahui bahwa al-Furqān sebelum diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW pada bulan Ramadhan, terlebih dahulu diturunkan kepada Musa A.S. Dengan kata lain, antara Musa A.S. dan Muhammad SAW terdapat titik temu, yaitu sama-sama menerima pesan al-Furqān.
Sebelum kita menentukan apa itu al-Furqān, mari kita lihat Surah al-Fatihah:
- “Bimbinglah kami ke ash-shirāṭh al-mustaqīm.”
- “Yaitu shirāṭh orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.”
- “Bukan shirāṭh mereka yang dimurkai dan sesat.”
Orang-orang yang dimurkai dan sesat adalah bagian dari orang-orang yang pernah diberikan ash-shirāṭh al-mustaqīm, sebab digunakan kata ghayr (غير), bukan ukhara (أُخَر).
Siapa orang-orang yang pernah diberikan nikmat?
Secara umum, ni‘mat diberikan kepada Bani Israil.
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Hai Bani Israil. ingatlah akan ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada mu dan bahwasanya Aku melebihkan kamu atas segala ummat.” (Al-Baqarah: 47)
Nikmat secara khusus yang diberikan pada individu-individu:
وَلَقَدْ مَنَنَّا عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَارُونَ
“Dan sungguh, Kami melimpahkan ni’mat kepada Musa dan Harun.” (Ash-Shaffat : 114)
Jadi, ash-shirāṭ al-mustaqīm adalah jalan yang pernah diberikan atau diturunkan Allah kepada Bani Israil dan kemudian dilanjutkan oleh Isa A.S.
Karena dalam al-Fatihah kita juga berdoa agar dibimbing menuju ash-shirāṭh al-mustaqīm, maka jalan ini haruslah merupakan “titik temu” antara Musa A.S., Isa A.S., dan Muhammad SAW. Dengan kata lain, pesan yang diturunkan sebagai “titik temu” haruslah pesan-pesan yang tidak berubah, yang bersifat universal bagi umat manusia. Pesan-pesan yang menjadi “titik temu” inilah yang disebut sebagai al-Furqān, yang diberikan kepada Musa A.S., diteruskan oleh Isa A.S. (yang tidak membawa hukum baru), dan terakhir disampaikan kepada Muhammad SAW.
Dengan demikian, ash-shirāṭh al-mustaqīm bukanlah tentang ibadah-ibadah ritual (salat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya), melainkan pesan-pesan yang berlaku umum bagi seluruh umat manusia.
Apa itu ash-shirāṭh al-mustaqīm? Mari kita lihat al-An‘ām: 151–153.
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Al-An’am: 151.
- Jangan mempersekutukan Allah (Syirik).
- Berbuat baik kepada ibu bapak.
- Jangan membunuh anak-anak karena takut miskin.
- Jangan mendekati perbuatan keji.
- Jangan membunuh kecuali dengan dasar yang benar.
وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۖ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۖ وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Al-An’am: 152.
- Jangan mendekati harta anak Yatim, kecuali dengan cara yang paling baik.
- Sempurnakanlah “takaran” (الكيل) dan “timbangan” (الميزان) dengan adil
- Bicara dengan jujur sekalipun itu kerabat mu (واذا قلتم فاعدلوا ولو كان ذا قربى)
- Penuhilah janji Allah
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Al-An’am 153.
- Jangan ikuti jalan-jalan yang akan membuat bercerai dari jalan-Nya. Karena inilah “jalan-Ku yang lurus” (صراطي مستقيما).
Sepuluh perintah Tuhan inilah yang disebut al-Furqān, yang sering dikenal sebagai The Ten Commandments (10 Perintah Allah). Dengan demikian, al-Furqān (10 perintah ini) bukanlah al-Kitāb, karena ia terpisah dari al-Kitāb.
Hal ini dapat kita lihat pada ayat selanjutnya, al-An‘ām: 154.
ثُمَّ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ تَمَامًا عَلَى الَّذِي أَحْسَنَ وَتَفْصِيلًا لِّكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَّعَلَّهُم بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ
“Kemudian Kami berikan kepada Musa al-Kitab untuk menyempurnakan (10 perintah tsb) kepada orang yang berbuat kebaikan; dan memisahkan/menjelaskan segala sesuatu/menjelaskan segala sesuatu sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman/percaya akan adanya pertemuan dengan Tuhannya.” (Al-An’am: 154)
Nabi-nabi lain juga diberikan ash-shirāṭh al-mustaqīm, namun belum selengkap sebagaimana yang diberikan kepada Musa A.S.
Perhatikan al-An’am: 86-87.
وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا ۚ وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ ﴿٨٦﴾ وَمِنْ آبَائِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَإِخْوَانِهِمْ ۖ وَاجْتَبَيْنَاهُمْ وَهَدَيْنَاهُمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿٨٧﴾
“Dan Ismail, Ilyas dan Luth. Masing – masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat lainnya. Dan Kami lebihkan pula derajatnya Sebagian dari nenek moyang mereka dan Saudara-Saudara mereka, Kami telah memilih mereka dan Kami tunjukkan / Kami bimbing mereka ke صراط مستقيم.”
Perhatikan ayat di atas, kata ash-shirāṭh al-mustaqīm tidak menggunakan alif-lām ma‘rifah.
Al-Furqān terdiri dari dua jenis:
1. Al-Furqān secara umum
Yaitu apa yang telah kita bahas, yang diturunkan kepada Musa A.S., dilanjutkan oleh Isa A.S., dan kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
2. Al-Furqān secara khusus
Yaitu yang terdapat dalam Surah al-Furqān.
Al-Furqān secara umum yang diturunkan kepada Musa A.S., kemudian dilanjutkan oleh Isa A.S., dan diperintahkan kepada umat Muhammad SAW untuk mengikutinya, terdapat dalam al-An‘ām: 151–153, yang disebut dengan ash-shirāṭh al-mustaqīm. Oleh sebab itu, dalam salat kita senantiasa meminta petunjuk agar dapat melaksanakan ash-shirāṭh al-mustaqīm.
Namun, pada zaman Nabi Isa A.S., al-Furqān ini mengalami penyimpangan dalam praktiknya, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Karena itu, Allah menurunkan al-Furqān secara khusus kepada Nabi Muhammad SAW.
تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا
“Maha Suci Allah yang telah menurunkan al-Furqan kepada hamba Nya agar bisa menjadi pemberi peringatan bagi orang yang berilmu.” (Al-Furqan: 1)
Kata lil-‘ālamīn (للعالمين) bukan bermakna “alam semesta,” melainkan “bagi mereka yang memiliki ilmu pengetahuan,” karena alam semesta tidak dapat menerima peringatan.
Jika di dalam al-Furqān yang diturunkan kepada Musa A.S. disebutkan secara umum tentang syirik:
قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
Maka dalam al-Furqan Allah lebih menegaskan:
الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
“Yang memiliki kekuasaan langit dan bumi, tidak mengambil anak, tidak ada sekutu dalam kekuasaan-Nya dan menciptakan sesuatu dan menetapkan ukuran dengan tepat.” (Al-Furqan: 2)
Orang-orang yang berilmu (al-‘ālamīn / العالمين) ini disifati Allah sebagai “‘ibād ar-Raḥmān” (عباد الرحمن) — hamba-hamba ar-Rahman.
Siapakah yang dimaksud dengan “hamba ar-Rahman”?
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Adapun hamba ar-Rahman itu adalah orang yang:
- Berjalan dimuka bumi dengan rendah hati dan apabila diceramahi/disapa (dengan hinaan) orang-orang bodoh/jahil mereka hanya mengatakan “salam”. (Al-Furqan: 63)
- Orang yang menghabiskan waktu malam dengan “sujud” dan “berdiri”. (Al-Furqan: 64)
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
- Orang yang berkata: “ya Tuhan Kami, jauhkanlah azab jahannam dari Kami, sesungguhnya azab itu adalah sesuatu yang kekal.” (Al-Furqan: 65)
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا
- Orang yang apabila berinfaq; mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir; di antara keduanya secara wajar. (Al-Furqan: 67)
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
- Tidak Mempersekutukan Allah dengan Tuhan lain.
- Tidak membunuh yang diharamkan Allah dengan alasan yang benar,
- Tidak berzina, barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat. (Al-Furqan: 68)
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا
- Tidak memberikan kesaksian palsu apabila bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan yang tidak berguna, mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya. (Al-Furqan: 72)
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
- Orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak bersikap sebagai orang-orang tuli dan buta. (Al-Furqan : 73)
وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا
- Orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang kami dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Al-Furqan: 74)
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Apakah ar-Raḥmān (الرحمن) itu, sehingga orang berilmu seharusnya tunduk kepada-Nya dan menjadi ‘ibād ar-Raḥmān (عباد الرحمن) agar selamat di dunia dan akhirat? Mari kita lihat ayat-ayat sebelumnya:
Catatan:
- Al-Furqān secara umum yang disebut ash-shirāṭ al-mustaqīm terdiri dari 10 poin.
- Al-Furqān secara khusus juga terdiri dari 10 poin.
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَسَبِّحْ بِحَمْدِهِ ۚ وَكَفَىٰ بِهِ بِذُنُوبِ عِبَادِهِ خَبِيرًا ﴿٥٨﴾ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ الرَّحْمَـٰنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا ﴿٥٩﴾ وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اسْجُدُوا لِلرَّحْمَـٰنِ قَالُوا وَمَا الرَّحْمَـٰنُ أَنَسْجُدُ لِمَا تَأْمُرُنَا وَزَادَهُمْ نُفُورًا ۩ ﴿٦٠﴾ تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَاءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا ﴿٦١﴾ وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ خِلْفَةً لِّمَنْ أَرَادَ أَن يَذَّكَّرَ أَوْ أَرَادَ شُكُورًا ﴿٦٢﴾
“Dan bertawakallah kepada yang hidup yang tidak mati. dan bertasbihlah dengan memujinya. Dan cukuplah Dia mengetahui dosa hamba-hamba-Nya. Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam 6 periode, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arasy. Itulah ar-Rahman (الرحمن), maka tanyakan kepada yang lebih mengetahui/pakar. Dan apabila dikatakan kepada mereka : “Sujudlah kepada ar-Rahman”, mereka menjawab : “Siapakah ar-Rahman, apakah kami harus sujud kepada ar-Rahman yang engkau (Muhammad) perintahkan kami untuk bersujud ?”. Dari mereka menjadi jauh/lari (dari kebenaran). (Maha Suci (Allah) Yang menjadikan gugusan bintang-bintang dan menjadikan matahari (sirajan) dan bulan yang bercahaya. Dan Dia yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang Yang ingin mengambil pelajaran dan bersyukur.” (Al-Furqan: 58-62)
Jadi, ar-Raḥmān adalah wujud objektif yang hidup dan tidak pernah mati. Ia hadir dalam bentuk “dialektika raḥmānī” sebagai simbol atau asmā’ dari Allah, bukan Allah itu sendiri. Oleh sebab itu dikatakan:
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Orang-orang yang tunduk pada “dialektika raḥmānī” inilah yang disebut sebagai ‘ibād ar-Raḥmān (hamba-hamba ar-Raḥmān).