Berdasarkan Ali ‘Imran: 7, kita memahami bahwa ada dua jenis istilah atau konsep yang disebut Allah, yaitu Ayat Muhkamat dan Ayat Mutasyabihat.
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ ۖ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ
“Dialah yang menurunkan al-Kitab, diantara nya ada ayat Muhkamat yang merupakan kan Ummul Kitab (أُمُّ الْكِتَابِ) dan (yang lain) disebut mutasyabihat.” (Ali Imran: 7)
Ummul Kitab adalah kumpulan material objektif dan subjektif yang membentuk berbagai tema tertentu.
1. Kumpulan Material Objektif dari Ummul Kitab inilah yang informasinya disebut al-Kitab, yang terdiri dari ayat-ayat Muhkamat yang ada dalam Kitab Mubin. Kitab Mubin terdiri dari dua jenis, yaitu Kalimatullah dan ayat-ayat.
- Kalimatullah adalah substansi dari wujud alam semesta yang teratur, jelas, pasti, dan tanpa cacat sebagaimana disebutkan dalam al-An‘ām: 115.
- Ayat adalah fenomena atau tanda-tanda material objektif yang dapat dipersepsi atau diabstraksikan, yang hadir dalam semesta ini dan merepresentasikan realitas tertentu.
Ummul Kitab sebagai kumpulan material objektif ini tetap berproses sebagaimana adanya sesuai dengan ketetapan Allah, baik diinformasikan maupun tidak diinformasikan.
Posisinya terpisah dari Lauh Mahfuz yang berisi Qur’an Majid sebagaimana disebutkan dalam ar-Ra‘d: 39.
يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
“Allah menghapus apa yang Dia menetapkan apa yang Dia kehendaki. Disisinya (عنده) terdapat Ummul Kitab. (Ar-Ra’d: 39)
2. Kumpulan Material Subjektif dari Ummul Kitab adalah yang disebut dengan Mutasyabihat (serupa), dalam bentuk surat-surat Muhkamat yang bersumber dari Ummul Kitab lainnya, yaitu yang disebut dengan al-Qur’an.
Ummul Kitab ini, yang kita kenal zahirnya sebagai al-Qur’an, berada dalam sistem al-Kitab al-Mubin (bukan Kitab Mubin) yang posisinya tidak terpisah dari Lauh Mahfuz. Hal ini dapat kita lihat pada az-Zukhruf: 1–4.
حم ﴿١﴾ وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ ﴿٢﴾ إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴿٣﴾ وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ ﴿٤﴾
“Ha Mim. Demi al-Kitab al-Mubin. Sesungguhnya Kami menjadikannya Qur’anan Arabiyyan. Dan sesungguhnya (al-Kitab al-Mubin) itu ada di dalam Ummul Kitab di sisi Kami (لدينا) yang benar-benar tinggi dan bijaksana.” (Az-Zukhruf: 1-4)
Jadi, al-Qur’an yang ada dalam sistem al-Kitab al-Mubin posisinya berbeda dengan al-Kitab yang berisi Kitab Mubin. Dengan perkataan lain, ayat-ayat al-Qur’an dan Kitab Mubin adalah dua hal yang berbeda.
طس ۚ تِلْكَ آيَاتُ الْقُرْآنِ وَكِتَابٍ مُبِينٍ
“Itulah ayat-ayat al-Qur’an dan Kitab Mubin.” (An-Naml: 1)
Al-Kitab al-Mubin inilah yang diturunkan sekaligus pada malam yang penuh berkah, setelah melalui proses al-Ja‘al (الجعل) ke Kitab Maknun melalui Inzal.
حم ﴿١﴾ وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ ﴿٢﴾ إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ ۚ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ ﴿٣﴾
“Ha Mim. Demi al-Kitab al-Mubin. Sesungguh nya Kami telah menurunkannya pada malam yang penuh berkah. Sungguh, Kamilah yang memberi peringatan” (Ad-Dukhan: 1-3)
Kapan malam yang penuh berkah? Ya, Syahru Ramadhan.
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ
Jadi, al-Qur’an adalah informasi yang bersumber dari subjektivitas Allah itu sendiri melalui Lauh Mahfuz, yang di dalamnya terdapat Qur’an Majid dan tidak terpisah dari al-Kitab al-Mubin.
Kata “Syahru Ramadhan” (شَهْرُ رَمَضَانَ) yang dimaksud bukan “qamar Ramadhan,” tetapi bagian atau momen tertentu dari waktu (حِيْنٌ) yang ada dalam abstraksi.
Lauh (لوح) adalah peringkat atau media yang menjadi pusat penyampaian informasi dari entitas abstrak yang disebut Ahad, baik informasi yang bersumber dari subjektivitas maupun objektivitas.
Al-Kitab al-Mubin terdiri dari dua jenis, yaitu Sunnatullah dan Sunnah.
Sunnah (سنة) berasal dari akar kata sa-na-na yang merujuk pada jalan, cara hidup, atau sikap, yang dalam kamus sering diterjemahkan sebagai tharīqah atau sīrah. Jadi, Sunnah adalah sikap subjektif, baik yang berasal dari Allah maupun dari manusia, beserta konsekuensi logisnya.
1. Sikap Subjektif dari Allah (Sunnatullah) tidak pernah berubah.
سُنَّةَ اللَّهِ فِي الَّذِينَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا
“Sebagai Sunnatullah bagi orang-orang terdahulu. Sebelum engkau tidak akan mendapat perubahan pada sunnatullah.” (Al-Ahzab: 62)
2. Sunnah yang berasal dari manusia beserta segenap akibatnya dapat kita lihat pada Fathir: 43:
“Karena kesombongan mereka di bumi dan karena rencana jahat mereka. Rencana yang jahat itu akan menimpa orang yang merencanakannya sendiri. Mereka hanyalah menunggu (konsekuensinya) sebagaimana orang-orang terdahulu (سنة الأولين). Maka kamu tidak akan mendapat perubahan Sunnatullah dan tidak pula penyimpangan bagi Sunnatullah.”
3. Sunnah yang berasal dari Nabi ada dua jenis, yaitu:
- Sunnah yang bersifat Nubuwwat (memerlukan pemikiran).
- Sunnah yang bersifat Risalat (memerlukan tindakan).
يَابُنَيَّ وَذَلِكَ مِنْ سُنَّتِي، وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ
“Hai ananda, inilah sunnah-Ku, Siapa yang menghidupkan sunnahku berarti ia mencintaiku, Barang siapa mencintaiku ia akan bersamaku di Surga.” (Hadits Anas bin Malik dan Imam Tarmizi)
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ
(HR. Malik, al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr dll)
Jadi, ada dua kondisi: menghidupkan sunnah dan mengikuti/memegang Sunnah.