Kita sudah membahas makna ar-Rahman, yaitu hukum-hukum dialektika material:
- Dalam diri sendiri
- Dialektika berpasangan
Kedua hal di atas menyebabkan entitas objektif mengalami perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan, baik pada bentuk material fisik maupun material pikiran. Hukum ini kita sebut objektivitas Allah.
Sedangkan ar-Rahim, sesuai makna teks yaitu halus, lembut, hubungan kekerabatan, dan belas kasih, merujuk pada adanya hubungan entitas subjektif antara Allah dan manusia. Hukum ini kita sebut subjektivitas Allah. Hubungan ini terbangun karena adanya peniupan Ruh.
Melalui hubungan inilah kita memiliki kemampuan dalam material pemikiran untuk memahami asma’ dan ayat Allah.
Hubungan ini berada pada intersection area, yaitu wilayah irisan atau wilayah bersama antara objektivitas Allah dan subjektivitas Allah, atau antara ar-Rahman dan ar-Rahim.

Dari gambar ini kita dapat memahami beberapa hal:
- Adanya wilayah subjektif bersama.
- Adanya wilayah otonomi yang berbeda.
- Dimungkinkan adanya komunikasi dalam bentuk petunjuk subjektif.
- Otonomi pada wilayah ar-Rahman dapat dipengaruhi oleh pemikiran Syaithani.
Jadi, ucapan بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَـٰنِ الرَّحِيمِ bukan sekadar ucapan kosong. Basmalah memiliki dua sisi:
- Ucapan dalam makna memulai suatu perbuatan seperti membaca, berbicara, dan sebagainya.
- Kesadaran kita dalam berpikir, bertindak, dan menilai yang tiada henti. Hal ini kita lakukan karena entitas objektif selalu berada dalam kondisi tumbuh, berubah, dan berkembang.
Kesadaran yang tiada henti inilah yang memposisikan kita secara subjektif berada di wilayah subjektif bersama atau wilayah ruang rujuk, sehingga memungkinkan kita memperoleh petunjuk dari subjektivitas Allah.
Namun perlu diingat, berdasarkan gambar ilustrasi, petunjuk akan didapat jika kita menempatkan diri pada posisi ruang rujuk atau intersection area. Oleh sebab itu, Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang yang:
- Zhalim (Al-Baqarah: 258)
- Bohong dan kufur (Fathir: 3)
- Fasik (Al-Baqarah: 27)
Mengapa kita harus berada pada ruang rujuk ar-Rahman dan ar-Rahim?
- Agar kita selalu berada pada simbol-simbol (asma’) Allah yang pokok, yaitu ar-Rahman dan ar-Rahim.
- Untuk penyamaan frekuensi sehingga informasi atau petunjuk ayat dapat kita terima.
- Agar kita memiliki nilai yang tinggi.
Seperti telah kita ketahui, kata asma’ (الأسماء) dapat dilihat dari 2 sumber asal kata, yaitu “wasima” dan “sumuwu”.
1. Kata wasima (وَسِمَ) yang berarti simbol/tanda yang dapat kita temukan pada ayat:
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْمُتَوَسِّمِينَ
Sungguh di dalamnya terdapat tanda bagi orang-orang yang memahami simbol (wasima). (Al-Hijr: 75)
Makna ini dipelopori oleh Ulama Kuffah (Abu Musa Jabir, Al-Kisai, Imam Hanafi, dll.)
2. Kata sumuwu (سُمُوُّ) yang berarti tinggi.
Dari sumber inilah derivatif kata سماء (langit). Berdasarkan sumber kata سُمُوٌّ dalam Bahasa Arab “pemberian nama” atau “memberi nama” disebut samma (سَمَّى) yang bermakna memberi petunjuk atau هدى. Dengan nama atau simbol berarti “meninggikan seseorang”. Oleh sebab itu jangan memberi nama sembarangan.
Sumber kata سمو yang bermakna “tinggi” selain pada kata سماء dapat juga kita temukan pada ayat:
وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
“Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.” (Ali Imran: 36)
Dari 2 sumber kata inilah Wasima & Samaawu, kita dapat menentukan vocal yang sama tapi dengan tulisan berbeda:
- بِسْمِ ٱللَّهِ (dengan simbol Allah…)
- بِاسْمِ رَبِّكَ (dengan ketinggian Tuhanmu…)
Kesimpulan:
- Dengan asma’ kita dapat memahami Allah.
- Dengan asma’ kita dapat berkomunikasi dengan Allah.
- Dengan asma’ kita “meninggikan” Allah.
- Dengan asma’ kita “mempresentasikan” Allah.