Tema 38: Muhkamat & Mutasyabihat

oleh Iswan Muhammad Isa

Kita telah mendiskusikan makna kitab secara umum pada Tema 36 dan membahas tafshīl al-kitab pada Tema 37. Sekarang kita akan membicarakan bentuk atau isi kitab, yaitu muhkamat dan mutasyabihat.

Konsep al-Qur’an tentang muhkamat dan mutasyabihat dapat kita lihat pada Ali ‘Imran: 7.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ

“Dialah yang menurunkan Al-Kitab kepadamu. Diantaranya ada ayat-ayat muhkamat, itulah Ummul Kitab, dan yang lain (ukhara) mutasyabihat…” (Ali ‘Imran: 7)

Kita ingat kembali makna fa-sha-la (tafshīl): “pemisahan sesuatu dari sesuatu yang lain dan menjelaskan sesuatu tentangnya.” Dengan demikian, ayat ini mengandung tafshīl al-kitab, yaitu adanya ayat-ayat muhkamat dan yang lainnya (ukhara) berupa mutasyabihat.

Muhkamat berasal dari akar kata ha-ka-ma yang menunjuk pada makna keteraturan, kejelasan, kepastian tanpa ambigu, dan tanpa cacat. Sedangkan mutasyabihat berasal dari akar kata sya-ba-ha yang menunjuk pada adanya kemiripan atau keserupaan dengan sesuatu yang lain.

Ayat adalah tanda-tanda material objektif yang dapat dipersepsi maupun diabstraksikan, yang hadir dalam semesta ini sebagai representasi dari realitas tertentu.

Dengan demikian, Ali ‘Imran: 7 menyatakan bahwa Allah menurunkan al-Kitab, yang darinya terdapat “ayat-ayat muhkamat” yang bersumber dari Ummul Kitab. Sedangkan ayat-ayat lainnya (ukhara, bukan ghairu) berbentuk serupa (mutasyabihat), namun bukan termasuk ayat-ayat muhkam yang berasal dari Ummul Kitab.

Jika yang serupa (mutasyabihat) itu bukan ayat-ayat muhkam yang berasal dari Ummul Kitab, apakah sebutannya? Hal ini dapat kita lihat pada QS. Muhammad: 20.

وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا لَوْلَا نُزِّلَتْ سُورَةٌ فَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ مُحْكَمَةٌ وَذُكِرَ فِيهَا الْقِتَالُ رَأَيْتَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَأَوْلَى لَهُمْ

“Dan orang-orang beriman berkata: “Mengapa tidak diturunkan suatu surat?”. Maka apabila diturunkan “Surat muhkamat” dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam qalbu-nya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati dan celakalah mereka.” (Muhammad: 20)

Dengan demikian, terdapat “ayat-ayat muhkamat” dan ada pula yang serupa (mutasyabihat), yaitu “surat-surat muhkamat.” Ayat-ayat muhkamat berasal dari Ummul Kitab, sedangkan surat-surat muhkamat berasal dari Lauh Mahfudz yaitu Qur’an Majid. Selain itu, ayat-ayat muhkamat bersifat wujud objektif, sedangkan surat-surat muhkamat bersifat wujud subjektif. Dari sudut pandang asma/simbol, ayat-ayat muhkamat tergolong ar-Rahman, sedangkan surat-surat muhkamat tergolong ar-Rahim.

Surat-surat muhkamat yang serupa dengan ayat-ayat muhkamat inilah yang sering ditakwilkan secara menyimpang, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Ali ‘Imran: 7.

Kita kembali pada konsep tafshīl al-kitab, yaitu pemisahan sesuatu dari sesuatu yang lain sekaligus menjelaskan sesuatu tentangnya. Al-Kitab dan al-Qur’an, atau al-Kitab yang di dalamnya terdapat al-Qur’an, memiliki wujud pra-eksistensi, yaitu Ummul Kitab dan Lauh Mahfudz. Keduanya mengalami proses inzal dan tanzil serta ja‘al (جعل) dalam bahasa Arab. Sedangkan tafshīl al-kitab tidak memiliki pra-eksistensi sehingga tidak mengalami al-ja‘al (transformasi dalam bahasa Arab).

Dengan demikian, wahyu yang diturunkan tidak seluruhnya berbahasa Arab. Contohnya adalah ayat-ayat seperti Alif Lām Mīm, Yā Sīn, dan sejenisnya. Tanda-tanda ini bukan bahasa Arab, melainkan tersusun dari unsur-unsur fonem suara manusia yang membentuk seluruh bahasa manusia di muka bumi, yakni bahasa universal yang melampaui entitas linguistik manapun. Jika Alif Lām Mīm dianggap bahasa Arab, tentu sudah sejak 14 abad lalu orang Arab memahami maknanya.

Sekarang kita salin kembali Yunus: 37.

وَمَا كَانَ هَٰذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَىٰ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Tidaklah mungkin Al-Qur’an ini dibuat selain Allah. Akan tetapi membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan Tafshil Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya yang di turunkan dari Rabbul Alamin.” (Yunus: 37)

Pertanyaannya:

Apakah ayat-ayat tafshīl al-kitab ini tergolong ayat nubuwwat atau ayat risālat?

Risālat adalah ayat-ayat yang harus dilaksanakan sesuai perintah Allah secara subjektif, misalnya hukum-hukum, perintah, dan wasiat.

Nubuwwat adalah ayat-ayat yang berkenaan dengan informasi hukum-hukum wujud secara objektif yang menjelaskan adanya sebab-akibat material.

Wahyu yang diturunkan melalui proses al-inzāl, at-tanzīl, dan al-ja‘al terbagi menjadi dua, yaitu risālat dan nubuwwat.

Jadi,

  1. Tafshīl al-kitab bukan termasuk risālat, karena tidak berisi perintah seperti hukum, wasiat, dan sebagainya.
  2. Tafshīl al-kitab tidak memiliki pra-eksistensi, sehingga tidak mengalami proses al-ja‘al, melainkan hanya melalui al-inzāl dan at-tanzīl.
  3. Dengan demikian, tafshīl al-kitab adalah nubuwwat, tetapi bukan mutasyabihat dan bukan pula “surat-surat muhkamat.”

Dengan demikian, Tafshīl al-kitab bukan bersumber dari Ummul Kitab, Qur’an Majid, maupun Qur’an Karim yang ada dalam Kitab Maknun yang mengalami proses al-ja‘al, melainkan wahyu yang datang secara langsung dari Ahad (أحد).

Tafshīl al-kitab inilah yang hingga hari ini, tanpa kita sadari, masih terus berlangsung sampai hari kiamat melalui proses yang lebih dikenal dengan istilah ilhām.

Permasalahan:
Kembali pada pertanyaan:
كيف نحصل عليها — Bagaimana cara kita mendapatkannya?

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *