Pada pelajaran ke-2, ke-3, dan ke-4 telah dipelajari بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ yang menjelaskan adanya sistem simbol (asma) dari Allah dalam bentuk umum, yaitu ar-Rahman dan ar-Rahim.
Sedangkan konsep Allah itu sendiri juga merupakan sistem simbol dari entitas abstrak al-Wahid (الْوَاحِد) dan Ahad (أحد).
لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
Allah yang Ahad dan Wahid direpresentasikan dalam suatu sistem Kitab yang terdiri dari Lauh Mahfudz, Ummul Kitab, dan Imam Mubin.
Lauh Mahfudz adalah representasi dari ar-Rahim yang dapat disebut sebagai realitas subjektif, sedangkan Ummul Kitab dan Imam Mubin adalah representasi dari ar-Rahman yang dapat disebut sebagai realitas objektif.
Catatan: Representasi adalah suatu proses yang melibatkan kondisi atau keadaan yang dapat diungkapkan dalam bentuk gambar, simbol, bagan, denah, atau segala sesuatu yang memiliki makna, sehingga kita dapat memahami atau mengerti.
Sebagai realitas subjektif, Lauh Mahfudz memiliki abstraksi dalam bentuk “kesadaran potensial” (daya potensi) yang disebut Qur’an Majid (قُرْآنٌ مَّجِيْد).

Kesadaran potensial yang ada di Lauh Mahfudz adalah abstraksi yang tidak berbentuk bahasa, melainkan berupa pengetahuan abstrak, baik terhadap Qur’an Majid itu sendiri maupun terhadap Ummul Kitab dan Imam Mubin.
Pengetahuan abstrak inilah yang didustakan oleh orang-orang kafir, sebagaimana firman-Nya:
بَلِ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي تَكْذِيبٍ ﴿١٩﴾ وَاللَّهُ مِن وَرَائِهِم مُّحِيطٌ ﴿٢٠﴾ بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ ﴿٢١﴾ فِي لَوْحٍ مَّحْفُوظٍ ﴿٢٢﴾
“Sesungguhnya orang-orang kafir itu selalu mendustakan, padahal Allah mengepung mereka dari segala sisi. Bahkan yang didustakan mereka itu adalah Qur’an Majid yang ada dalam Lauh Mahfudz.” (Al-Buruj: 19-22)
Jika Lauh Mahfudz adalah representasi dari ar-Rahim dalam bentuk pengetahuan abstrak, maka Ummul Kitab merupakan representasi dari ar-Rahman dalam bentuk wujud material objektif, yaitu alam semesta.
Untuk mendekatkan pemahaman: apabila Lauh Mahfudz diibaratkan sebagai pusat pikiran dalam diri manusia, maka Ummul Kitab adalah pusat gerak badan fisik yang bersumber dari kerja teknis jantung serta sistem mekanisme tubuh lainnya.
Hasil dari Ummul Kitab ini dapat diamati dan dipahami melalui Kalimatullah dan Ayatullah, karena ia bersifat muhkamat.
هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ
“Dialah yang menurunkan al-Kitab, di antaranya ada ayat Muhkamat, itulah Ummul Kitab…” (Ali ‘Imran: 7)
Ummul Kitab bersifat material berdasarkan hukum-hukum wujud objektif. Oleh sebab itu, ia dapat dihilangkan atau dihapus, ataupun dibuat semakin teguh dan ditegakkan sebagai bentuk pembuktian.
يَمْحُو اللَّهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
‘‘Allah menghapuskan/ menghilangkan apa yang Dia kehendaki dan meneguhkan/ menegakkannya dan disisi-Nya Ummul Kitab.” (Ar-Ra’d: 39)
Karena bersifat material berdasarkan hukum-hukum wujud objektif, Ummul Kitab dalam aktualitasnya terdiri dari berbagai tema.
Catatan: Kata kitab berasal dari akar kata ka-ta-ba yang bermakna berkumpul atau terkumpulnya segala sesuatu yang terpisah menjadi satu sistem atau mekanisme dalam struktur dan tema tertentu. Dalam pengertian inilah kita memahami berbagai istilah “dalam kitab” seperti: kitab mubin, kitab makanan, kitab ajal, kitab waktu, dan lain sebagainya.
Setiap momen atau peristiwa dalam kitab-kitab ini, sejak awal di masa lalu, tercatat dalam sistem Imam Mubin.
Imam Mubin adalah sistem pusat data yang merekam seluruh kejadian atau momen dalam alam semesta, baik yang merupakan akibat dari aktivitas sadar manusia maupun yang berasal dari luar kesadaran manusia.
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ
“Sesungguhnya Kamilah menghidupkan yang mati dan Kamilah mengumpulkan dengan tema-tema apa yang telah berlaku dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Segala sesuatu Kami data dalam Imam Mubin.” (Yasin: 12)
Jadi, Imam Mubin berisi sejarah alam dan manusia beserta akibat-akibat yang ditimbulkannya. Sejarah tentang manusia beserta akibatnya dalam Al-Qur’an disebut al-Qashash (القَصَصِ), yang juga dijadikan nama salah satu surah dalam Al-Qur’an (Surah ke-28, terdiri dari 88 ayat), yang sebagian besar memuat kisah atau sejarah Nabi Musa sejak kelahirannya.
فَلَمَّا جَاءَهُ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَ قَالَ لَا تَخَفْ ۖ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
“Maka, tatkala (Musa) mendatanginya (bapak perempuan/Nabi Syu’aib) dan menceritakan kepada-nya (Syu’aib) kisah-nya, berkata (Syu’aib): “Janganlah kamu takut; kamu telah selamat dari orang yang zalim itu.” (Al-Qashash: 25)
Ummul Kitab dan Imam Mubin tergolong al-Kitab yang merupakan representasi dari ar-Rahman, sedangkan Lauh Mahfudz yang berisi Qur’an Majid tergolong al-Qur’an yang merupakan representasi dari ar-Rahim.
Al-Kitab juga merupakan “potensi aktual” dari al-Wahid, sedangkan al-Qur’an merupakan “kesadaran potensial” dari Ahad.