Tema 32: Adam

oleh Iswan Muhammad Isa

Pada pelajaran sebelumnya telah didiskusikan bahwa yang ditiupkan Ruh adalah al-Basyar. Al-Basyar yang telah ditiupkan Ruh inilah yang disebut dengan Adam. Dengan demikian, Adam adalah fase perkembangan manusia Basyar menjadi manusia Adam.

Al-Basyar (بَشَرٌ) adalah jenis kata jamak yang tidak beraturan. Dengan kata lain, kata بَشَرٌ dapat bermakna tunggal (isim mufrad) maupun jamak (isim jamak, yaitu lebih dari dua; jika dua disebut isim mutsanna).

Berdasarkan pembahasan sebelumnya tentang al-Basyar, dapat dipastikan bahwa Basyar yang dimaksud adalah isim jamak. Artinya, al-Basyar bukanlah satu orang atau dua orang, melainkan dalam jumlah banyak dan tidak berada pada satu wilayah saja.

Banyaknya al-Basyar yang kemudian menjadi Adam ini dapat dibuktikan antara lain melalui ayat berikut, yaitu ketika manusia Adam diperintahkan untuk pindah atau keluar:

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا 

“Kami berfirman: “Turunlah kamu semua dari sana.” (Al-Baqarah: 38)

Kata “ihbitu” pada ayat di atas bermakna “pindah dari suatu tempat, baik kuantitas maupun kualitas ke tempat yang lain di dataran yang sama” yang dalam konteks ini terjadi di bumi ini, bukan pindah dari tempat di luar bumi ini.

Untuk membuktikan makna tersebut, kita dapat melihat ayat di bawah ini:

اهْبِطُوا مِصْرًا فَإِنَّ لَكُم مَّا سَأَلْتُمْ

“Pergilah kamu ke Mesir, pasti kamu memperoleh apa yang kamu pinta.” (Al-Baqarah: 61)

قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِّنَّا وَبَرَكَاتٍ

“Ya Nuh, turunlah/pindahlah dengan selamat dan penuh berkah.” (Hud: 48)

Jadi, Adam bukan manusia pertama dalam arti sebelumnya tidak ada manusia; tapi Adam adalah fase manusia basyar yang telah memiliki potensi kesadaran karena telah ditiupkan ruh. Oleh sebab itu, ketika Allah menyatakan akan hendak menjadikan khalifah di bumi, malaikat “menyanggah” Allah dengan mengatakan:

قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ

“Malaikat berkata: “Apakah Kamu hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana?” (Al-Baqarah: 30)

Malaikat dapat berkata demikian karena ketika Allah memberikan informasi akan “menjadikan” (جَعَلَ) khalifah, makhluk/manusia al-Basyar sudah ada. “Khalifah” adalah pangkat atau jabatan yang diberikan kepada seseorang untuk melanjutkan kepemimpinan, sehingga orangnya sudah ada terlebih dahulu.

Kelompok Adam yang tersebar (terdiri dari laki-laki dan perempuan) karena telah memiliki potensi kesadaran, mulai mempelajari dan memahami simbol-simbol alam berupa “suara” dan “bentuk” yang ada di sekitarnya. Dalam Al-Qur’an hal ini disebut dengan asma. Oleh sebab itu dikatakan:

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ

“Diajarkan kepada Adam tentang asma seluruhnya, kemudian menunjukkannya kepada malaikat…” (Al-Baqarah: 31)

Asma yang dimaksud di sini adalah kemampuan mulai mengetahui dan membedakan “suara” dan “bentuk” dari objektivitas alam, bukan dalam arti bahasa atau pemberian nama pada setiap sesuatu. Pemberian nama baru dapat dilakukan ketika manusia sudah memiliki dan memahami bahasa.

“Bentuk” adalah sesuatu yang dapat dilihat secara inderawi, bukan secara abstraksi. Sedangkan “Suara” adalah sesuatu yang dapat didengar, yang dalam hal ini disebut nathiq (نَاطِق).

Nathiq dapat bersumber dari “pikiran subjektif” (perkataan atau ucapan manusia) maupun dari luar pikiran subjektif (misalnya suara alam, suara burung, dan lain sebagainya). Yang dimaksud dalam konteks ini adalah Adam mempelajari “suara” yang berasal dari luar pikiran subjektif.

Nathiq yang bersumber dari “pikiran subjektif” dapat dikatakan terbit dari atau berasal dari “pikiran manusia” maupun dari “wahyu Allah”. Oleh sebab itu dikatakan:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ 

“Dan tidaklah yang diucapkannya (Nathiq-Yanthiqu) menurut al-hawa/hasrat/nafsu-nya; melainkan yang diucapkan itu hanya yang diwahyukan.” (An-Najm: 3-4)

Suara yang berasal dari “pikiran subjektif” disebut kalam, dan jenis kalam yang keluar tersebut dinamakan al-Bayan.

Kemampuan memahami “suara” dan “bentuk” dalam wujud simbol-simbol ini dikemukakan Allah kepada malaikat. Allah kemudian meminta para malaikat untuk menginformasikan simbol-simbol tersebut kepada-Nya, tetapi malaikat tidak mampu, karena mereka hanya mengetahui apa yang diinformasikan oleh Allah.

وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ 

“Dan Allah mengajarkan kepada Adam Asma seluruhnya, kemudian mengemukakan kepada malaikat, maka berkata Allah: “Informasikan kepada-Ku asma’ itu jika kamu memang benar.” Berkata Malaikat: “Maha Suci Engkau, kami tidak mengetahui selain yang telah diajarkan…” (Al-Baqarah: 31-32)

Kemudian Allah memerintahkan kepada Adam agar memberitahukan kepada malaikat tentang asma tersebut. Adam pun memberikan informasi mengenai asma, dan Allah menegaskan bahwa Dia mengetahui rahasia langit dan bumi serta segala yang tersembunyi (ayat 33). Ayat ini menegaskan kembali firman Allah pada ayat 30.

Selanjutnya Allah memerintahkan agar sujud kepada Adam, namun Iblis menolak (ayat 34) karena ia enggan dan bersikap takabbur, merasa bangga akan dirinya.

Muncul pertanyaan: bagaimana bentuk sujud yang dimaksud oleh Allah? Apakah sama dengan sujud sebagaimana yang dilakukan dalam shalat? Bukankah sujud yang sejati hanya ditujukan kepada Allah?

Kata sujud (سُجُوْد) berasal dari huruf س ج د yang bermakna sujud, rebah, tersungkur, menghormati, hingga mendewakan. Adapun sujud yang dimaksud dalam konteks ini adalah menghormati atau memberi respek. Penggunaan kata sajada (سَجَدَ) sebagai bentuk penghormatan atau respek dapat kita temukan dalam ayat berikut:

قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَىٰ أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا 

“Orang-orang yang berkuasa atas urusan mereka berkata: “Kami akan mendirikan masjid (مَّسْجِدًا) di atasnya.” (Al-Kahfi: 21)

Kata masjid yang berasal dari kata سَجَدَ pada ayat di atas bukanlah dimaksudkan sebagai masjid tempat sujud atau beribadah sebagaimana yang kita pahami saat ini, melainkan suatu bangunan yang berfungsi sebagai tanda atau tempat untuk memberikan penghormatan.

Allah berfirman:

 قِيلَ يَا نُوحُ اهْبِطْ بِسَلَامٍ مِّنَّا وَبَرَكَاتٍ عَلَيْكَ

“Ya Nuh, turunlah/pindahlah dengan selamat dan penuh berkah.” (Hud: 48)

Adam yang mempelajari asma’ pada Fase I ini baru mampu menirukan potongan-potongan suara dan penggalan kata, sebagaimana anak kecil yang menirukan suara atau bahasa orang tuanya secara terputus-putus.

Pada Fase I ini mulai muncul pemikiran syaithani, bukan dalam bentuk aktivitas sadar, melainkan sebatas reaksi terhadap apa yang dilihat dan didengar. Kehadiran aktivitas sadar inilah yang menyebabkan manusia Adam belum meninggalkan atau keluar dari tempat asalnya. Oleh sebab itu Allah berfirman:

وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ 

“Dan Kami berfirman: Hai Adam, diamilah oleh kamu dan zauj/pasanganmu di jannah ini, dan makanlah dari jannah itu makanan yang ada sesukamu, dan jangan kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 35)

Ayat di atas memuat kalimat perintah: “Dan janganlah kamu dekati pohon ini…”. Pohon yang dimaksud bersifat simbolis, menggambarkan adanya pemikiran syaithani dalam diri Adam berupa dialektika dalam proses khayali yang menganggap bahwa pada pohon tersebut terdapat jalan menuju keabadian. Hal ini mencerminkan naluri dasar pada setiap manusia, yaitu naluri untuk bertahan hidup (survive).

Naluri ini berkembang dalam rentang waktu yang lama melalui pengalaman fu’adi, yakni dengan menyaksikan adanya spesies yang mengalami kematian, termasuk pada spesies Adam.

Aktivitas sadar kemudian mulai muncul dari berbagai pengalaman fu’adi, sehingga terjadi perubahan kualitas nalar yang digambarkan Allah dalam bentuk dialog:

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مَا وُورِيَ عَنْهُمَا مِن سَوْآتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَٰذِهِ الشَّجَرَةِ إِلَّا أَن تَكُونَا مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُونَا مِنَ الْخَالِدِينَ 

“Maka syaithan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya (?). Dan syaithan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal.” (Al-A’raf: 20)

Ayat di atas bukan adanya bisikan asy-Syaithan untuk menampakkan aurat dalam pemahaman kita selama ini, sebab waktu itu belum ada konsep aurat (عَوْرَة). Tapi yang dimaksud membuka pemikiran yang sama pada mereka berdua yang tadinya belum tampak. Inilah transformasi awal yang dialami manusia Adam dengan adanya dialektika syaithani.

Dari pengalaman fuadi terhadap pohon yang dilarang Tuhan, timbullah pemikiran sadar tentang ada yang baik dan ada yang buruk yang digambarkan Allah pada ayat berikut:

فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۖ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ 

“Tatkala keduanya telah merasakan buah kayu itu, nampaklah bagi mereka keduanya auratnya dan mulailah keduanya menutupi dirinya dengan daun-daun jannah (surga). Kemudian Tuhan mereka menyeru mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan: “Sesungguhnya syaithan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (Al-A’raf: 22)

Jika pada Fase I Adam baru mengetahui secara kuantitatif, maka dengan hadirnya dialektika (pemikiran syaithani-rahmani) dalam diri Adam, berkembanglah Fase II, yaitu adanya transformasi atau perubahan secara kualitatif. Perubahan ini digambarkan Allah dalam firman-Nya:

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ

“Lalu keduanya digelincirkan oleh syaithan dari jannah itu, lalu dikeluarkan dari keadaan semula. Dan Kami berfirman: “Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan.” (Al-Baqarah: 36)

Fase II ini menggambarkan mulai adanya interaksi sosial dengan menggunakan asma (mengikuti suara dan bentuk dari fenomena dunia fisik alam) dalam bentuk potongan-potongan suara. Oleh sebab itu dikatakan: “ihbithu, sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain…”.

Fase II ini merupakan transformasi awal berupa loncatan dari persepsi fu’adi, di mana “suara” mulai dihubungkan dengan “bentuk” dan didasarkan atas bentuk personifikasi. Artinya, hubungan tersebut masih bersifat kuantitatif, belum memasuki makna kualitatif.

Untuk mencapai makna kualitatif, diperlukan adanya abstraksi dalam diri manusia Adam agar mampu menghubungkan secara idiomatik, di mana potongan-potongan suara mulai dihubungkan dengan bentuk-bentuk tertentu.

Hubungan ini bukan hasil identifikasi kuantitatif, melainkan lompatan abstrak dari Allah sebagaimana firman-Nya:

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ 

“Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhan-nya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat.” (Al-Baqarah: 37)

Kemampuan Adam untuk menerima kalimat-kalimat ini muncul setelah ia menyadari adanya konsep baik dan buruk, sebagaimana digambarkan Allah melalui doa Adam dalam al-A‘raf: 23.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Kesadaran inilah yang membuat Adam menerima kalimat dalam bentuk abstraksi dari Allah berupa suara yang terputus atau potongan suara.

Kalimat, dari sisi bahasa, adalah kumpulan suara yang terputus. Artinya, Adam menerima kumpulan suara yang terputus dalam bentuk kalimat perintah “taubat”. Oleh sebab itu dikatakan: “maka Allah menerima taubatnya”. Dengan kata lain, Adam menghasilkan abstraksi dari potongan-potongan suara.

Pada Fase III inilah Adam mulai memahami adanya perbedaan antara potongan-potongan suara. Karena itu, tidak mengherankan jika Nabi ﷺ menerima wahyu pertama berupa potongan suara dalam kalimat perintah: “Iqra’”.

Fase III inilah yang mengubah keturunan Adam menjadi insan, yaitu ketika manusia mencapai tahap kemampuan abstraksi untuk membedakan. Kemampuan inilah yang disebut al-Qalam, yakni kemampuan membedakan potongan suara yang satu dengan yang lain.

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

“Iqra’, dan Tuhanmu Yang Karim yang mengajarkan Qalam, mengajarkan insan apa yang belum diketahui-Nya.” (Al-Alaq: 3-5)

Al-Qalam adalah proses berpikir abstrak untuk membedakan dan menghubungkan satu konsepsi dengan konsepsi lainnya. Contoh: “Menara itu tinggi.” (Al-Qalam selengkapnya lihat Pelajaran 27).

Fase IV manusia Adam mulai memasuki fase abstraksi, yaitu ketika manusia Adam diajarkan Qalam. Fase inilah yang menjadikan manusia Adam memasuki fase Insan. Oleh sebab itu dikatakan: عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Dengan al-Qalam, Insan memasuki fase abstraksi, yaitu adanya transformasi dari Fase III ke Fase IV. Fase ini merupakan perubahan dari hubungan natural antara suara dan makna—yang sebelumnya berdasarkan pendengaran dan penglihatan—menuju fase hubungan idiomatik yang didasarkan pada keterkaitan nama dengan sesuatu.

Hubungan idiomatik dalam bahasa adalah hubungan logis antara nama sesuatu dengan konsep melalui al-Qalam, yaitu proses pemberian nama dan penyusunan.

Fase IV ini berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, yang dalam bahasa disebut fenomena morfologis dan sintaksis.

  • Fenomena morfologis adalah proses pemberian nama yang baru terhadap suatu objek, konsep, atau sifat.
  • Sintaksis adalah proses penyusunan kata dalam bentuk kalimat sempurna yang terdiri dari subjek, predikat, dan keterangan.

Proses yang memerlukan waktu panjang untuk menghubungkan konsep dan sifat dari segala sesuatu hingga memunculkan bahasa manusia yang sempurna inilah yang digambarkan Allah dalam firman-Nya.

Kami berfirman:

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Turunlah kamu semuanya dari sana (?). Kemudian jika datang petunjuk dari-Ku, kepada kalian, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”.” (Al-Baqarah: 38)

Petunjuk tidak akan dapat diterima dengan sempurna tanpa adanya bahasa yang sempurna, dan bahasa yang sempurna hanya dapat terwujud melalui proses yang panjang. Maka, dalam konteks perkembangan bahasa, kata ihbitu (اهْبِطُوا) bukanlah berarti “turun,” melainkan menunjuk pada perubahan fase-fase perkembangan manusia Adam.

Sekarang kita perhatikan ayat pertama tentang ihbitu:

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ 

“Lalu keduanya digelincirkan oleh asy-Syaithan dari sana (surga), dan dikeluarkan (خَرَجَ) dari keadaan semula (di dalam surga) dan Kami berfirman: “Ihbithu”. Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi (أَرْض) dan kesenangan hidup sampai waktu/moment-Nya.” (Al-Baqarah: 36)

Catatan:

Adam diperdaya oleh Syaithan di jannah.

Kemudian Adam menyadari bahwa dirinya zalim/bodoh, sebagaimana dalam al-A‘raf: 23.

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Setelah itu, Adam dikeluarkan dari keadaan semula di dalam jannah, tempat di mana ia masih dalam kondisi bodoh. Lalu dikatakan: Ihbithu; sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan di aradh (الأَرْضِ) ada tempat kamu tinggal.

Aradh berarti “tempat berpijak”; artinya, “di mana pun kamu berpijak, di situlah tempatmu berada.”

Kesimpulan:
Ihbithu yang pertama ini menunjukkan adanya perubahan tempat, keadaan, dan perilaku, yaitu:

  1. Menyadari dirinya zalim/bodoh.
  2. Saling bermusuhan.
  3. Terjadinya migrasi atau perpindahan lokasi.

Kondisi ini kemudian memasuki tahap berikutnya, yaitu ketika Adam menerima “kalimat dari Tuhannya” (Al-Baqarah: 37).

فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhan-Nya, maka Allah menerima taubat-Nya… Sesungguh-Nya Allah Pemberi Taubat yang Rahim.” (Al-Baqarah: 37)

Kalimat adalah potongan-potongan suara yang disusun sehingga membentuk makna.

Proses ini sepenuhnya merupakan subjektivitas Allah, oleh sebab itu pada akhir ayat disebutkan ar-Rahim.

Subjektivitas Allah inilah yang membuat Adam memiliki kemampuan Qalam, yang menandai awal mula Adam memasuki dunia abstraksi menuju perkembangan bahasa yang sempurna.

Pada tahap ini, fase Adam mulai memasuki Fase Insan, yaitu ketika ia mulai belajar Qalam dan Bayan.

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Kondisi perubahan yang dimulai dari al-Qalam menuju al-Bayan yang sempurna memerlukan waktu yang panjang. Perubahan inilah yang disebut sebagai Ihbithu yang kedua. Oleh sebab itu Allah berfirman:

“Ihbithu, semuanya dari sana. Kemudian jika datang petunjuk dari-Ku kepada kalian, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya tidak ada ketakutan dan tidak bersedih.” (Al-Baqarah: 38)

Ungkapan “Ihbithu semuanya dari sana” menunjukkan adanya proses, yaitu proses menuju kesempurnaan bahasa.

Petunjuk baru dapat disampaikan apabila manusia telah memiliki bahasa. Oleh sebab itu ayat ini dilanjutkan dengan kalimat: “Kemudian, jika datang petunjuk dari-Ku…” Hal ini menegaskan bahwa setelah bahasa manusia mencapai kesempurnaan, barulah Allah menurunkan petunjuk.

Petunjuk Allah yang pertama kali diberikan secara langsung melalui wahyu adalah kepada Nabi Nuh A.S.

Kesimpulan:

Ihbithu bukanlah bermakna turun secara fisik dari atas ke bumi, melainkan menunjukkan adanya proses perubahan kualitas, yaitu perkembangan bahasa manusia. Adapun perpindahan atau migrasi ditunjukkan dengan kata ukhruj. Iblis sendiri hanya diperintahkan ukhruj, bukan ihbith (Shad: 77):

قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ

Jika ihbith diartikan turun secara fisik, maka ihbith yang kedua tidak memiliki makna apa-apa, sebab Adam sudah turun sebelumnya, sementara Iblis tidak pernah diperintahkan ihbith.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *