Kita telah membahas bahwa wahyu adalah informasi dari Allah yang disampaikan secara rahasia atau tersembunyi kepada manusia dan makhluk lainnya. Dalam Al-Qur’an, manusia yang belum menerima Rūḥ disebut sebagai Basyar.
Al-Basyar adalah makhluk biologis yang dirancang oleh Allah, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Shad: 71–72.
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ ﴿٧١﴾ فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ ﴿٧٢﴾
“Ingatlah ketika Tuhan-mu berfirman kepada Malaikat: Sesungguhnya Aku akan menciptakan basyar dari Thin. Apabila sudah sempurna dan Kutiupkan Ruh-Ku ke dalamnya, maka sujudlah kepadanya.
Ayat ini mengandung beberapa pemahaman:
- Allah akan menciptakan Basyar.
- Materi penciptaan Basyar adalah ṭīn (air yang bercampur dengan tanah).
- Setelah bentuk Basyar sempurna, Allah meniupkan Rūḥ-Nya.
- Malaikat diperintahkan untuk bersujud.
Sekarang kita lihat penciptaan dunia hewan:
وَاللَّهُ خَلَقَ كُلَّ دَابَّةٍ مِنْ مَاءٍ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ بَطْنِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ رِجْلَيْنِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَمْشِي عَلَىٰ أَرْبَعٍ ۚ يَخْلُقُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
“Dan Allah menciptakan tiap-tiap hewan dari air, maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan di atas dua kaki, sebagian berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (An-Nur: 45)
Dari ayat ini dapat kita pahami bahwa:
- Hewan berasal dari air.
- Hewan mengalami perubahan bentuk.
- Hewan tidak ditiupkan Rūḥ.
Sementara itu, al-Basyar dalam prosesnya mengalami penyempurnaan bentuk. Hal ini tampak dari penggunaan kata “fa-idzā sawwaytuhū” (فَإِذَا سَوَّيْتُهُ) yang berarti “apabila telah disempurnakan.” Kata sawwā (سوى) memiliki makna dasar “bengkok sekaligus lurus,” yakni dari keadaan bengkok menuju lurus.
Pemahaman ini juga selaras dengan penjelasan dalam al-Infithār: 6–7.
يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ ﴿٦﴾ الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ ﴿٧﴾
“Hai manusia. Apakah yang memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu yang Karim. Yang telah menciptakan kamu, lalu “menegakkan” kamu dan menjadikan kamu seimbang (karena ditegakkan).”
Kata سَوَّى bermakna “menjadikan seimbang” (istawā/اِسْتِوَاء).
Pada ayat di atas, kata سَوَّى digandengkan dengan عَدَلَ. Hal ini menunjukkan adanya proses penyempurnaan bentuk material, yakni menjadi tegak dan seimbang. Banyak makhluk lain yang mampu berdiri tegak (seperti kera atau beruang), tetapi tidak mampu tegak dan seimbang dalam waktu lama.
Adapun manusia (al-Basyar) pada awalnya berasal dari sel tunggal yang kemudian terbelah, sebagaimana dijelaskan dalam an-Nisā’: 1.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً
“Hai manusia bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu dari “nafs wahidah” (entitas hidup tunggal), dan dari nafs wahidah diciptakan pasangan. Dari kedua pasangan “nafs” inilah muncul jenis laki-laki dan perempuan yang banyak.”
Kata بَثَّ berarti “tersebar/menyebar”. Hal ini juga menunjukkan bahwa nafs wahidah bukanlah sesuatu yang tunggal dalam arti berada di satu tempat, melainkan tersebar di beberapa wilayah yang memenuhi syarat-syarat material bagi munculnya cikal bakal al-Basyar.
Hal ini dapat kita lihat pada dua ayat yang berbeda:
Shad: 71-72
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ ﴿٧١﴾ فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ ﴿٧٢﴾
Al-Hijr: 28-29
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ ﴿٢٨﴾ فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ ﴿٢٩﴾
Pada ayat di atas kita dapat membedakan unsur material pembentukan al-Basyar, yaitu مِن طِينِ dan مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ.
Hal ini mengindikasikan adanya dua sumber yang berbeda dalam penciptaan al-Basyar.
Sebelum ditiupkan rūḥ, al-Basyar ini berkembang biak dengan melahirkan keturunan sebagaimana firman-Nya:
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا
“Dan Dia menciptakan al-Basyar dari air, lalu Dia jadikan Basyar itu keturunan dan sihron (مُصَاهَرَة: hubungan kekeluargaan dan pernikahan).”
Dari penjelasan di atas, kita dapat membedakan adanya dua entitas hidup dalam diri al-Basyar, yaitu:
1. Entitas kehidupan fisik
Secara material, baik basyar maupun dabbah (dunia binatang) memiliki kehidupan fisik yang tumbuh, berubah, dan berkembang sesuai dengan hukum-hukum fisik. Setiap kehidupan fisik ini akan mengalami kematian, yaitu berhentinya fungsi-fungsi material yang menopang entitas kehidupan fisik. Entitas kehidupan dalam Al-Qur’an disebut nafs, mencakup aspek fisik maupun psikis.
2. Entitas kehidupan psikis
Yaitu entitas kehidupan jiwa yang di dalamnya terdapat insting, emosi, kehendak, hasrat, dan lain sebagainya. Entitas kehidupan psikis ini memiliki sifat-sifat otonom yang secara substansi serupa antara basyar (dunia manusia) dan dabbah (dunia hewan). Oleh sebab itu, secara biologis sifat-sifat kera, misalnya, sama dengan sifat-sifat manusia seperti makan, minum, sakit, melakukan hubungan biologis, berkembang biak, dan akhirnya mati.
Selain itu, dapat diketahui bahwa:
- Materi dari entitas kehidupan fisik dan psikis hewan hanya berasal dari air. Dengan kata lain, antara fisik dan psikisnya memiliki sifat yang sama. Oleh sebab itu, ketika terjadi kematian (al-maut), hewan akan lenyap atau berubah dalam bentuk kehidupan yang lain.
- Materi dari entitas kehidupan fisik dan psikis basyar berasal dari air dan tanah. Karena itu, antara fisik dan psikisnya tidak memiliki sifat yang sama. Oleh sebab itu, ketika terjadi al-maut (kematian fisik), entitas psikis dari al-Basyar tidak lenyap. Dengan kata lain, ketika kematian fisik terjadi, entitas psikis dari basyar tetap eksis dan hanya mengalami wafāt.
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا
“Allah me-wafat-kan ‘nafs-nafs’ ketika terjadi al-maut.” (Az-Zumar: 42)