Kita sudah mendiskusikan al-Qalam dan al-Bayān, di mana dapat disimpulkan bahwa al-Qalam dan al-Bayān harus melalui pengajaran untuk pertama kalinya. Tanpa adanya proses pengajaran, manusia tidak dapat memahami dan mengembangkan al-Qalam dan al-Bayān, baik pada masa kini maupun masa depan dalam bentuk ilmu pengetahuan.
Ada satu permasalahan yang memerlukan penjelasan, yaitu siapa sosok pertama yang memberikan pengajaran pada kurun waktu antara Adam dan Nabi Nuh AS, ketika manusia telah memiliki bahasa dan ilmu pengetahuan.
Berdasarkan urutan yang kita ketahui, Idris (Henoch) adalah sosok yang ditempatkan antara Adam dan Nabi Nuh AS. Namun, penempatan ini sebenarnya berasal dari Perjanjian Lama. Sedangkan al-Qur’an tidak memberikan informasi secara rinci mengenai hal ini, melainkan hanya menyebutkan Idris dalam dua ayat.
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا ﴿٥٦﴾ وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا ﴿٥٧﴾
“Dan ceritakanlah tentang Idris di dalam al-Kitab. Sesungguhnya dia adalah sosok yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (Maryam: 56-57)
وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّابِرِينَ ﴿٨٥﴾ وَأَدْخَلْنَاهُمْ فِي رَحْمَتِنَا ۖ إِنَّهُم مِّنَ الصَّالِحِينَ ﴿٨٦﴾
“Dan Ismail, Idris, dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar”. (Al-Anbiya’: 85-86)
Ayat pertama yang menyebut nama Idris tidak disejajarkan dengan tokoh lain, dan ia disebut sebagai Nabi. Sedangkan pada ayat kedua, Idris disejajarkan dengan Ismail dan Dzulkifli.
Jika Idris pada ayat pertama (QS. Maryam: 56–57) dianggap sebagai sosok antara fase Adam, maka Idris pada ayat kedua (QS. Al-Anbiya: 85–86) merupakan sosok yang berbeda. Namun, jika Idris pada ayat pertama dipahami sebagai sosok setelah Nuh, maka muncul pertanyaan: siapa yang pertama kali mengajarkan di antara fase Adam dan Nuh?
Dalam Perjanjian Lama, Idris dalam Islam dianggap sebagai Henokh, meskipun terdapat beragam informasi. Henokh disebut sebagai keturunan Set (Adam dan Hawa memiliki tiga anak: Kain, Habil, dan Set), dengan garis keturunan: Set → Enos → Kenan → Mahalalel → Yared → Henokh.
Namun, Henokh juga disebut sebagai keturunan Kain, bahkan sebagai putra sulung Ruben.
- Kejadian 46:8: “Inilah nama-nama bani Israel yang datang ke Mesir, yakni Yakub beserta keturunannya, anak sulung Yakub adalah Ruben.”
- Kejadian 46:9: “Anak-anak Ruben ialah Henokh, Palu, Hezron, dan Karmi.”
Dengan demikian, dalam Alkitab terdapat dua sosok Henokh: Henokh antara Adam dan Nuh, serta Henokh yang merupakan anak sulung dari Ruben bin Yakub.
Tentang kehidupan Henokh disebutkan:
- “Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mati, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya.” (Ibrani 11:5)
- “Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah.” (Kejadian 5:24)
Berdasarkan informasi tersebut, dapat disimpulkan bahwa sosok Idris pada QS. Maryam: 56–57 berbeda dengan Idris pada QS. Al-Anbiya: 85–86.
Dengan demikian, sosok pengajar tentang al-Qalam dan al-Bayan pada masa awal adalah Idris yang berada di antara fase Adam dan Nuh. Ia disebut Nabi karena kata naba’a berarti subjek yang membawa informasi untuk disampaikan kepada orang lain.
Pertanyaan: Apakah Idris (Henokh) ini seorang manusia pada fase Adam–Nuh, ataukah malaikat?
Jawaban:
1. Fungsi Idris/Henokh yang paling pasti adalah sebagai pembawa informasi. Nama Idris/Henokh sendiri bermakna “guru”, yaitu sosok yang berdedikasi dalam menyampaikan pengetahuan.
2. Terdapat dua kemungkinan penafsiran:
- Idris adalah manusia yang bertugas mengajarkan al-Qalam dan al-Bayan serta informasi lainnya yang diperolehnya dari malaikat yang diutus Allah.
- Idris adalah malaikat yang secara langsung diutus Allah untuk pertama kali mengajarkan al-Qalam dan al-Bayan kepada manusia pada fase antara Adam dan Nuh.
3. Jika Idris adalah manusia yang diajarkan oleh malaikat lalu mengajarkan secara estafet kepada manusia lainnya, maka timbul pertanyaan: mengapa Idris tidak mengalami kematian sebagaimana manusia pada umumnya?
4. Jika Idris adalah sosok malaikat, maka perannya adalah memberikan pengajaran tentang al-Qalam dan al-Bayan, sekaligus menyampaikan eskatologi, yaitu pengetahuan tentang peristiwa akhir, termasuk hari kiamat dan adanya pembalasan.
Alasan-alasan yang dapat dijadikan argumen bahwa Idris pada fase Adam hingga Nuh adalah malaikat:
1. Pada fase perkembangan Adam, Allah telah menyatakan akan memberikan petunjuk. Petunjuk tersebut tidak mungkin dapat dipahami manusia tanpa terlebih dahulu menguasai al-Qalam dan al-Bayan.
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Firman Allah: Ihbith-lah kamu semuanya, kemudian jika datang petunjuk-Ku kepada kalian, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, maka tidak akan sedih/khawatir/takut.” (Al-Baqarah: 38)
2. Sebelum Nuh menerima wahyu langsung dari Allah tentang kenabian dan kerasulan, malaikatlah yang terlebih dahulu mengajarkan dan memberikan informasi kepada manusia tentang berbagai hal. Oleh karena itu, ketika Nabi Nuh menyatakan bahwa ia menerima wahyu, kaumnya berkata: “Mengapa bukan malaikat saja yang diutus?” Sebab sejak zaman nenek moyang mereka, malaikatlah yang datang langsung menyampaikan ajaran.
فَقَالَ ٱلْمَلَؤُا۟ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ مِن قَوْمِهِۦ مَا هَٰذَآ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَٰٓئِكَةً مَّا سَمِعْنَا بِهَٰذَا فِىٓ ءَابَآئِنَا ٱلْأَوَّلِينَ
“Maka pemuka-pemuka orang kafir dari kaumnya (Nuh) menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, yang hendak menjadi lebih tinggi dari kamu. Dan jika Allah menghendaki, tentu Dia akan mengutus malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu”. (Al-Mu’minun: 24)