Tema 19: Kata Kunci

oleh Iswan Muhammad Isa

Sampai dengan penjelasan terakhir, kita sudah memiliki landasan filosofis kebenaran sebagai kontrol metodologis dan alat verifikasi/validasi bagi setiap pemikiran, tindakan, dan penilaian dalam hidup dan kehidupan ini.

Kita juga sudah memiliki pijakan teknis dalam bentuk pola hubungan tauhid dalam satu kesatuan pemikiran, tindakan, dan penilaian. Pijakan teknis ini menjadi landasan bagi tindakan praktis.

Agar tindakan praktis selalu berada dalam kerangka Qur’ani secara komprehensif, koheren, rasional, dan logis, maka terlebih dahulu diperlukan pemahaman terhadap berbagai kata kunci yang digunakan dalam al-Qur’an.

Alasan Qur’ani mengapa kita perlu memahami berbagai kata kunci:

وَلِيَعْلَمَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا۟ بِهِۦ فَتُخْبِتَ لَهُۥ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَهَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan orang-orang yang diberi ilmu, meyakini al-Qur’an itu dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan tunduk qalbu (intelek, akal) mereka kepada al-Qur’an dan sesungguhnya Allah pemberi petunjuk kepada Shirathal Mustaqim.” (Al-Hajj: 54)

فَإِذَا قَرَأْتَ ٱلْقُرْءَانَ فَٱسْتَعِذْ بِٱللَّهِ مِنَ ٱلشَّيْطَٰنِ ٱلرَّجِيمِ

“Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah meminta perlindungan kepada Allah dari syaithan yang terkutuk.” (An-Nahl: 98)

Ayat di atas menjelaskan agar qalbu kita senantiasa tunduk kepada al-Qur’an dan tidak dipengaruhi oleh pemikiran syaithani, sehingga pemahaman kita tentang ad-Dīn tidak berbeda dengan al-Millah.

Selain itu, dari sisi syajarah (historis), kita dapat menyusun secara sederhana urutan wahyu hingga sampai pada kita dalam bentuk kodifikasi teks al-Qur’an sebagai berikut:

  1. Ide Awal Allah
  2. Wahyu kepada Rasulullah ﷺ
  3. Informasi Rasulullah kepada para sahabat
  4. Sahabat mencatat informasi Rasulullah tanpa tanda baca
  5. Para sahabat di bawah koordinasi Utsman bin Affan melakukan kodifikasi dan pemberian tanda baca
  6. Kodifikasi sempurna dalam bentuk teks yang kita terima hari ini

Secara ilustrasi:
Hal ini dapat digambarkan seperti berikut:

Hari ini yang sampai kepada kita adalah teks, yaitu tampilan paling luar yang dapat kita persepsi dalam bentuk dan suara. Teks paling luar inilah (dalam redaksi ayat-ayat al-Qur’an) yang mengandung “ide awal Allah yang perlu kita pahami.

Jadi, teks yang kita baca adalah representasi dari “ide awal Allah. Dengan perkataan lain, teks yang kita baca adalah form, sedangkan content-nya adalah ide awal Allah.

Dengan demikian, pemahaman kata kunci dalam al-Qur’an adalah bagaimana memilah dan memilih kata-kata yang penting, kemudian melakukan “otopsi teks” untuk memahami ide-ide awal yang tersimpan di dalamnya.

Dari ilustrasi gambar, dapat kita pahami bahwa teks merupakan representasi dari ide awal; dengan memahami teks diharapkan kita memahami ide awal. Disinilah, sebagai alat bantu, kita memerlukan pengetahuan tentang ilmu tanda, agar terbangun “abstraksi manusia” yang sejalan/sejajar dengan “abstraksi Allah”, menuju kebenaran asimtotis.

Manfaat memahami kata-kata kunci:
Peradaban manusia ke depan semakin bergerak ilmiah, rasional, dan logis, sehingga memerlukan bukti-bukti empiris (burhān). Dengan memahami Ide Awal Allah melalui “otopsi” kata-kata kunci, setidaknya kita telah meletakkan dasar aqidah bagi anak cucu kita agar mereka tidak terjebak dalam pemikiran, tindakan, dan penilaian yang ekstrem, baik ekstrem kanan maupun kiri.

Namun, perlu diingat, apapun makna, tafsir, atau takwil dari kata kunci, tetap harus berada dalam ruang lingkup landasan filosofis kebenaran dan pijakan teknis Qur’ani sebagai alat kontrol metodologis, sebagaimana telah dijelaskan pada bagian II dan bagian III dari pelajaran kita.

Penjelasan beberapa istilah di atas:

Ide Awal Allah: Menjelaskan maksud dan tujuan Allah sebagai entitas abstrak, serta hubungan antara Allah, alam, dan manusia beserta mekanisme di dalamnya.
Dalam cara memahami ini lahirlah berbagai aliran yang kita kenal saat ini seperti Syariat, Tareqat, Ma‘rifat, Tasawuf, Ilmu Kalam (Teologi), dan lain sebagainya.

Abstraksi Allah adalah cara pandang Allah yang disampaikan melalui wahyu tentang pola, bentuk, mekanisme, serta kualitas hubungan antara Allah, alam, dan manusia.

Abstraksi manusia adalah cara pandang manusia dalam bentuk usaha untuk mensejajarkan abstraksi Allah dan abstraksi manusia agar tercapai kebenaran asimtotis.

Kebenaran asimtotis adalah kebenaran yang dicapai manusia, di mana kebenaran tersebut bergerak menuju kesejajaran dengan kebenaran menurut Allah.

Dengan demikian, tidak ada “titik persekutuan” antara garis kebenaran Allah dan garis kebenaran manusia. Oleh sebab itu, dalam pencarian kebenaran tidak ada akhirnya.

Tafsir berasal dari kata ف-س-ر yang bermakna “keterangan sesuatu dan penjelasannya/klarifikasinya.” Kata ini disebut satu kali.

وَلَا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئْنَٰكَ بِٱلْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang Haq dan yang paling baik penjelasannya. (Al-Furqon: 33)

Jadi fokusnya “penjelasan” sesuatu.

Ta’wil berasal dari kata “pendirian suatu bangunan”

بَلْ كَذَّبُوا۟ بِمَا لَمْ يُحِيطُوا۟ بِعِلْمِهِۦ وَلَمَّا يَأْتِهِمْ تَأْوِيلُهُۥ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَٱنظُرْ كَيْفَ كَانَ عَٰقِبَةُ ٱلظَّٰلِمِينَ

Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna padahal belum datang kepada mereka penjelasannya (Ta’wil). Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul). Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu. (Yunus: 39)

Jadi, fokusnya adalah “menyususun sesuatu dalam bentuk bangunan.”

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *