Tema 18: Pengetahuan Laduni

oleh Iswan Muhammad Isa

5. Pengetahuan Laduni

Dalam hubungan komunikasi melalui diri sendiri, telah dibahas adanya petunjuk yang berasal dari subjektivitas Allah. Petunjuk ini bersumber dari ar-Rahim, bukan ar-Rahman yang berproses berdasarkan wujud-wujud objektif.

Petunjuk yang bersumber dari ar-Rahim inilah yang disebut sebagai Pengetahuan Laduni.

Petunjuk Laduni (atau petunjuk rahimi, untuk membedakannya dengan petunjuk rahmani) dapat diperoleh melalui dua kondisi, yaitu:

1. Berdasarkan sikap atau perilaku manusia itu sendiri.

2. Berdasarkan kehendak langsung (sya’a) dari Allah.

***

1. Berdasarkan Sikap/Perilaku

Petunjuk laduni datang karena dibukakan oleh sikap/perilaku manusia seperti bertaqwa, berusaha, sungguh-sungguh, berjihad.

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Bertaqwalah kepada Allah, Allah memberi kalian ilmu. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282)

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

“Orang-orang yang berjihad (sungguh-sungguh) untuk Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami…” (Al-Ankabut: 69)

Berdasarkan ayat di atas, petunjuk laduni atau rahimi akan diperoleh ketika kita benar-benar melaksanakan petunjuk rahmani, yaitu melalui usaha-usaha dalam hukum-hukum wujud objektif seperti bertakwa dan berjihad, termasuk di dalamnya pelaksanaan sistem komunikasi seperti i‘tikaf, istikharah, dan lain-lain. Oleh sebab itu dikatakan: “Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (إِنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُحْسِنِينَ)

2. Berdasarkan kehendak lansung dari Allah

وَأَنَا ٱخْتَرْتُكَ فَٱسْتَمِعْ لِمَا يُوحَىٰٓ

“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan.” (Thaha: 13)

وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِى ٱلْيَمِّ وَلَا تَخَافِى وَلَا تَحْزَنِىٓ ۖ إِنَّا رَآدُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ

“Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa: Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya, maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan bersedih, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya salah seorang dari rasul-rasul Kami.” (Al-Qashash: 7)

فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَادِنَآ ءَاتَيْنَٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِندِنَا وَعَلَّمْنَٰهُ مِن لَّدُنَّا عِلْمًا

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan rahmat dari sisi Kami, dan Kami telah mengajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Al-Kahfi: 65)

Kata kunci dari kehendak langsung Allah berupa pengetahuan laduni adalah wahyu (وَحْيٌ).

Wahyu berasal dari akar kata و-ح-ي, yang bermakna pemberian informasi atau pengetahuan kepada pihak lain secara rahasia.

Dalam al-Qur’an, wahyu muncul dalam beberapa bentuk:

1. Wahyu yang diprogram secara organik pada makhluk hidup atau pada fenomena dunia fisik.

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.” (An-Nahl: 68)

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا ‎﴿٤﴾‏ بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا ‎﴿٥﴾

Pada hari itu, bumi menyampaikan beritanya, sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukan kepadanya.” (Az-Zalzalah: 4–5)”

2. Wahyu yang bersifat fuadi

Yaitu informasi yang dibawa oleh malaikat, dan sejak awal paling banyak digunakan dalam bentuk yang sederhana dan primitif, yaitu melalui pertemuan langsung dengan malaikat dalam wujud manusia.

وَلَقَدْ جَآءَتْ رُسُلُنَآ إِبْرَٰهِيمَ بِٱلْبُشْرَىٰ قَالُوا۟ سَلَٰمًا ۖ قَالَ سَلَٰمٌ ۖ فَمَا لَبِثَ أَن جَآءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ

“Dan sesungguhnya utusan Kami telah datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: ‘Salam.’ Ibrahim menjawab: ‘Salam.’ Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi panggang.” (Hud: 69, Musa juga menerima wahyu dalam bentuk suara)

3. Wahyu berupa bisikan halus

Wahyu ini terjadi ketika manusia menghadapi masalah serius, persoalan berpikir, atau problem ilmiah yang menyita segenap perhatian. Bentuk wahyu seperti ini masih dapat dialami manusia hingga hari ini. Contohnya terdapat dalam surah al-Qashash ayat 7 (wahyu kepada ibu Musa).

4. Wahyu yang datang dalam keadaan tidur

Dalam hal ini perlu dibedakan antara al-ḥulm dan al-manām.

Al-ḥulm adalah mimpi kosong akibat ilusi atau potongan memori yang muncul saat tidur, sehingga membingungkan. Inilah yang pernah dituduhkan kepada Nabi.

بَلْ قَالُوٓا۟ أَضْغَٰثُ أَحْلَٰمٍۭ بَلِ ٱفْتَرَىٰهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِـَٔايَةٍ كَمَآ أُرْسِلَ ٱلْأَوَّلُونَ

“Bahkan mereka berkata (pula): “ini mimpi-mimpi yang kacau/bingun (أضغاث أحلام), malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair, maka hendaknya ia mendatangkan ayat (terjemahan mukjizat) kepada kita, sebagai-mana rasul-rasul yang telah lalu di-utus”. (Al-Anbiya’: 5)

Al-manām adalah informasi yang datang ketika tidur, sebagaimana dialami Nabi Ibrahim dan Nabi Yusuf (lihat ash-Shaffat: 102 dan Yusuf: 5).

Ada pula mimpi yang benar tetapi bukan merupakan wahyu dalam bentuk nyata atau simbol. Mimpi seperti ini dapat dialami semua manusia dan disebut mubasyyarah.

5. Wahyu dalam bentuk abstrak

Ini merupakan tingkatan paling tinggi, yaitu ketika Jibril datang tanpa melalui persepsi manusia (tidak dapat dilihat) dan “menyatu” untuk mendokumentasikan ayat-ayat. Wahyu ini hanya dialami oleh Rasulullah, selain wahyu yang bersifat fuadi.

Jadi, bagi manusia dalam memperoleh pengetahuan laduni dapat terjadi melalui:

  1. Bisikan halus.
  2. Manām dalam bentuk mubasyyarah.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *