Semua pengetahuan yang kita miliki, baik tentang masa lalu, masa kini, maupun masa depan, termasuk apa yang kita diskusikan ini, tidak mungkin ada dan terlaksana tanpa didasari atau berasal dari sumber serta bentuk ilmu pengetahuan.
Pada umumnya, sumber dan bentuk ilmu pengetahuan diperoleh melalui jalur formal (institusi pendidikan) maupun nonformal (institusi masyarakat). Akibatnya, kebenaran yang kita dapatkan sering kali bergantung pada institusi tempat kita berada (sekolah, pesantren, pengajian, masyarakat, dan lain-lain), sehingga kebenarannya bersifat perspektival, tergantung dari mana kita menemukannya.
Secara Qur’ani, terdapat beberapa bentuk dan sumber ilmu pengetahuan, yaitu:
- Pengetahuan Informasi
- Pengetahuan Jadal
- Pengetahuan Fuadi (nalar)
- Pengetahuan Qalbi (intelektual)
- Pengetahuan Laduni (Ilahiyyah)
***
1. Pengetahuan Informasi
Secara umum, terdapat tiga entitas yang dapat kita persepsi, yaitu: bentuk (melalui indera penglihatan), suara (melalui indera pendengaran), dan rasa (melalui indera perasaan). Ketiga entitas inilah yang menjadi cikal bakal perkembangan ilmu pengetahuan manusia. Pengetahuan dari ketiga entitas tersebut dapat diperoleh secara langsung dari objek atau secara mutawātir dari subjek kepada subjek lain hingga subjek terakhir yang menerimanya.
Pemindahan informasi secara estafet ini pada umumnya berlangsung melalui proses pembelajaran, baik pada masa lalu, masa kini, maupun di masa depan.
Pada masa lalu, misalnya dalam konteks cikal bakal perkembangan bahasa dan pemikiran, kelompok manusia Adam memulai pembelajaran melalui asmā’ (simbol). Pada tahap al-Insān, pembelajaran berlangsung melalui al-qalam (abstraksi perbedaan) dan al-bayān (bahasa sempurna) sebagaimana firman Allah:
وَعَلَّمَ آدَمَ ٱلۡأَسۡمَآءَ كُلَّهَا
“Dan (Allah) mengajarkan Adam asma’.” (Al-Baqarah: 31)
ٱلَّذِي عَلَّمَ بِٱلۡقَلَمِ
“Yang mengajarkan dengan al-Qalam.” (Al-‘Alaq: 4)
خَلَقَ الْإِنسَانَ ﴿٣﴾ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ ﴿٤﴾
“Mengajarkan (insan) berbicara.” (Ar-Rahman: 3–4)
Pengetahuan informasi diperoleh melalui pengajaran. Tanpa adanya pengajaran, manusia tidak mungkin memperoleh atau memiliki pengetahuan, bahasa, maupun pemahaman terhadap bahasa.
Hingga hari ini, pengetahuan informasi melalui pembelajaran pertama kali masih berlangsung dalam kehidupan manusia. Hal ini dapat diamati pada perkembangan bayi hingga dewasa, di mana proses asmā’, qalam, dan bayān tetap berlangsung.
Dalam sejarah manusia, pembelajaran pertama kali dilakukan oleh malaikat. Sepanjang yang dapat dipahami, malaikat tersebut dikenal dengan nama Idris, yang dalam Bibel disebut Henoch.
Namun, dalam konteks ini istilah nabi tidak dimaksudkan sebagai sosok penerima wahyu, melainkan sebagai pembawa informasi (naba’a), yang dalam hal ini dipahami sebagai malaikat. Mengapa dipahami sebagai malaikat? Karena, sejauh pengetahuan yang ada, baik dari Bibel maupun informasi dalam tradisi Islam, Idris atau Henoch tidak mengalami kematian.
Setiap nafs pasti mengalami kematian, sedangkan malaikat bukanlah nafs. Oleh karena itu, Idris tidak mengalami kematian.
Jika yang dimaksud nabi adalah sosok penerima wahyu, maka hal tersebut dimulai sejak Nabi Nuh. Selain itu, sebagaimana Adam, Idris juga tidak memiliki pengikut atau umat yang dipimpinnya sebagaimana nabi-nabi setelah Nuh.
Argumentasi lain yang mendukung bahwa Idris adalah malaikat yang mengajar dan menyampaikan informasi adalah pernyataan umat Nuh AS ketika mereka membantah.
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا هَـٰذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَائِكَةً مَّا سَمِعْنَا بِهَـٰذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ
“Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.” (Al-Mu’minun: 24)
Ayat ini menjelaskan kepada kita:
Wahyu yang diberikan kepada manusia dimulai sejak Nabi Nuh. Hal ini ditegaskan kembali dalam surah an-Nisā’ ayat 163.
Sebelum Nabi Nuh, informasi dibawa atau disampaikan oleh malaikat.
Idris hidup sebelum Nabi Nuh, sehingga Idris lebih tepat dipahami sebagai malaikat. Oleh karena itu pula Nabi Idris tidak mengalami kematian.
Kemungkinan lain, Idris adalah manusia (al-basyar) yang diajari oleh malaikat, kemudian mengajarkan ilmunya kepada manusia lain. Namun pendapat ini terbantahkan oleh surah al-Mu’minūn ayat 24, serta informasi bahwa Idris tidak mengalami kematian.
Dari keterangan al-Qur’an inilah dapat dipastikan bahwa Adam bukanlah nabi dalam arti penerima wahyu dari Allah untuk disampaikan kepada kaumnya, karena baik Adam maupun Idris tidak memiliki kaum sebagaimana nabi-nabi lain setelah Nuh.
Al-Qur’an dan hadits juga merupakan pengetahuan informasi bagi kita, tetapi derajatnya berbeda:
- Al-Qur’an adalah informasi (wahyu) yang hadir bersamaan dengan masa hidup Rasulullah dalam bentuk teks (pencatatan).
- Hadits adalah informasi yang teksnya baru hadir jauh setelah Rasulullah wafat.
Al-Qur’an merupakan informasi (wahyu) yang sampai kepada kita tanpa sanad dan tanpa revisi. Sedangkan hadits sampai melalui sanad dan rawi yang sangat panjang, bersumber dari manusia secara mutawātir. Sebagai informasi, transmisi mutawātir tetap memiliki kemungkinan keliru, baik disengaja maupun tidak.
Dengan demikian, al-Hadits perlu diverifikasi menggunakan al-Qur’an yang bersifat langsung tanpa sanad dan rawi, sebab al-Hadits diperoleh melalui bentuk, suara, dan nalar yang tetap memiliki potensi kekeliruan.
Oleh sebab itu dikatakan:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَـٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا
“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak memiliki pengetahuan/ilmu tentangnya. Sungguh, pendengaran, penglihatan, & fu’ad (nalar), semuanya itu akan diminta pertanggungjawaban.” (Al-Isra: 36)
Semoga dengan pengetahuan/ilmu yang kita dapatkan kita sudah memenuhi al-Isra: 36.