Tema 12: Hubungan Non Verbal Diri Manusia

oleh Iswan Muhammad Isa

Nafs (diri manusia sebagai entitas hidup) memiliki dua sisi:

  1. Nafs fisik, yaitu badan material yang termasuk ke dalam ranah alam semesta.
  2. Nafs psikis, yaitu entitas mental yang menjadi bagian dari komunikasi non-verbal melalui diri manusia.

Nafs psikis memiliki sifat otonom dan potensi kesadaran melalui “nafakh ruh,” yaitu sebagian kecil dari Kesadaran Tunggal.

Secara esensial terdapat kesamaan potensi antara “kesadaran manusia” dan “Kesadaran Tunggal,” meskipun dengan kapasitas yang berbeda. Kesamaan inilah yang memungkinkan terjadinya komunikasi antara Kesadaran Tunggal (Allah) dan kesadaran manusia.

Kemungkinan komunikasi tersebut memunculkan berbagai aplikasi dalam bentuk aliran pemikiran atau praktik spiritual, seperti ma’rifat, tarekat, tasawuf, dan lainnya. Inti dari semua ini adalah upaya membangun komunikasi guna memperoleh petunjuk di luar teks (al-Qur’an) yang tertulis, termasuk juga melalui teks alam semesta.

Namun perlu dipahami, apapun bentuk petunjuk yang diperoleh tidak lain hanyalah berupa asma (simbol subjektif) atau ayat (tanda objektif) dari Realitas Tunggal (Allah/Ahad), bukan wujud material yang dapat dipersepsi. Sebab, Realitas Tunggal (Allah) tidak sama dengan syai’ (benda/material).

لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَيْءٞ

“Allah tidak serupa dengan sesuatu” (Asy-Syura: 11)

Bagaimana hal ini dikelola secara teknis bergantung pada konsep-konsep dari berbagai aliran yang ada.

Al-Qur’an menjelaskan bahwa nafs psikis dapat mengalami manām (الْمَنَامُ), yaitu penampakan dalam kesadaran tidur atau dalam bentuk fenomena tertentu.

قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلْمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ

“Ibrahim berkata: Hai anakku, sungguh aku melihat dalam mimpi aku menyembelihmu.” (Ash-Shaffat: 102)

إِذۡ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّي رَأَيۡتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوۡكَبٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ رَأَيۡتُهُمۡ لِي سَٰجِدِينَ

“Ingatlah ketika Yusuf berkata pada ayahnya: Wahai ayahku, sungguh aku telah melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya bersujud kepadaku.” (Yusuf: 4)

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa komunikasi dapat terjadi secara individu, baik melalui asma (simbol subyektif) maupun melalui ayat (tanda objektif). Di sinilah fungsi doa yang, dalam konteks ini, menjadi sarana memohon petunjuk, baik melalui al-manām (pengetahuan dalam bentuk empiris) maupun melalui pengamatan fenomena atau objek dalam bentuk pengetahuan rasional dan logis.

Selama ini kita kurang terbiasa mengelola bentuk hubungan non-verbal individu ini, padahal jelas nafs psikis memiliki potensi untuk itu. Namun perlu digarisbawahi bahwa apa pun yang kita alami dan pahami harus dipastikan tidak melanggar batas-batas hubungan lainnya, baik landasan filosofis maupun pijakan teknis.

Batas pelanggaran ini dapat berasal dari jin, manusia, ilusi, atau kesalahpahaman terhadap jenis komunikasi yang dialami.

Selain doa sebagai bentuk komunikasi individual-subjektif, terdapat dua konsep komunikasi lain, yaitu shalat/shalawat dan dzikir.

Kata shalat (jamaknya shalawat) bermakna “membangun akses, keterhubungan, atau komunikasi.” Dalam konteks struktural, shalat lebih dikenal sebagai bentuk ritual dengan rukun dan syarat yang telah ditentukan.

إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku; maka sembahlah Aku dan dirikanlah Shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14)

Shalawat dalam arti doa untuk membangun akses terdapat dalam bacaan shalat ketika duduk tahiyat. Sedangkan shalawat dalam arti “keterhubungan atau komunikasi” dapat dilihat pada al-Ahzab: 56.

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّ

Potongan ayat tersebut menjelaskan adanya hubungan yang terbentuk antara Allah dan malaikat kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Apakah manusia juga bisa mendapatkan “keterhubungan atau komunikasi” dari Allah (shalawat dari Allah)? Jelas bisa, sebagaimana disebutkan dalam al-Baqarah: 157.

أُوْلَٰٓئِكَ عَلَيۡهِمۡ صَلَوَٰتٞ مِّن رَّبِّهِمۡ وَرَحۡمَةٞۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُهۡتَدُونَ

“Mereka itulah yang mendapat shalawat dari Tuhan mereka dan mendapat rahmat. Mereka mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 157)

Terhadap Rasulullah ﷺ kita juga diperintahkan untuk membangun hubungan atau akses, karena beliau merupakan titik rujuk antara kita dan Allah. Hal ini ditegaskan dalam lanjutan al-Ahzab: 56.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا

“Hai orang beriman, bershalawatlah atas Nabi dan ucapkanlah salam penuh hormat kepadanya.”

Ayat ini berbeda dengan sebelumnya. Jika pada ayat sebelumnya Allah dan para malaikat membangun akses kepada Nabi, maka dalam ayat ini kita diperintahkan oleh Allah untuk membangun akses kepada Nabi.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (An-Nisa: 59)

Zikir juga merupakan bentuk hubungan komunikasi, baik dalam bentuk verbal maupun non-verbal.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ‎﴿١٩٠﴾‏ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulul albab, (yaitu) orang-orang yang berdzikir kepada Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring.” (Ali Imran: 190-191)

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتُهُۥ زَادَتْهُمْ إِيمَٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila dingatkan kepada Allah getarlah qalbu mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al-Anfal: 2)

Zikir (ingatan, pengetahuan, memori) adalah suatu kondisi yang dapat menimbulkan perubahan sikap, baik pada pemikiran, tindakan, maupun penilaian. Melalui zikir, kita dapat membangun komunikasi dua arah antara ingatan dan yang diingat.

One Comment

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *