Kita sudah membahas bahwa selama ini persepsi kita terhadap “doa” yang kita maknai dengan “permintaan/permohonan” ternyata keliru. Doa hanya bermakna “seruan/panggilan” dan tidak lebih dari itu. Bagi yang belum membaca artikelnya silakan klik link ini.
Selanjutnya, ada premis yang selama ini kita pegang teguh padahal sudah diketahui tidak terbukti, yaitu premis bahwa Allah akan mengabulkan seluruh permintaan hamba-Nya. Karena faktanya tidak demikian, maka disusunlah narasi untuk melogikakan premis ini yaitu bahwa Allah mengabulkannya dengan 3 cara:
- Langsung dikabulkan. Jika tidak,
- Diganti dengan yang lebih baik. Jika masih tidak,
- Menjadi pundi-pundi pahala di akhirat kelak.
Narasi ini, yang awalnya digunakan untuk melogikakan premis Allah mengabulkan seluruh permintaan hamba-Nya, justru malah mengacaukan premis dan tidak menjadikannya lebih logis. Narasi poin 1 & 2 masih bisa kita pahami dengan sehat, tapi poin ketiga? Kita meminta sesuatu itu kan untuk kepentingan kita, kenapa jadi pahala? Dari mana juntrungannya? Sungguh ini narasi yang tidak koheren.
Sebetulnya, premis Allah berjanji mengabulkan permintaan ini tidak pernah ada dalam al-Qur’an. Artinya Allah tidak pernah menjanjikan demikian. Premis ini berasal dari kesalahan dalam mengambil kesimpulan dari al-Qur’an. Izinkan saya membuktikannya.
Ayat yang biasa digunakan sebagai dasar permis ini adalah firman Allah:
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
Sebelumnya kita sudah membahas bahwa kata “doa” dengan segala derivasinya bermakna seruan/panggilan. Kemudian kata “astajib” (أستجب) berasal dari akar kata ja-wa-ba (ج و ب) yang maknanya “merespons”. Jadi apabila kita artikan redaksi ayat itu secara proporsional, maka terjemahan yang benar adalah “dan Tuhanmu berkata, “serulah Aku pasti akan Aku respons”. Bukan “mintalah kepada-Ku pasti akan Aku kabulkan”.
Begitu juga dengan ayat lainnya:
أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
Kata “ujibu” (أجيب) dalam ayat ini tidak bermakna “mengabulkan” (tidak ada hubungannya dengan kata-kata qabul (قبول)), tapi merespons apabila hamba-Nya menyeru atau memanggil.
Apabila kita lihat dari sisi lainnya, kita dapat mengkritik premis Allah mengabulkan permintaan hamba dengan melihat apa yang terjadi pada para nabi. Apakah seluruh permintaan para nabi dikabulkan oleh Allah? Jelas tidak, walaupun permintaannya baik.
- Permintaan Ibrahim agar ayahnya diampuni, ditolak. (Asy-Syu’ara: 86 junto at-Taubah: 113-114)
- Permintaan Nuh agar anaknya diselamatkan, ditolak. (Hud: 45-48)
- Permintaan Muhammad agar diturunkan azab ketika perang agar seluruh orang musyrik binasa bersama dengan dirinya, ditolak. (Al-Anfal: 33)
Ayat-ayat di atas jelas menunjukkan bahwa tidak semua permintaan Allah kabulkan bahkan untuk para utusan-Nya. Jadi, premis yang selama ini kita pegang teguh adalah premis yang keliru dan tidak Qur’ani. Dan jelas tidak dapat dibuktikan di realitas kehidupan kita.
6 Comments
Kesalahan dari pemahaman kebanyakan ummat Islam selama ini..Jazakallah Ustadz..
Ijin bertanya ustadz…
Bagaimana dengan bacaan dalam shalat ustdaz? Apakah kondisi responnya ada perbedaan dengan ke 3 nabi diatas?
Maksudnya gmn bu?
Shalat itu kan konektivitas hamba dengan Allah tapi misal , dalam bacaan duduk diantara 2 sujud, itu seperti permohonan hamba pada Allah, ustadz. Nah itu bagaimana ustadz apakah akan sama seperti ke 3 nabi diatas, ada kemungkinan tidak diqobul?
Nah, berarti tugas kita adalah melakukan sesuatu agar kita dapat jaminan. Misalnya redaksi “ampunilah aku”, ya akan dapat jaminannya apabila kita bertobat & memperbaiki diri. Kalau gak ada komitmen, ya gak bakalan. Biarpun kita tersungkur menangis mengemis2 ampunan
Oo…Jadi harus ada aksi dan reaksi dari diri kita untuk mewujudkan suatu permohonan tersebut, rahmani berlaku juga untuk selanjutnya mendapatkan rahimnya Allah. Begitupun ketika memohonkan orang lain, harus ada usaha dari diri orang tsb untuk memantaskan diri menjadi orang yg diharapkan dari permohonan kita kepada Allah, sehingga Allah pun pantas mengqabulnya.
Apakah betul demikian ustdaz?