Benarkah Perbuatan yang Dihisab Hanya Shalat?

oleh Guru Mulia

Kita pastinya sudah tidak asing dengan sebuah hadits yang menyatakan bahwa perbuatan yang pertama kali ditimbang atau dihisab adalah shalat, apabila shalatnya benar maka benarlah seluruh amalannya dan apabila rusak maka rusaklah seluruh amalannya.

Sebetulnya hadits ini datang dalam berbagai versi. Tapi apapun versinya, yang jelas apapun hasil pemikiran manusia (termasuk hadits) tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an. Hadits di atas menjadi salah satu hadits (tidak semua, kita tidak menyetujui inkar hadits secara keseluruhan) yang harus kita abaikan lantaran bertentangan dengan al-Qur’an. Di mana letak pertentangannya?

Kita sudah diajarkan dari kecil bahwa seluruh amalan kita akan ditampakkan di akhirat untuk dihisab. Perhitungannya pun cukup mudah dibayangkan, manakala kebaikan lebih banyak dari keburukan, maka kita beruntung. Namun apabila keburukan lebih banyak dari kebaikan maka kita merugi. Hal ini dapat kita lihat dalam firman Allah:

يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ النَّاسُ أَشْتَاتًا لِّيُرَوْا أَعْمَالَهُمْ ‎﴿٦﴾‏ فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ‎﴿٧﴾‏ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ ‎﴿٨﴾‏

“Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka perbuatan mereka, Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihatnya pula.” (Al-Zalzalah: 6-8)

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran, maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Al-A’raf: 8)

Dari kedua ayat di atas kita dapat menyimpulkan bahwa seluruh perbuatan kita akan diperlihatkan. Untuk apa diperlihatkan? ya jelas untuk diperhitungkan seluruhnya. Dari sini kita melihat bahwa pertimbangan amal akan dilakukan terhadap seluruh amal kita, bukan hanya shalat kita.

Jadi, andaikata redaksi hadits hanya “perbuatan yang pertama kali dihisab adalah shalat” tentunya tidak menjadi masalah karena tidak bertentangan dengan al-Qur’an. Allah pun tidak menginformasikan dari perbuatan mana seluruh amalan kita akan dihisab. Namun yang membuat bertentangan dengan al-Qur’an adalah redaksi setelahnya yaitu “apabila shalatnya beres semuanya beres“. Tentu penilaian yang adil tidak dapat dilakukan demikian sedangkan Allah seadil-adilnya yang melakukan perhitungan.

Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan lain juga bahwa hadits itu belum tentu berasal dari Nabi SAW, bisa jadi benar bersumber dari Nabi SAW bisa jadi tidak. Hadits-hadits yang bertentangan dengan al-Qur’an tidak mungkin berasal dari Nabi SAW karena Nabi SAW tidak mungkin memberikan pernyataan yang bertentangan dengan al-Qur’an biarpun haditsnya dishahihkan oleh perawi haditsnya. Kesahihan hadits hanya merupakan penilaian subjektif dari perawi hadits, bukan berdasarkan verifikasi Rasulullah SAW, jadi bisa saja terjadi kesalahan.

2 Comments

  1. Mo tanya pak :
    1. Amal apa yg dapat membuat berat timbangan kebaikan
    2. Umur sdh tua, tempo dulu banyak berbuat keburukan, lalu bgmn cara menyeimbangkan agar timbangan kebaikannya lebih besar, apa dimungkinkan
    Ditunggu jawabannya, Terima kasih

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *