Selama ini kita meyakini bahwa Nabi SAW sosok yang buta huruf lantaran disebutkan dalam al-Qur’an sebagai “ummiy” (الأمي). Apakah benar begitu? Apakah benar kata “ummiy” bermakna “buta huruf”? Mari kita bahas.
Sebelum menentukan bahwa Nabi SAW buta huruf atau tidak, mari kita mencari dulu makna kata “ummiy” sesuai dengan kaedah Bahasa Arab dan penggunaannya dalam al-Qur’an.
Kata Ummiy berasal dari akar kata hamzah-mim-mim (أ م م) yang bermakna “mengacu/menuju”. Untuk memudahkan dalam memahami makna dasar ini, mari kita tela’ah makna beberapa kata derivatifnya:
Umm (الأم) bermakna “ibu” karena ibulah tempat mengacu atau menuju seorang anak.
Imam (الإمام) bermakna “pemimpin” atau “pemimpin shalat” dalam makna khususnya karena imam merupakan acuan gerakan dalam shalat berjamaah.
Ummat (الأمة) bermakna “umat” atau komunitas masyarakat yang memiliki konsensus berupa aturan bersama yang harus dipatuhi.
Dari berbagai makna kata derivatif, kita dapat menyimpulkan bahwa akar kata أ م م mempunyai cangkupan makna adanya sesuatu yang dituju yang menjadi acuan. Lantas apa makna spesifik dari “ummiy” yang berasal dari akar kata yang sama?
Kalaulah “ummat” merupakan komunitas masyarakat yang memiliki konsensus berupa aturan bersama yang harus dipatuhi, maka kata “ummiy” adalah kebalikannya. Kata “ummiy” bermakna kelompok masyarakat atau individu yang tidak memiliki acuan, dalam konteks ini spesifik pada acuan keagamaan. Jadi, ummiy pada dasarnya bermakna orang-orang yang tidak pernah menjadi umat dari para nabi dan tidak juga memiliki kitab suci sebagai acuan hukum mereka.
Apakah satu akar kata bisa melahirkan dua kata derivatif yang saling berlawanan seperti “umat” dan “ummiy”?
Inilah uniknya Bahasa Arab! Dalam Bahasa Arab ada sebuah kaedah linguistik yang disebut at-Tadhad (التضاد) yaitu kata yang sama mempunyai dua makna yang saling berlawanan. Contohnya seperti ‘a-ba-da (ع ب د) yang bisa bermakna “mematuhi” atau “mengingkari”.
Inilah makna ummiy yang terkandung dalam firman Allah misalnya:
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummiy yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (Al-A’raf: 158)
Dalam ayat ini Nabi SAW disebut sebagai Nabi yang ummiy karena sejatinya beliau bukanlah pengikut dari nabi-nabi sebelumnya dan tidak juga termasuk Ahli Kitab. Makna ini juga dapat kita lihat dengan jelas apabila kita memerhatikan ayat-ayat lainnya seperti:
وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ
“Dan katakanlah kepada orang-orang yang diberikan al-Kitab (Ahli Kitab) dan orang-orang ummiy sudahkah kalian berserah diri?” (Ali ‘Imran: 20)
Dalam ayat ini, orang-orang ummiy disebutkan setelah Ahli Kitab dan dipisahkan dengan wawu athaf. Dengan demikian, golongan ummiy adalah golongan yang berbeda dengan Ahli Kitab. Dengan demikian, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa golongan ummiy adalah non Ahli Kitab atau lebih tepatnya orang-orang netral.
Orang-orang Arab yang hidup di zaman Nabi SAW diutus sebagai nabi adalah komunitas masyarakat yang tidak pernah diutus kepada mereka utusan Tuhan manapun sehingga mereka disebut ummiy dalam firman Allah:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ
Dengan demikian, keliru apabila kita mengatakan “ummiy” bermakna buta huruf. Lantas apakah seluruh orang Arab yang diutus kepada mereka Nabi Muhammad, merupakan kumpulan orang-orang buta huruf?
Tentunya kita tidak dapat berkata demikian karena faktanya orang-orang Arab adalah orang-orang yang sangat cinta kebudayaan mereka sendiri terutama bahasa. Orang Arab banyak melahirkan pujangga-pujangga hebat yang karya hebatnya biasa ditempel di dinding Ka’bah. Jadi tidak mungkin kita dapat mengklaim bahwa seluruh orang Arab pada waktu itu buta huruf.
Di samping itu, tugas kenabian yang paling penting adalah menerima wahyu yang kemudian wahyu tersebut harus disampaikan kepada manusia, bukan hanya yang hidup sezaman dengan beliau, akan tetapi untuk seluruh manusia sampai hari kiamat.
Dalam hal ini, tentu akurasi penulisan al-Qur’an harus ditentukan oleh Nabi SAW, tidak dapat diberikan kepada selain beliau, agar dapat diwariskan kepada generasi setelah beliau secara presisi.
Sebuah informasi harus diikat dengan redaksi yang presisi agar tidak berubah maknanya. Redaksilah yang mengikat makna. Oleh sebab itu tugas Nabi lah yang menjaga orisinalitas teks wahyu yang diturunkan kepadanya dan harus disampaikan kepada umat manusia. Kalau beliau buta huruf, bagaimana memastikan orisinalitas teks yang ditulis para penulis wahyu dengan teks yang betul-betul diwahyukan kepada Nabi SAW?
Alasan logis yang juga dapat membuktikan bahwa Nabi SAW tidak buta huruf adalah perbedaan penulisan redaksi-redaksi ayat yang bunyinya sama. Misalnya saja redaksi “bismi” pada al-Fatihah: 1 yang berbeda penulisannya dengan “bismi” pada al-‘Alaq: 1. Mari perhatikan:


Kita dapat melihat dengan jelas bahwa “bismi” pada al-Fatihah: 1 tidak menggunakan alif setelah huruf ba’ sedangkan al-‘Alaq: 1 menggunakan alif setelah huruf ba’. Bagaimana Nabi SAW bisa menginstruksikan perbedaan tulisan apabila tidak mengenal huruf atau buta huruf?
Apabila Nabi SAW benar buta huruf, maka niscaya penulisan “bismi” akan ditulis dengan struktur huruf yang sama di seluruh isi al-Qur’an. Begitu juga sunnatullah yang menggunakan ta’ ta’nits (ت) seperti pada Fathir: 43 dan yang menggunakan ta’ marbuthah (ة) seperti pada al-Ahzab: 62, ini tidak mungkin terjadi kalau Nabi SAW tidak mengenal huruf.
Masihkah anda berasumsi Nabi SAW buta huruf?
6 Comments
Terimakasih ustadz, telah menambah pengetahuan saya .
Alhamdulillah, sama2 pak
Terimakasih guru..
Terjawab keragu2an saya.
Krn tdk masuk akal jk (di era tsb) seorang buta huruf dipercaya sbg utusan dagang ke negeri lain.
Ada pula dlm sebuah hadist menceritakan beliau menulis wasiat sebelum ajalnya.
Memang Nabi kita serig jadi pbjek mitos
Artikel yang mencerahkan
Alhamdulillah