Adakah Istidraj dalam Islam?

oleh Guru Mulia

Selama ini kita diajarkan oleh guru-guru kita di berbagai majlis ilmu bahwa Islam mengenal Istidraj yang dipahami sebagai pemberian nikmat oleh Allah SWT kepada seseorang yang terus-menerus berada dalam kemaksiatan dan kelalaian, namun nikmat itu justru menjadi jebakan yang menjerumuskannya ke dalam azab yang lebih pedih di akhirat.

Salah satu landasan ayat yang digunakan untuk Istidraj adalah:

فَلَمَّا نَسُوا۟ مَا ذُكِّرُوا۟ بِهِۦ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَٰبَ كُلِّ شَىْءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُوا۟ بِمَآ أُوتُوٓا۟ أَخَذْنَٰهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“Maka ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu (kesenangan) bagi mereka. Sehingga ketika mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka secara tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam putus asa.” (Al-An’am: 44)

Dan juga hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad:

إِذَا رَأَيْتَ اللهَ تَعَالَى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

“Jika kamu melihat Allah Ta’ala memberikan kepada seorang hamba (nikmat) dunia yang diinginkannya, padahal dia terus berada dalam kemaksiatan, maka (ketahuilah) bahwa itu adalah istidraj dari Allah.” (HR. Ahmad)

Apakah benar Islam mengenal Istidraj sebagai jebakan dari Allah?

Pertanyaan di atas tentunya harus kita jawab dengan landasan qur’ani. Mari kita bahas.

Yang harus kita kritisi pertama kali adalah ketiadaan kata istidraj dalam ayat yang digunakan sebagai dasar istidraj itu sendiri seperti yang disebutkan di atas. Kata istidraj justru hadir pada ayat lain seperti misalnya:

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangaur-angsur (نستدرج), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (Al-A’raf: 182)

فَذَرْنِي وَمَن يُكَذِّبُ بِهَٰذَا الْحَدِيثِ ۖ سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan perkataan ini (al-Qur’an). Nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (نستدرج) dari arah yang tidak mereka ketahui,” (Al-Qalam: 44)

Mari kita bahas dulu kata ini secara etimologis. Istidraj berasal dari akar kata da-ra-ja (د ر ج) yang mempunyai makna dasar “berjalan langkah demi langkah”. Beberapa kata derivatifnya adalah durj (درج) yang bermakna laci tempat menyimpan kosmetik atau sejenis lemari excel yang memiliki beberapa lantai, darajah (درجة) yang bermakna anak tangga atau derajat, tingkatan, atau urutan, dalam hal pangkat atau kedudukan, darrajah (دراجة) yang bermakna sepeda karena dikendarai dengan langkah demi langkah mengayuhnya.

Jadi, dari sini kita mengetahui bahwa istidraj bermakna membuat sesuatu naik atau turun secara eksponensial. Kita juga sudah memverifikasi bahwa kata istidraj digunakan dengan tepat dalam surat al-A’raf: 182 & al-Qalam: 44, yaitu orang-orang yang mendustakan firman Allah akan mengalami “penurunan” secara eksponensial karena ketidakpercayaannya. Dia akan mengalami kesulitan dalam hidup karena menolak petunjuk yang berasal dari Allah sebagai petunjuk dalam kehidupan.

Lantas, apakah istidraj disebutkan secara implisit dalam surat al-An’am: 44? Tentu tidak, malah ayat tersebut tidak menunjukkan proses eksponensial sesuai dengan makna istidraj melainkan menunjukkan proses yang cepat (بغتة).

Konteks ayat ini sebetulnya menceritakan umat-umat terdahulu yang “dibinasakan” oleh Allah dalam waktu cepat seperti umat Nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth, Syu’aib yang diceritakan dalam al-Qur’an, dan tidak menunjukkan sama sekali proses eksponensial binasanya umat-umat tersebut.

Dari sini kita tidak menemukan sama sekali dalam al-Qur’an pengertian kata “istidraj” seperti yang dipahami oleh umat Islam yaitu keyakinan bahwa Allah menjebak orang yang berada dalam kemaksiatan dengan nikmat-nikmat agar mereka tidak sadar. Lantas apakah ada kaitannya antara derajat seseorang di mata Allah dengan perolehan nikmat?

Apabila kita merujuk ke surat al-Fajr: 15-17

فَأَمَّا الْإِنسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ﴿١٥﴾وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ﴿١٦﴾كَلَّا

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”. (15) Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”. (16) Sekali-kali tidak (demikian),”

Dari sini kita dapat memahami bahwa perolehan nikmat seseorang tidak ada kaitannya dengan derajat dia di mata Tuhan. Dan memang faktanya, orang yang derajatnya baik di mata Tuhan ada yang memperoleh banyak nikmat seperti Nabi Sulaiman dan ada juga yang tidak seperti Nabi Ayyub. Begitu juga orang yang derajatnya buruk di mata Tuhan ada yang memperoleh banyak nikmat seperti Fir’aun dan Qarun dan ada yang tidak.

Kenikmatan dapat diperoleh dari usaha objektif dengan memperoleh harta dan rezeki. Perolehan harta dan rezeki tidak ada kaitannya dengan ketaatan kepada Tuhan atau tidak, asalkan seseorang mampu secara objektif untuk menghasilkannya maka ia akan mendapatkannya, namun apabila tidak mampu yang maka akan sulit mendapatkannya.

One Comment

  1. Alhamdulillah.. sangat mencerahkan..
    Sekarang manhaj ku sudah berubah.. manhaj yg di pake oleh ust iswan dan ustd Syarif.. semoga manhaj ini selalu berkembang.. dengan manhaj ini Sunni dan Syiah bisa bertemu.. ..

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *