Shalawat Bukan Seperti Itu!

oleh Guru Mulia

Selama ini kita menganggap shalawat sebagai sebuah ucapan yang berbunyi “Allahumma shalli ‘ala Muhammad….”. Artinya selama ini kita memahami bershalawat kepada Nabi tidak lebih dan tidak kurang layaknya mantera, hanya sekedar ucapan yang bahkan diyakini dapat mendatangkan keuntungan materil. Oleh sebab itu ada orang-orang yang kurang waras sampai pegang mobil dibacakan shalawat berharap bisa kebeli mobil.

Tentu saja shalawat model baca mantera begini bukanlah yang dimaksud oleh Allah dalam al-Qur’an. Mari kita bahas!

Mari kita mulai pembahasan dengan menyambung puzzle antara kedua ayat sehingga kita memahami betul-betul apa itu shalawat, ashlul maddahnya, makna dasarnya, dan penggunaan kata shalawat dalam al-Qur’an beserta seluruh derivasinya.

Dalam QS. Al-Ahzab: 43 Allah berfirman:

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Dialah (Allah) yang bershalawat (yushalli) kepada kalian, dan para malaikat-Nya, untuk mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya.” 

Dalam QS. Ibrahim: 1. Allah juga berfirman:

الر ۚ كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ

“Alif-lam-ra, kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar kamu dapat mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya.

Bagaimana kita menyambung puzzle antara kedua ayat ini?

Dengan logika sederhana, artinya shalawat bersifat komunikatif. Hal ini sesuai dengan makna dasar dari kata shalawat. Shalawat (صلوات) merupakan bentuk jamak dari kata shalat (صلاة). Shalat berasal dari vokal dasar sha-la-wa (ص ل و) yang bermakna “membangun akses”.

Contoh ayat-ayat yang memuat kata sha-la-wa:

ِAl-Masad: 3

سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

“Dia (Abu Lahab) akan mengakses (yashla) api yang menyala-nyala”

Al-Lail: 15

يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى

“Tidak akan mengaksesnya (neraka) kecuali orang-orang yang paling menderita”

Al-Muthaffifin: 16

ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ

“Kemudian mereka akan menjadi orang yang mengakses (shalu) al-Jahim

Shalla-yushalli (صلّى – يصلّي), salah satu bentuk derivasi sha-la-wa, mempunyai makna menghubungkan akses atau mensampaikan akses/membangun komunikasi.

Silahkan perhatikan ayat-ayat berikut, apakah maknanya sudah sesuai dengan makna di atas:

Al-Haqqah: 31

ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ

“Kemudian mereka akan menghubungkan akses (bisa dimaknai secara sederhana dengan “memasukkan”) kepada al-Jahim”

At-Taubah: 103

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ

“Ambillah sebagian harta mereka sebagai sedekah yang mensucikan dan menaiktarafkan mereka dan hubungkan akses dengan mereka (bisa disederhanakan menjadi “hubungan dengan mereka”), sesungguhnya hubunganmu sebuah ketenangan bagi mereka”

Al-Ahzab: 43

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

“Dialah (Allah) yang berhubung dengan kalian untuk mengeluarkan kalian dari kegelapan menuju cahaya”

Kita sudah membuktikan bahwa shalawat dalam konteks manusia sadar adalah hubungan komunikatif melalui penelusuran di dalam al-Qur’an tentang penggunaan kata shalawat dan kata-kata derivatifnya di berbagai ayat.

Selanjutnya kita akan memahami mekanisme shalawat (terhubungnya) Allah dengan manusia melalui al-Ahzab: 65

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah bershalawat (berhubung) kepada Nabi, wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah (berhubunglah) kalian kepadanya dan berserahlah dengan sungguh-sungguh”

Ayat ini menggambarkan skema keterhubungan Allah dengan manusia yaitu melalui titik temu pada sosok Nabi. Wahyu yang hanya diturunkan kepada Nabi mengonfirmasi hal ini. Seluruh petunjuk Tuhan hanya turun melalui Nabi.

 

2 Comments

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *