Kita selama ini diajarkan untuk berinfaq atau berwakaf atas nama orang-orang yang sudah wafat (khususnya orang tua kita) dengan harapan dapat mengirimkan atau mempersembahkan pahalanya untuk orang-orang tersebut. Ada juga orang-orang yang sampai berhaji dan berumrah untuk mengirimkan pahalanya. Di level terendah, orang-orang sekedar mengirimkan pahala membaca surat al-Fatihah untuk dikirim ke mayit.
Sebenarnya sia-sia gak si yang kita lakukan ini? Ayo kita bahas.
Pada prinsipnya, pahala atas suatu perbuatan hanya kembali kepada pelakunya. Sama halnya dengan dosa yang juga hanya diberikan kepada pelakunya. Oleh sebab itu Allah berfirman:
وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ
“Dan tidaklah seseorang berbuat sesuatu kecuali untuk dirinya sendiri, dan seseorang tidak memikul dosa orang lain” (Al-An’am: 164)
Dari sini sudah sangat jelas bahwa kita tidak dapat mengirimkan pahala untuk orang lain. Pahala dan dosa adalah hasil dari perbuatan sendiri dan konsekuensinya di akhirat kembali kepada masing-masing individu.
Apabila seseorang berinfaq, berwakaf, berhaji dan berumrah, atau sekedar membaca surat al-Fatihah, tentu pahalanya akan kembali kepada dirinya sendiri dan tidak dapat diberikan kepada siapapun walau dia berniat untuk itu.
Namun, apakah mayit – yang sebagai orang tua misalnya – tidak mendapatkan apa-apa dari perbuatan anaknya yang berinfaq tadi?
Apabila orang tersebut berinfaq karena hasil didikan orang tuanya, tentu orang tuanya mendapatkan pahala sebatas pahala telah mendidik anaknya dengan baik, bukan pahala sesuai dengan nilai infaq dan ketulusan hati anaknya yang berinfaq. Hal ini termasuk “bekas-bekas” yang ditinggalkan orang tua dan akan masuk dalam perhitungan Hisab di akhirat sebagaimana firman Allah:
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ
“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata.” (Yasin: 12)
Jadi, lebih baik umat Islam sudah terima saja dengan hal itu. Orang yang sudah mati sudah terputus kesempatan dia untuk mendapatkan pahala kecuali dari “bekas-bekas” yang ditinggalkannya saja, bukan dari perbuatan orang lain biarpun anaknya sendiri, biarpun anaknya sangat berniat untuk melakukannya.
Hikmahnya, sebelum Anda semua menjadi mayat, silakan manfaatkan dengan berbuat baik sebanyak yang Anda mampu. Jangan tunggu mati dan mendapatkan kiriman pahala dari perbuatan anak yang tidak akan pernah sampai.
One Comment
👍👍👍👍👍