Selama ini kita diajarkan agar menuntun orang untuk membacakan syahadat atau kalimat tahlil atau hanya sekedar mengucap Allah ketika mendekati ajal sesuai dengan kondisi nafas, apabila nafas orang tersebut masih panjang kita tuntun untuk mengucap syahadat namun apabila nafasnya sudah pendek kita dianjurkan untuk menuntunnya mengucapkan “Allah”.
Ajaran ini bersumber dari statement “barang siapa yang perkataan akhirnya adalah “la ilaha illallah” maka akan masuk surga”. Benarkah statement ini sehingga bisa kita jadikan sebuah prinsip? Mari kita bahas.
Al-Qur’an selalu memberikan informasi yang koheren antar satu ayat dengan lainnya. Untuk mendapatkan balasan Surga, tentunya melalui proses hisab dan apabila kebaikan kita lebih baik daripada keburukan kita, maka kita akan memperolehnya.
Jadi, perkara masuk Surga atau tidak, tidak dipertimbangkan berdasarkan perkataan terakhir kita saja, akan tetapi akumulasi dari perbuatan kita selama di dunia. Oleh sebab itu Allah berfirman:
وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا
“Dan barang siapa yang mengerjakan perbuatan shalih baik dari lelaki ataupun perempuan dan dia beriman, maka mereka itulah yang akan masuk ke Surga dan mereka tidak akan dizalimi sedikitpun.” (An-Nisa: 124)
Ayat ini dengan jelas memberikan informasi bahwa pertimbangan seseorang masuk Surga adalah berdasarkan amalnya dan keimanannya, bukan hanya ditinjau dari perkataan terakhirnya.
Di ayat yang lain, justru Allah mengatakan sebaliknya. Perkataan terakhir tidak dapat dijadikan pertimbangan bahkan diabaikan oleh Allah karena tidak bernilai apapun seperti yang dilakukan oleh Fir’aun. Allah berfirman:
وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri“. (Yunus: 90)
Kalaulah benar bahwa akhir perkataan dapat memasukkan orang ke Surga, jelas Fir’un harus dimasukkan ke Surga karena sempat mengucapkan beriman kepada Allah. Tapi Allah membalasnya:
آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Yunus: 91)
Jadi, kita tidak bisa berharap masuk Surga hanya mengandalkan perkataan terakhir dalam hidup kita. Kita harus berkomitmen beriman dan beramal shalih sepanjang hidup kita. Inilah yang Allah ajarkan kepada kita, sebuah nilai dari ad-Din, bukan hanya “ngakalin” Tuhan dengan mengucapkan kalimat syahadat di akhir hidup dan berharap masuk Surga tanpa komitmen beriman dan beramal shalih selama hidup.
Dengan demikian, talqin tentu tidak ada gunanya. Hikmahnya adalah talqinkan orang selama dia hidup dan masih sadar, bukan ketika dia mendekati ajal baru kita talqinkan yang sudah jelas tidak ada gunanya.
3 Comments
Terima Kasih Tuan Guru..
Pengetahuan yang sanat berguna buat kami..
🙏🙏🙏
Komitmen dalam hidup dengan melaksanakan amal shalih. Semoga Allah ridha dan memasukan kita kedalam Syurga. Aamiin
Terima kasih ustadz🙏
Mtr nwn guru utk ilmunya…sangat mencerahkan….🙏🙏🙏