Sudah kita diskusikan pada pelajaran sebelumnya, ketika basyar menerima ruh, maka kelompok basyar memiliki potensi kesadaran. Kelompok basyar yang sudah menerima ruh inilah yang disebut Adam. Pada fase ini, Adam diajarkan asma’ sebagaimana dikatakan:
وَعَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ
“Dan Dia ajarkan Adam asma’ semuanya, kemudian dia perlihatkan kepada malaikat…” (Al-Baqarah: 31)
Apa itu asma’?
Selama ini yang kita pahami bahwa asma’ adalah nama-nama benda dalam bentuk bahasa sehingga ada pendapat yang mengatakan Adam diajarkan Allah seluruh bahasa manusia. Ada juga yang mengatakan Adam belajar asma’ menggunakan pena.
Kata asma’ yang berarti simbol/tanda/ representasi memiliki dua asal akar kata yang berbeda yaitu berasal dari huruf “wasima” dan “sumuwu”. Ulama Kufah lebih cenderung hanya menganggap asma’ berasal dari kata wasima, sedangkan ulama Basrah lebih kepada huruf dasar sumuwu. Kalau kita kembalikan pada Quran, kedua kata ini dipergunakan.
Kata yang berasal dari huruf wasima berarti simbol, tanda, atau bekas yang ditinggalkan atau yang tampak yang dapat menghubungkan antara tanda dan yang ditandai. Oleh sebab itu orang yang memahami tanda disebut mutawasimin.
إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّلْمُتَوَسِّمِينَ
“Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi mutawassimin.” (Al-Hijr: 75)
Jadi, asma’ yang berasal dari huruf dasar wasima adalah simbol atau bekas yang merujuk pada fenomena alam material yang disebut al-ayat. Simbol-simbol ini dapat berupa bentuk maupun bunyi atau suara. Misalnya ada bekas-bekas di hutan dalam bentuk jejak kaki hewan, maka dapat dipahami ada hewan yang melintas. Ada suara atau ada bunyi tertentu, berdasarkan pengalaman dapat dipahami adanya sesuatu yang mengeluarkan bunyi tersebut. Persepsi inilah yang dapat menghubungkan tanda dengan petanda.
Kata asma’ yang berasal dari huruf sumuwu, merujuk pada makna “tinggi” atau “meninggikan”. Oleh sebab itu, pemberian nama pada seseorang dimaksudkan agar yang dinamai itu merasa ditinggikan derajatnya serta dapat diidentifikasi. Makanya kita dilarang memberikan nama atau memanggil seseorang dengan nama atau gelar yang jelek atau merendahkan.
Penggunaan akar kata sumuwu dapat kita lihat pada ayat berikut:
وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ
“Aku memberi namanya Maryam.” (Ali ‘Imran: 36)
Pada ayat di atas, kata “sammaituha” yang merupakan derivasi dari kata sumuwu, bukan dari kata wasima.
Jadi, kata wasima merujuk pada objek aktivitas dari yang ditandai sedangkan kata sumuwu merujuk pada subjektivitas yang ditandai. Dengan perkataan lain, ada dua bentuk dasar dari dua asal huruf yang berbeda dari kata asma’. Dalam konteks entitas Allah yang hanya bisa dikenali melalui asma’, dua asma’ ini kita kenal sebagai ar-Rahman (mewakili akar wasima) dan Rahim (mewakili akar sumuwu). Oleh sebab itu dikatakan Bismillahirrahmanirrahim.
Ketika dikatakan Adam diajarkan asma’ (2: 31) maka yang dimaksud adalah Adam memahami simbol-simbol atau tanda-tanda objektivitas yang ada di alam sekitar Adam. Dengan memahami simbol tersebut, dalam fase ini ada mulai memahami melalui persepsinya tentang adanya hubungan suara dan bentuk yang selama ini tidak ia pahami. Dengan pemahaman ini, ada melalui persepsinya mulai menggunakan suara putus-putus untuk menunjuk suatu benda. Kemampuan pemahaman inilah yang tidak dimiliki malaikat.
Oleh sebab itu, ketika Allah mengatakan kepada malaikat:
فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَـٰؤُلَاءِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Sebutkan kepada-Ku sistem asma’ itu jika kamu termasuk yang benar.” (Al-Baqarah: 31)
قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَا ۖ إِنَّكَ أَنتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
“Maha Suci Engkau. Tidak ada pengetahuan kami selain yang telah engkau ajarkan kepada kami.” (Al-Baqarah: 32)
Selanjutnya:
قَالَ يَا آدَمُ أَنبِئْهُم بِأَسْمَائِهِمْ ۖ فَلَمَّا أَنبَأَهُم بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ
“Allah berfirman, “Wahai Adam, informasikan kepada mereka sistem asma’ itu”. Setelah dia menyebutkan sistem asma’ itu Dia berfirman, “bukankah telah Ku-katakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.” (Al-Baqarah: 33)
Ayat ini menjawab lebih detail tentang protes malaikat pada surat al-Baqarah: 30 yang menyatakan al-basyar hanya membuat kerusakan dan menumpahkan darah. Kemudian Allah mengingatkan:
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَـٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan Kami berfirman, “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan pasanganmu al-jannah ini dan makanlah makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai. Dan janganlah kamu dekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang yang zalim.” (Al-Baqarah: 35)
Dari urutan kisah ini saja kita dapat memastikan bahwa jannah yang ditempati Adam adalah di bumi ini, bukan di negeri antah berantah yang ada di luar bumi ini, kemudian dilemparkan ke bumi karena memakan (katakanlah) sebutir buah apel. Apakah hanya memakan sebutir apel Adam dan pasangannya diusir dari surga seperti yang kita pahami selama ini, sedangkan nanti banyak orang yang berdosa yang dimasukkan ke dalam surga?
Di manakah lokasi Adam yang dikisahkan Allah?
Tepatnya kita belum tahu, tapi yang pasti ada di dunia ini. Jika kita mau merujuk pada hadits, ada sebuah hadis yang menyatakan:
فجرت أربعة أنهار من الجنة الفرات والنيل وسيحان وجيحان
“Empat sungai yang dialirkan di surga (jannah): Eufrat, Nil, Saihan, Jaihan.” (HR. Tirmidzi)
Kita tahu bahwa Sungai Eufrat mengalir di Turki dan Irak dan sungai Nil melintas Mesir dan Sudan sedangkan Sungai Seihan berada di Turki dan bermuara di laut Mediterania. Sedangkan yang ke-4 Sungai jaihan para pakar belum mengetahui letak persisnya.
Jika hadis ini benar, berarti nabi pun memahami bahwa Adam itu adalah spesies yang hidup, tumbuh, dan berkembang di bumi ini bukan di luar bumi.
Dari sini dapat kita pahami:
- Sebutan Adam bukanlah oknum tunggal, tapi merupakan kelompok basyar yang sudah ditiupkan ruh.
- Konsekuensi logisnya, Adam bukanlah nabi sebagaimana yang diajarkan pada kita dan kita wajib mengetahuinya sebagai nabi yang pertama.
- Kehidupan Adam awalnya berasal di hutan-hutan tropis
Bagaimana dengan Ali ‘Imran: 33 yang dijadikan dasar oleh para ulama terdahulu untuk menetapkan bahwa Adam adalah nabi?
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imran pada alam ini.” (Ali ‘Imran: 33)
- Ayat ini tidak menyatakan Adam, keluarga Ibrahim, dan keluarga Imron menjadi nabi.
- Memilih artinya menentukan satu, dua, atau lebih dari sejumlah yang tersedia.
Dengan perkataan lain ini tidak bisa dijadikan landasan untuk mengatakan bahwa Adam adalah seorang nabi sebagaimana tidak semua keluarga Ibrahim dan Imran menjadi nabi.