Tema 67: Fase Penciptaan Basyar

oleh Iswan Muhammad Isa

Basyar sebagai kata benda merujuk pada makna kulit yang tipis dan lapis teratas. Dan dalam ilmu tanah disebut Top Soil yaitu bagian teratas yang subur yang dapat menghidupkan atau menumbuhkan kehidupan tanaman.

Dalam konteks al-Qur’an, Basyar adalah makhluk biologis yang tersebar di beberapa bagian bumi yang menjadi cikal bakal manusia. Berdasarkan al-Qur’an, Basyar terbentuk dari thin (طين)  yaitu tanah yang bercampur air:

إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن طِينٍ

“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah”. (Shad: 71)

Kehidupan Basyar yang berasal dari tanah dan air ini memiliki dua entitas:

1. Entitas kehidupan fisik yang dapat mengalami kematian. Dari sisi entitas fisik ini, Allah menciptakan pasangan karena segala sesuatu memang diciptakan berpasangan.

وَمِن كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (Adz-Dzariyat: 49)

Pasangan kehidupan fisik dari setiap sesuatu ini disebut sebagai dzakar (ذكر) dan untsa (أنثى).

وَمَا خَلَقَ الذَّكَرَ وَالْأُنثَىٰ

“Dan penciptaan laki-laki dan perempuan,” (Al-Lail: 3) 

2. Dari sisi yang dapat menerima potensi kesadaran yang berasal dari nafsu Wahida yang masing-masing pasangannya disebut ar-rijal (الرجال) dan an-nisa (النساء).

An-Nisa’: 1

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً

Berdasarkan ayat-ayat di atas, dapat kita pahami bahwa dabbah yang berasal dari air (الماء) hanya memiliki potensi kehidupan dengan segala sifat dasarnya yang otonom, sedangkan basyar yang berasal dari thin (air dan tanah), di samping memiliki sifat dasar otonomnya seperti dabbah, juga memiliki nafs (نفس) sebagai entitas yang dapat menerima potensi kesadaran. Jadi, secara kehidupan biologis sifat basyar tidak berbeda dengan sifat dabbah seperti makan, minum, berkembang biak, dan lain-lain.

Selain itu, hewan (dabbah) dalam prosesnya menuju ke arah perubahan bentuk, sedangkan basyar menuju pada kesempurnaan bentuk. Sebagaimana kita ketahui, bentuk manusia purba yang sering digambarkan dalam berbagai literatur, bentuknya tidak tegak lurus tapi agak melengkung atau bungkuk, kemudian menjadi tegak seperti manusia modern. hal ini sudah diinformasikan oleh Allah:

يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ﴿٦﴾الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ﴿٧﴾

“Wahai manusia, apa yang telah memperdayamu terhadap Tuhanmu yang karim, yang telah merancangmu, lalu menyempurnakan kejadianmu (سوى) dan menjadikan susunan tubuhmu seimbang (عدل).” (Al-Infithar: 6-7)

Kata سوى pada kalimat فسواك yang diterjemahkan menjadi “menyempurnakan kejadian“ bermakna asal yang merujuk pada keadaan bengkok menjadi tegak atau lurus. Kejadian inilah yang membuat manusia menjadi tegak dan seimbang. Tak ada satupun makhluk di bumi ini yang mampu berdiri seimbang dalam waktu yang lama kecuali manusia.

Sesuai dengan hukum-hukum pertumbuhan, perubahan, dan perkembangan, perilaku basyar yang sempurna sudah dalam bentuk manusia organik yang berkembang biak, menjadi tegak, kemudian mampu mengeluarkan suara dan meniru bunyi suara, menggunakan alat untuk mencari makan, dan lain sebagainya. Namun perilaku mereka masih dalam tahap binatang, merusak, memakan daging mentah dan menumpahkan darah sebagaimana hewan buas lainnya: perilaku inilah yang disaksikan oleh malaikat.

Setelah kelompok manusia basyar memasuki fase sempurna di mana ia sudah bisa beradaptasi dan survive, maka Allah meniupkan ruh. Namun perlu kita pahami, peniupan ruh ini bukan dilakukan pada basyar yang tadinya bengkok kemudian menjadi lurus dan ditiupkan ruh, tapi melalui proses pertumbuhan, perubahan, dan perkembangan dalam bentuk lahirnya basyar-basyar yang dalam prosesnya melalui kelahiran spesies-spesies baru yang lebih sempurna. Dengan perkataan lain peniupan ruh terjadi di dalam rahim.

Peniupan ini terjadi setelah Allah menginformasikan kepada Malaikat akan menjadikan khalifah dan Malaikat berkata:

قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Apakah Engkau hendak menjadikan orang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu? Allah berkata: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al-Baqarah: 30)

Ayat ini menjelaskan adanya sanggahan dari malaikat yang menanyakan mengapa Allah ingin menjadikan basyar sebagai khalifah, padahal perilakunya hanya merusak fisik (fasad) dan menumpahkan darah untuk memakan daging mentah. Kemudian Allah menyatakan bahwa Allah mengetahui apa yang tidak diketahui malaikat. Malaikat hanya tahu apa yang pernah dilihat dan didengar, tapi malaikat tidak mengetahui pengetahuan abstraksi. Oleh sebab itu ketika Allah menyatakan akan me-khalaqa basyar, tidak ada respons dari malaikat. Berbeda halnya ketika Allah menginformasikan akan menjadikan khalifah. Basyar yang akan dijadikan khalifah sudah ada dengan perilaku otonomi yang merusak.

Apa yang tidak diketahui malaikat?

Malaikat tidak tahu apa yang terjadi pada ruang pra penciptaan di mana terjadi proses siklus kesadaran makna antara Ahad dan Amar, malaikat tidak tahu dalam diri basyar ada potensi nafs yang tidak akan mati dan tidak terurai, malaikat tidak tahu basyar memiliki potensi abstraksi, malaikat tidak tahu basyar akan tetap eksis walaupun langit dan bumi berubah wataknya.

Di awal sudah kita katakan juga bahwa basyar adalah makhluk biologis yang tersebar di beberapa wilayah bagian bumi yang menjadi cikal bakal manusia. Hal ini juga menunjukkan bahwa basyar bukan muncul awal dari air sebagaimana dabbah tetapi ia berasal dari permukaan bumi. Hal ini dapat kita lihat pada ayat berikut.

هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ

“Dia membentuk kalian dari tanah.” (Hud: 61)

هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ

“Dia mengetahui kalian sejak Dia membentukmu dari tanah.” (An-Najm: 32)

وَاللَّهُ أَنبَتَكُم مِّنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا

“Allah benar-benar menumbuhkan/memunculkan kamu dari tanah (ardh).” (Nuh: 17)

Ayat-ayat ini merupakan ayat-ayat sebagaimana yang lainnya untuk mendukung argumen kita bahwa:

  1.  Adam bukan berasal dari surga yang ada di luar bumi ini.
  2.  Adam bukan oknum tunggal tapi merupakan kelompok.
  3. Ada Adam-Adam lain di bagian bumi yang lain yang tidak diceritakan Allah sebagaimana banyak nabi-nabi yang tidak diceritakan Allah.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *