Sampai pada pelajaran sebelumnya, kita telah memiliki gambaran dan informasi tentang ruang pra-penciptaan, seperti:
- Siapa, apa, dan bagaimana Ahad serta unsur pembentuk materi yang sama-sama ada.
- Bagaimana otonomi Ahad dan otonomi unsur materi (Amar).
- Mengapa Ahad melakukan intervensi terhadap unsur materi.
- Unsur materi yang dominan sebelum ruang penciptaan, yaitu unsur hidrogen dan helium.
- Dari mana potensi adanya kehidupan dapat muncul.
- Dari mana potensi berbagai materi (syai’) dapat muncul.
Setelah Ahad menetapkan hukum-hukum dalam bentuk Qadha Amar melalui proses “Kun Fa Yakun”, maka tindakan pertama Ahad dalam memasuki ruang penciptaan adalah melakukan pemisahan melalui “ledakan besar”. Bagaimana proses ledakan besar ini terjadi kita serahkan kepada para ahli, karena hal itu menyangkut hukum-hukum Rahmani, sebagaimana firman Allah.
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ الرَّحْمَـٰنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا
“Yang menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya dalam 6 periode, kemudian menyeimbangkannya pada/melalui Arasy. (Itulah) ar-Rahman, maka tanyakanlah pada pakar/ahlinya.” (Al-Furqan: 59).
Kata khalaqa (خَلَقَ) pada ayat di atas bermakna merancang, mempola, atau mendesain sesuatu dari bahan yang sudah tersedia. Kata ayyām (أَيَّامٌ), bentuk jamak dari yaum (يوم), bermakna periode atau siklus. Oleh sebab itu, misalnya satu hari dalam siklus 24 jam disebut yaum wāḥid (يوم واحد), sedangkan hari kiamat disebut yaum al-ḥisāb (يوم الحساب).
Informasi tentang pemisahan melalui “ledakan besar” ini dapat dilihat pada al-Anbiyā’: 30.
أَوَلَمْ يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ أَنَّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ كَانَتَا۟ رَتۡقًا فَفَتَقۡنَـٰهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
Ayat ini menginformasikan bahwa langit dan bumi yang ada saat ini, yang kita sebut sebagai ruang “penciptaan”, sebelumnya masih dalam bentuk satu kesatuan yang disebut ratqan (رَتْقًا).
Kata ratqan (رَتْقًا), yang diterjemahkan sebagai “bersatu-padu”, berasal dari huruf ra-ta-qa (ر ت ق) yang bermakna menutup retakan atau menyatukan entitas-entitas yang terpisah sehingga menjadi satu kesatuan. Dalam penggunaannya, misalnya, menjahit dengan menyatukan berbagai potongan kain disebut rataqa (رَتَقَ). Demikian pula ketika awan-awan yang terpisah kemudian menyatu, dikatakan saḥābun rātiq.
Dengan pemahaman ini, dapat kita mengerti (hingga hari ini) bahwa yang dimaksud langit dan bumi dalam keadaan bersatu-padu bukanlah benda-benda langit yang ada saat ini, melainkan unsur-unsur dasar pembentuk terjadinya proses munculnya langit dan bumi yang ada sekarang. Unsur-unsur inilah yang disebut al-Qur’an sebagai Amar. Apa bentuk awal dan bagaimana prosesnya dapat dipelajari dari para ahli, sebagaimana diterangkan dalam al-Furqān: 59.
Unsur-unsur cikal bakal langit dan bumi yang sebelumnya dalam keadaan bersatu-padu kemudian “dipisahkan”, yang dalam bahasa al-Qur’an disebut fa-ta-qa (فَتَقَ).
Kata fataqa (فَتَقَ) secara umum dapat dianggap sebagai lawan kata dari rataqa (رَتَقَ). Oleh karena itu, makna umum fataqa merujuk pada membuka atau memisahkan entitas-entitas yang sebelumnya bersatu sehingga menjadi terpecah. Jika rataqa merujuk pada entitas padat, maka fataqa (فَتَقَ) merujuk pada entitas yang mengalami perkembangan atau pengembangan.
Dari makna dasar fataqa tersebut, kita mengenal berbagai penggunaannya dalam fenomena alam dan kehidupan, antara lain:
- Membuka jahitan.
- Terjadinya perpecahan dalam kelompok masyarakat (fataqa fulānun baynahum فَتَقَ فُلَانٌ بَيْنَهُمْ).
- Hernia atau burut (fataq فَتَقَ).
- Proses memasukkan ragi sehingga adonan menjadi mengembang (fitāq فِتَاقٌ).
Jadi, kata fa-fataqnāhumā bisa bermakna memisah, terbelah, atau mengembang. Makna yang paling tepat dalam konteks awal penciptaan langit dan bumi ini bergantung pada hasil akhir yang dicapai oleh sains. Hingga hari ini, teori peledakan (sehingga terpisah/pecah) dan teori pengembangan (seperti balon yang ditiup) masih dipercaya oleh sains. Hal ini tidak bertentangan dengan proses yang dijelaskan oleh al-Qur’an.
Selanjutnya al-Anbiya: 30 dilanjutkan dengan kalimat:
وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَيْءٍ حَىٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ
“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (Al-Anbiya: 30)
Huruf wawu (و) di sini bukan bermakna al-‘athf (العطف) yaitu penghubung kata atau kalimat sehingga menjadi satu kesatuan, tetapi wawu (و) dalam makna al-ibtidā’ (الاِبْتِدَاءُ), yaitu memulai kalimat baru yang tidak merupakan kelanjutan atau kebersamaan dengan kalimat sebelumnya. Misalnya kalimat:
ثُمَّ قَضَىٰ أَجَلًا ۖ وَأَجَلٌ مُّسَمًّى عِندَهُ
Apa yang terjadi setelah peledakan atau pemisahan?
Berdasarkan teori sains, setelah peledakan, alam semesta berada dalam keadaan panas dan padat. Dalam kondisi ini terbentuk quark, elektron, dan gluon. Quark adalah partikel penyusun materi, elektron merupakan komponen dasar atom, sedangkan gluon adalah partikel dengan gaya kuat yang berfungsi mengikat quark.
Setelah itu, alam semesta yang semula dalam keadaan panas mulai mendingin. Dalam kondisi dingin ini berlangsung proses atomisasi yang sangat panjang, di mana quark (partikel penyusun materi) mulai menyatu membentuk inti atom hidrogen dan helium.
Hidrogen memiliki susunan kimia ganjil (1 proton, 1 elektron), sedangkan helium memiliki susunan kimia genap (2 proton, 2 neutron, 2 elektron). Dari atom-atom inilah kemudian mulai terbentuk galaksi dan bintang-bintang.
Sekarang kita lihat al-Fajr: 1-5.
وَالْفَجْرِ ﴿١﴾ وَلَيَالٍ عَشْرٍ ﴿٢﴾ وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ ﴿٣﴾ وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ ﴿٤﴾ هَلْ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٌ لِّذِي حِجْرٍ ﴿٥﴾
“Demi malam yang 10, Demi yang genap dan yang ganjil, Demi malam apabila telah berlalu, Apakah pada yang demikian itu terdapat sumpah bagi yang memiliki kecerdasan?” (Al-Fajr: 1-5)
Jika ayat al-Fajr: 1–5 dikaitkan dengan al-Anbiyā’: 30, maka dapat disusun sebagai berikut:
- Setelah terjadi fataqa (فَتَقَ) — ledakan, pemisahan, atau penggelembungan — alam berada dalam keadaan sangat panas sebagaimana disebutkan pada ayat 1. Kata al-Fajr di sini tidak dapat diartikan sebagai munculnya fajar seperti waktu subuh, karena secara relasi-konotasi berbicara tentang proses awal penciptaan.
- Setelah masa sangat panas, kemudian menjadi sangat dingin yang terdiri dari sepuluh tahap, fase, atau proses. Dalam sains, pada fase inilah ditemukan awal mula pembentukan inti atom hidrogen dan helium.
- Proses selanjutnya terbentuklah sesuatu yang disebut as-syaf‘i wal-watr (الشَّفْعِ وَٱلْوَتْرِ) — yang genap dan yang ganjil. Dalam sains, hal ini merujuk pada terbentuknya atom dasar, yaitu atom helium yang memiliki struktur genap (2 proton, 2 neutron, 2 elektron) dan atom hidrogen yang sederhana dengan struktur ganjil (1 proton, 1 elektron).
- Setelah terbentuk sesuatu yang genap dan ganjil, keadaan tersebut berlanjut menuju proses berikutnya yang digambarkan dalam firman-Nya: wal-layli idzā yasri (وَالَّيۡلِ اِذَا يَسۡرِ).
- Seluruh rangkaian proses tersebut mengandung kepastian (qasam) bagi mereka yang memiliki kecerdasan (li dhī ḥijr لِّذِي حِجْرٍ).
Catatan:
Huruf/akar kata ḥa–jīm–rā (ح ج ر) memiliki beberapa makna, antara lain:
- Batu (ḥijārah حِجَارَةٌ).
- Hambatan/larangan (ḥijr حِجْرٌ).
- Cerdas (ḥijr حِجْرٌ).
- Pemeliharaan (ḥujūr حُجُوْرٌ).