Pada pelajaran sebelumnya kita telah mendiskusikan bahwa Ahad melakukan Qadha, yaitu menetapkan hukum-hukum wujud objektif yang riil terhadap Amar. Sedangkan Amar adalah “sesuatu” yang menjadi penyebab atau sebab awal dari rangkaian peristiwa selanjutnya yang dihadapi.
Melalui apa Ahad meng-Qadha Amar?
Ahad meng-Qadha Amar melalui al-Qaul (القَوْلُ), yaitu perkataan yang bersumber dari kesadaran subjek. Namun sebelum mendiskusikan al-Qaul, mari kita lihat beberapa istilah perkataan dalam al-Qur’an:
Al-Kalām (الكَلَامُ)
Kalām merujuk pada makna pembicaraan atau perkataan yang memiliki makna lengkap.
وَإِنْ أَحَدٌ مِّنَ ٱلْمُشْرِكِينَ ٱسْتَجَارَكَ فَأْجِرْهُ حَتَّىٰ يَسْمَعَ كَلَٰمَ ٱللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْلَمُونَ
“Dan jika seseorang diantara kaum musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (at-Taubah: 6)
وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا
“Berkata Allah kepada Musa dengan perkataan yang sesungguhnya” (an-Nisa: 164)
Nāṭiq (نَطَقَ)
Kata nāṭiq atau naṭaqa merujuk pada pengucapan atau penuturan dengan lafal atau aksen tertentu, serta dapat bermakna berbincang-bincang atau berdialektika melalui suara.
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٌۭ يُوحَىٰ
“Dan tidaklah yang diucapkannya berdasarkan hawa nafsu melainkan wahyu yang disampaikan.” (An-Najm: 3-4)
هَٰذَا كِتَٰبُنَا يَنطِقُ عَلَيْكُم بِٱلۡحَقِّ ۖ أَفَلَمۡ نَسۡمَعۡ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ
“Inilah Kitab Kami yang menuturkan kepadamu dengan itaq. Sesungguhnya Kami telah mencatat apa yang telah kamu kerjakan.” (al-Jatsiyah: 29)
Shaut (صَوْتٌ / أَصْوَاتٌ)
Shaut merujuk pada makna suara yang keluar, baik dalam bentuk tunggal maupun jamak, serta dapat bermakna saling berbalas atau berulang.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَرۡفَعُواْ أَصۡوَٰتَكُمۡ فَوۡقَ صَوۡتِ ٱلنَّبِيِّ وَلَا تَجۡهَرُواْ لَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ كَجَهۡرِ بَعۡضِكُمۡ لِبَعۡضٍ أَن تَحۡبَطَ أَعۡمَٰلُكُمۡ وَأَنتُمۡ لَا تَشۡعُرُونَ
“Hai orang-orang yang beriman. Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi. Janganlah mengeraskan suara kepadanya seperti engkau mengeraskan suara kepada yang lain di antara kamu. Hal ini akan menyebabkan amal mu terhapus.” (Al-Hujarat: 2)
وَٱقۡصِدۡ فِي مَشۡيِكَ وَٱغۡضُضۡ مِن صَوۡتِكَ ۚ إِنَّ أَنۢكَرَ ٱلۡأَصۡوَٰتِ لَصَوۡتُ ٱلۡحَمِيرِ
“Dan wajarkanlah/sederhanakanlah dalam cara berjalan kamu dan lunakkanlah suara mu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai” (Luqman: 19)
Al-Qaul (ٱلْقَوْلُ)
Qaul memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar suara atau bunyi yang keluar sebagaimana pada kalām, nāṭiq, atau shaut. Qaul dapat berupa kemampuan dalam bentuk ide yang berasal dari kesadaran. Ide ini mampu menggerakkan, mengatur, menyatukan, atau memisahkan hal-hal, kondisi, situasi, atau sesuatu sebagaimana yang dikehendaki.
Dalam fakta di alam penciptaan, kita sering mendengar, melihat, atau bahkan mengalami fenomena yang disebut hipnotis. Namun, perlu diingat bahwa hipnotis tidak dapat sepenuhnya mengatur, mengarahkan, atau mengendalikan pikiran maupun tindakan seseorang, karena setiap individu memiliki tingkat kepatuhan yang berbeda sesuai dengan otonomi yang dimilikinya.
Demikian juga dengan al-Qaul. Kemampuan ide yang ada pada Ahad tidak terlepas dari sifat-sifat otonom yang ada pada Amar, dan bukan merupakan tindakan yang berdiri sendiri. Dengan perkataan lain, Ahad bukanlah sutradara tunggal dari setiap kejadian di alam semesta ini. Oleh sebab itu, Qaul Allah mewujud secara rasional, logis, dan nyata. Dalam al-Qur’an, rasional, logis, dan nyata ini disebut dengan Haq.
وَهُوَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّ ۖ وَيَوۡمَ يَقُولُ كُن فَيَكُونُ قَوْلُهُ الْحَقُّ
“(Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan haq pada hari (periode) Ahad ber-Qaul, Kun Fa Yakun. Qaul-Nya al-Haq.” (Al-An‘am: 73)
Haq adalah kebenaran atas adanya entitas wujud objektif. Oleh sebab itu, Allah disebut Haq, al-Qur’an disebut Haq, dan alam semesta juga hadir dalam sistem Haq. Sedangkan wujud objektif dari Qaul manusia disebut Shahih.
Proses al-Qaul terhadap Amar dalam al-Qur’an disebutkan melalui ungkapan Kun Fa Yakun.
فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ
Apakah kata “Kun” (كُنْ) adalah bentuk suara dari Ahad sebagaimana dalam pengertian kita selama ini? Tentu tidak, sebab suara adalah bentuk material, sedangkan Ahad adalah entitas abstrak.
Dengan demikian, “Kun” ditandai sebagai acuan atau titik dimulainya suatu proses pada Amar sesuai dengan ide Ahad. Sedangkan fa yakun (فَيَكُونُ) adalah berjalannya proses pada Amar menjadi Syai. Syai inilah yang kemudian dirancang oleh Ahad menjadi berbagai bentuk pada alam masa penciptaan sesuai dengan kapasitas otonom pada masing-masing Syai.
Untuk memudahkan pemahaman, dapat diibaratkan dengan narasi berikut:
Seorang desainer/perancang dengan keahlian yang lengkap dan sempurna ingin membuat berbagai model pakaian untuk digunakan oleh pelanggannya. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memintal kapas yang sudah tersedia menjadi berbagai jenis benang. Kemudian benang dirajut sehingga menjadi kain dengan berbagai jenis bahan dan kualitas. Dari kain inilah kemudian dirancang berbagai model baju yang dapat dipergunakan oleh pelanggan.
Jadi, ada proses dari kapas yang tersedia menjadi benang, kemudian dari benang menjadi kain. Setelah itu, dari kain ada proses lebih lanjut hingga menjadi berbagai model baju yang dapat digunakan. Agar pelanggan memahami cara merawat dan menggunakannya, maka diberikanlah petunjuk.
Kapas yang berproses menjadi benang itulah Amar, sedangkan dari benang menjadi kain itulah Syai (شَيْءٌ).
Dengan demikian, “desainer” bukanlah menyulap kain tiba-tiba muncul tanpa melalui kapas dan benang. Sulap seperti itu dalam bahasa Arab disebut “kun fa kāna”, bukan “kun fa yakun”.
Dari sini kita dapat membedakan bahwa seorang desainer bisa membuat baju yang dimulai dari kapas, tetapi juga bisa membuat baju langsung dari kain yang sudah ada. Bagaimana penjelasannya, akan kita bahas lebih lanjut nanti.