Pengalaman yang dimaksud pada masa/ruang pra penciptaan adalah al-khibrah (الخبرة), yang terambil dari akar huruf خ ب ر. Makna dasarnya secara umum merujuk pada adanya sesuatu yang diketahui dan tersimpan di dalam memori akibat adanya pertemuan, sentuhan, dan rasa. Memori ini bersifat episodik, yakni menerima dan menyimpan peristiwa yang dialami secara kumulatif dalam bentuk kesadaran memori.
Dari makna umum inilah, dalam penggunaannya al-khibrah memiliki beberapa makna turunan seperti pengalaman, keahlian, berita atau kabar, serta pengetahuan yang sumbernya berasal dari memori. Jika sesuatu tidak ada dalam memori, maka ia tidak dapat diketahui.
Pengalaman dalam bentuk memori ini dapat diberikan kepada siapa saja untuk “dipergunakan”, sedangkan penggunaannya bergantung pada kapasitas pihak yang menerimanya.
Dalam makna pengalaman secara umum, hal ini dapat kita lihat pada firman Allah:
وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَىٰ مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا
“Dan bagaimana engkau dapat bersabar, sedang engkau belum cukup mempunyai pengalaman (خبرا) tentang hal itu.” (Al-Kahfi: 68)
Dalam makna keahlian dapat kita lihat firman Allah:
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱلرَّحْمَٰنُ فَٱسْأَلْ بِخَبْرٍ
“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam masa, kemudian menyeimbangkannya pada arasy. Itulah ar-Rahman, maka tanyakanlah hal itu pada ahlinya” (Al-Furqan: 59)
Dalam makna berita atau kabar:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ
“Dan Kami akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad & bersabar diantara kamu dan agar Kami menyatakan berita/hal ihwal tentangmu” (Muhammad: 31)
Ayat ini menjelaskan adanya orang-orang munafik di antara pengikut Nabi yang bekerja sama dengan Yahudi untuk menghancurkan Islam, lalu Allah menginformasikan atau memberitakan hal tersebut kepada Nabi:
قُل لَّا تَعْتَذِرُوا لَن نُّؤْمِنَ لَكُمْ قَدْ نَبَّأَنَا اللَّهُ مِنْ أَخْبَارِكُمْ
“Katakanlah: Janganlah kamu mengemukakan uzur (karena takut mau ikut perang); kami tidak percaya lagi kepadamu (karena) sesungguhnya Allah telah menginformasikan kepada kami beritamu yang sebenarnya.” (At-Taubah: 94)
Dalam makna memiliki pengetahuan dan ahli:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَـٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَـٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah mempola/merancang kalian dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang bertaqwa. Sesungguhnya Allah mengetahui & Ahli.” (Al-Hujurat: 13)
Merancang atau mempola sesuatu tidak mungkin dilakukan tanpa pengetahuan dan keahlian. Sebaliknya, pengetahuan dan keahlian tidak mungkin diperoleh tanpa adanya pertemuan, sentuhan, dan rasa. Oleh sebab itu, informasi tentang rancangan atau pola yang dilakukan Allah pada ayat di atas ditutup dengan pernyataan: إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.
Rancangan atau pola ada di dalam ruang/masa penciptaan yang di dalamnya terdapat manusia. Dengan kata lain, rancangan atau pola tidak mungkin dilakukan tanpa adanya pertemuan, sentuhan, rasa, dan pengalaman sebelumnya pada ruang/masa pra penciptaan. Pengalaman inilah yang nantinya membentuk pengetahuan sehingga menjadikan subjek memiliki keahlian dalam cara berpikir.
Dengan pemahaman ini, berarti ada pengalaman yang dialami atau dijalani tanpa harus menjadi atau memiliki keahlian dalam cara berpikir. Seperti pengalaman hidup, menemukan, menyentuh, dan merasakan sesuatu secara sporadis dan lain sebagainya. Pengalaman seperti ini disebut dengan tajribah (تجربة).
Tajribah (تجربة) lebih merujuk pada pengalaman yang dicari dengan sengaja, seperti melakukan perjalanan, percobaan atau eksperimen, maupun tanpa sengaja yang bersifat sporadis; bukan bersifat siklus tanpa akhir. Agar mudah dipahami perbedaan antara al-khibrah (الخبرة) dan al-tajribah (التجربة) dapat dilihat pada contoh kalimat berikut:
- الخبرة الفكرية (Pengalaman intelektual)
- خبرة في التفكير (Pengalaman cara berpikir)
- التجربة هي أفضل المعلم (Pengalaman adalah guru terbaik)
- التجربة في الحياة (Pengalaman hidup)
- الخبر في إجراء التجربة (Pengalaman dalam melakukan eksperimen)
Dalam konteks pengalaman yang terjadi pada ruang/masa pra penciptaan antara Ahad dan Amar adalah al-khibrah (الخبرة), di mana dalam siklus secara periodik dan episodik, Ahad mengalami pertemuan, sentuhan, rasa, dan pengalaman terhadap perubahan, pertumbuhan, serta perkembangan Amar (partikel elementer) yang tidak stabil. Pengalaman inilah yang kemudian memunculkan pengetahuan (ma‘rifah / مَعْرِفَة) pada Ahad tentang apa yang berlaku pada Amar pada ruang/masa pra penciptaan.
Jadi, berdasarkan hal di atas, pengetahuan (ma‘rifah / مَعْرِفَة) akan hadir apabila ada sesuatu yang sudah berbentuk, sedang membentuk, atau akan terbentuk. Pengetahuan (ma‘rifah) tidak atau belum hadir jika belum ada bentuk, sedang membentuk, maupun akan membentuk. Dalam konteks ruang, Ahad mengetahui bentuk (pra penciptaan), sedang membentuk (penciptaan), dan akan membentuk (pasca penciptaan), baik yang zahir maupun yang batin.
Pertanyaan yang menarik:
Apakah Ahad dengan kapasitas otonom-Nya yang meliputi segala sesuatu baik zahir maupun batin sudah mengetahui perihal yang belum ada bentuk, sedang membentuk, dan akan terbentuk?
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تُتْرَكُوا وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنكُمْ وَلَمْ يَتَّخِذُوا مِن دُونِ اللَّهِ وَلَا رَسُولِهِ وَلَا الْمُؤْمِنِينَ وَلِيجَةً ۚ وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan, padahal hal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak menjadikan (teman setia) selain Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang mu’min sebagai teman setia? Allah Maha Berpengalaman dengan apa yang kamu kerjakan.” (At-Taubah: 16)