Tema 54: Sentuhan

oleh Iswan Muhammad Isa

Sentuhan adalah konsekuensi logis dari adanya pertemuan antara dua entitas atau lebih. Pertemuan ini bisa bersifat fisik maupun nonfisik. Dengan perkataan lain, sentuhan merupakan umpan balik dari pertemuan tersebut dalam bentuk sensasi di alam bawah sadar. Alam bawah sadar ini muncul akibat adanya saluran mandiri berdasarkan kapasitas otonom masing-masing entitas.

Dalam siklus pra-penciptaan, yang dimaksud dengan sentuhan adalah interaksi antara subjek/objek abadi, yaitu Ahad dan Amar.

Dalam penggunaan sehari-hari, kata “sentuhan” dalam bahasa Arab dikenal dengan dua istilah, yaitu lamasa (لَمَسَ) dan massa (مَسَّ), yang keduanya berasal dari fi‘il māḍī.

Kata lamasa (لَمَسَ) dalam penggunaan sehari-hari biasanya merujuk pada objek yang disentuh dengan tangan atau dalam bentuk fisik lainnya. Misalnya dikatakan:

مُحَمَّدٌ يَلْمَسُ ٱلْمَآءَ (Muhammad menyentuh air itu)

Air adalah benda fisik, maka kata yang digunakan untuk sentuhan adalah lamasa (لَمَسَ).

Sedangkan kata massa (مَسَّ) dalam penggunaan sehari-hari dapat merujuk pada objek yang bersifat fisik maupun nonfisik. Misalnya dikatakan:

مَسَّتْهُمُ الضُّرُّ ٱلضُّرِّ yang bermakna “mereka disentuh/ditimpa kesusahan atau kesulitan.”

Kesusahan atau kesulitan (ٱلضُّرِّ) bukanlah sesuatu yang bersifat fisik, walaupun penyebabnya bisa saja berasal dari hal fisik.

Sekarang kita lihat penggunaannya dalam al-Qur’an.

Penggunaan kata “lamasa” (لمس):

وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَاءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا

“Sesungguhnya kami (para jin) telah mencoba mengetahui/memahami (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api.” (Al-Jin: 8)

Pada ayat di atas, kata as-Samā’ (langit) bukanlah benda padat, sebab as-Samā’ dalam al-Qur’an dilawankan dengan kata al-Ardh yang merupakan benda padat.

Kata lamasa pada ayat tersebut merujuk pada makna adanya sentuhan dalam arti adanya pemahaman, atau adanya sesuatu/hal yang dapat diketahui.

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا

“Jika kamu sakit, atau sedang dalam perjalanan, atau salah seorang diantara kamu kembali dari tempat buang air besar, atau telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapatkan air, maka ber-tayammumlah kamu dengan debu yang baik” (An-Nisa’: 43)

Kata lamastum (لامستم) pada ayat di atas merujuk pada sentuhan yang telah terjadi. Sentuhan itu berakibat juga pada objek yang disentuh (perempuan). Oleh sebab itu, perempuan juga harus mandi junub karena keduanya sama-sama merasakan adanya sentuhan tersebut.

Dari kedua ayat di atas, kita dapat memahami bahwa sentuhan dengan menggunakan kata lamasa adalah:

  1. Merujuk pada pertemuan yang telah terjadi.
  2. Adanya pengetahuan dan pemahaman akibat sentuhan.

Penggunaan kata “massa” (مَسَّ)

يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ

“Miyaknya hampir-hampir meneragi walaupun tidak disentuh api.” (An-Nur: 35)

Ayat diatas menggunakan kata massa (مَسَّ) ketika menyatakan tidak ada sentuhan.

فَإِنْ طَلَّقْتُمُوهُنَّ مِنْ قَبْلِ أَنْ تَمَسُّوهُنَّ

“Jika kamu menceraikan mereka sebelum kamu sentuh…” (Al-Baqarah: 237)

Ayat ini juga menggunakan kata massa (مَسَّ) dengan kalimat “sebelum kamu sentuh”

مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا

“Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan dan goncangan.” (ِAl-Baqarah: 214)

Ayat ini menjelaskan orang yang “tersentuh” kemelaratan, penderitaan, dan goncangan digunakan kata massa (مَسَّ).

اللَّذِينَ يَلْكُمُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ

“Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri kecuali seperti orang yang berdiri sempoyongan karena kesurupan setan…” (Al-Baqarah: 275)

Ayat ini menjelaskan penggunaan kata massa juga digunakan untuk menggambarkan kondisi yang tidak stabil.

Dari contoh-contoh penggunaan kata lamasa dan massa untuk menggambarkan adanya sentuhan, dapat kita pahami sebagai berikut:

  1. Kata lamasa digunakan untuk menggambarkan adanya sentuhan yang telah terjadi karena adanya pertemuan, sedangkan kata massa untuk menggambarkan tidak adanya sentuhan yang terjadi; baik karena adanya pertemuan maupun belum adanya pertemuan.
  2. Kata lamasa menggambarkan adanya sentuhan yang dapat memberikan berita atau informasi.
  3. Kata lamasa digunakan untuk menggambarkan adanya sentuhan yang saling timbal balik antara subjek yang menyentuh dan objek yang disentuh.
  4. Kata lamasa menggambarkan adanya sentuhan yang bersifat “positif”, sedangkan kata massa dipergunakan untuk menggambarkan sesuatu yang “negatif”.

Dalam konteks sentuhan antara subjek dan objek abadi pada pra-penciptaan, yang digunakan adalah kata lamasa bukan massa. Dengan demikian, adanya sentuhan pada pra-penciptaan antara Ahad dan Amar menghasilkan:

  1. Adanya informasi atau pengetahuan terhadap objek.
  2. Adanya aksi-reaksi atau hubungan timbal balik.
  3. Munculnya sifat-sifat “positif” pada Amar dalam bentuk sensasi atau getaran (haptic).

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *