Tema 52: Pembentangan Konsep Qur’ani Bag. 2

oleh Iswan Muhammad Isa

  1. Konsep (مَفْهُومٌ)

Awalnya kata konsep berasal dari bahasa latin conceptum yang bermakna sesuatu yang di fahami yang memiliki unsur, komponen dan ciri-ciri yang dapat diberikan atau yang di beri nama. Dalam bahasa Arab biasa digunakan kata mafhum (مَفْهُومٌ) yaitu mengetahui atau memahami sesuatu yang ada, baik secara obyektif maupun subyektif, baik yang nyata atau yang ada di dalam ide. Sudah dijelaskan juga pada Pelajaran 68 bahwa setiap konsep pasti berasal dari konsep yang sudah ada sebelum nya, demikian seterusnya dan berakhir pada konsep-konsep realitas yang ada di luar pemikiran manusia. Jadi, secara umum Konsep dapat kita pisahkan menjadi dua yaitu:

  1. Konsep Diluar Kesadaran Manusia yaitu entitas asal yang memiliki “aspek purba” diluar kesadaran manusia. Aspek Purba ini dalam Ilmu Kalam (Teologi) di sebut dengan istilah Qadim Hakiki yaitu Yang mula-mula ada secara asal. Tapi, Ilmu Kalam berpendapat hanya Allah yang memiliki Qadim Hakiki. Sedangkan selain Allah disebut sebagai Qadim Zamani dan Qadim Idhafi. Qadim Zamani eksistensinya tergantung zaman/waktu, Qadim Idhafi eksistensinya tergantung eksistensi lain sebagai sebab.
  2. Qadim Zamani dan Qadim Idhafi inilah Konsep dari kesadaran manusia yang dapat kita pikirkan berdasarkan Kalam.

Qadim Zamani dan Qadim Idhafi disebut sebagai sesuatu yang hadits yang tadinya tidak ada (nihil) dan di adakan oleh Qadim Hakiki yaitu Allah.

Namun, jika kita kembali pada al-Quran dan menggunakan istilah teologi, Qadim Hakiki tidak saja Allah tapi juga ada materi sebagaimana al-Insan: 1.

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا 

“Telah datang atas manusia momen dari waktu masa lalu (الدَّهْرِ), dimana belum menjadi syai’ yang di namai/yang di sebut”

Dengan demikian, yang memiliki aspek purba atau (teologi) yang Qadim ada dua entitas, yaitu Allah yang dalam hal ini disebut Ahad dan materi pembentuk yang dalam hal ini disebut Amar.

Dalam rangka memahami bentuk dan proses materi yang selalu tumbuh, berubah, dan berkembang inilah (al-Qashash: 88), dengan meminjam istilah Aristoteles, kita mengenal empat konsep:

1. Konsep Material: yaitu bahan substansi yang digunakan untuk menciptakan sesuatu.

2. Konsep Formal: yaitu wujud atau bentuk sesuatu.

3. Konsep Efisien: yaitu bagaimana konsep formel tercipta dan perangkat apa yang digunakan sebagai “agen”.

4. Konsep Final: yaitu tujuan atau sasaran yang akan dituju dan diharapkan.

10. Ide/Idea (فِكْرَةٌ)

Ide adalah kerja intelek dalam bentuk proses siklus kesadaran yang dalam bahasa Arab biasa disejajarkan dengan kata al-fikr (اَلْفِكْرُ) atau fikrah (فِكْرَةٌ). Kata ini terbentuk dari vokal dasar fa-ka-ra yang merujuk pada makna dasar berbolak-baliknya intelek (akal) pada sesuatu atau bermakna melepaskan/melewati segala sesuatu dan membalik sebagian dari sebagian yang lain. Secara praktis, arti dan makna ini berada pada siklus kesadaran yang diawali dengan adanya Pertemuan – Sentuhan – Kesan – Pengalaman – Pengetahuan – Pemahaman – Kesadaran yang prosesnya tidak henti.

Jadi, ide selalu didahului oleh konsep yang berujung pada konsep yang memiliki aspek purba atau Qadim. Ide di luar kesadaran manusia inilah yang kita sebut dengan Ide Awal atau Kesadaran Ilahi. Inilah batas pengetahuan manusia; tidak ada lagi pengetahuan sebelum aspek purba. Di sinilah “sejarah” dimulai. Melampaui “sejarah” sama halnya dengan melampaui Tuhan.

Permasalahan aspek purba atau Qadim ini telah melahirkan tarikh, history, dan sejarah kelam perjalanan intelektual manusia hingga pertumpahan darah. Istilah Qadim sebagai aspek purba ini dapat kita temukan dalam al-Qur’an:

وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

“dan bulan Kami tetapkan baginya tempat-tempat peredaran sehingga kembali lagi ia seperti bentuk tandan yang Qadim.” (Yasin: 39)

Ayat di atas juga merupakan salah satu argumen dalam menetapkan adanya siklus kesadaran yang tidak henti.

Agar siklus kesadaran tidak keluar dari “garis edarnya”, Allah memerintahkan kita agar intelek ditundukkan pada al-Qur’an.

Al-Hajj: 54

وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

11. Intelek (عقل)

Dalam bahasa Arab, kata intelek dapat disejajarkan dengan kata ‘aql yang terbentuk dari vokal dasar ‘a-q-l. Kata ini merujuk pada salah satu fungsi qalb yang bermakna mengikat sebagian dari segala sesuatu dengan sebagian yang lain, atau menyempurnakan serta menyusun unsur-unsur dari sebagian sesuatu dengan sebagian yang lain untuk mendapatkan hukum atau keputusan yang berhubungan dengan wujud-wujud objektif, baik melalui kesadaran manusia maupun di luar kesadaran manusia.

Dengan demikian, secara umum dapat dikatakan bahwa intelek adalah pusat atau potensi kesadaran yang ada dalam diri subjek. Kemampuan untuk menggunakan potensi kesadaran ini disebut al-Qalam, yaitu kemampuan untuk membedakan, memilah, memilih, melakukan konfigurasi, menyusun, serta mereplikasi.

Dengan perkataan lain, al-Qalam adalah pusat siklus kesadaran yang ada pada diri manusia. Oleh sebab itu dikatakan:

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ وَالْقَلَمُ وَمَا يَسْطُرُونَ

12. Entitas (الكَيَانُ)

Entitas adalah keberadaan yang unik dan berbeda dengan keberadaan lainnya, baik dalam bentuk fisik maupun ide. Setiap entitas memiliki kriteria atau simbol-simbol tertentu yang membedakan kapasitas dan jenisnya.

Perbedaan kapasitas dan jenis ini menunjukkan adanya entitas yang memiliki kekuatan lebih besar dan entitas yang lebih lemah. Entitas dengan kapasitas besar cenderung lebih stabil, sedangkan entitas dengan kapasitas rendah cenderung tidak stabil. Dengan kata lain, entitas yang kuat akan senantiasa stabil, sementara entitas yang lemah rentan terhadap ketidakstabilan.

Beberapa kriteria, simbol, atau sifat-sifat yang dapat dipahami dari entitas adalah sebagai berikut:

  1. Eksistensi
    Baik dalam bentuk ide maupun fisik, eksistensinya dapat dikenali dan diidentifikasi melalui ciri-ciri atau simbol tertentu.
  2. Otonomi
    Setiap entitas memiliki otonomi sendiri sesuai dengan kapasitas potensialitas dan aktualitasnya. Otonomi ini berbeda-beda, dari yang paling kuat hingga yang paling lemah.
  3. Interaksi
    Setiap entitas memiliki kemampuan untuk berinteraksi, baik dalam dirinya sendiri maupun dengan entitas lain di luar dirinya. Sifat interaksi ini sangat dipengaruhi oleh kekuatan otonomi masing-masing entitas.
  4. Eksistensi Terpisah
    Setiap entitas merupakan eksistensi yang berdiri sendiri dengan batas-batas tertentu yang membedakannya dari entitas lain.
  5. Meliputi dan Diliputi
    Karena adanya perbedaan kapasitas potensialitas dan aktualitas, suatu entitas dapat meliputi atau diliputi oleh entitas lainnya.
  6. Konsekuensi Logis
    Adanya hubungan meliputi dan diliputi antar entitas menyebabkan terjadinya pertemuan. Pertemuan ini terjadi antara entitas purba (qadim) dan menjadi awal terbentuknya “sejarah”.

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa ide selalu didahului oleh konsep yang sudah ada sebelumnya dan berujung pada konsep yang memiliki aspek purba atau qadim, yaitu konsep di luar kesadaran manusia.

Konsep di luar kesadaran manusia, berdasarkan al-Qur’an, yang memiliki ide awal dari Tuhan dapat ditetapkan sebagai dua entitas berbeda yang memiliki aspek purba, yaitu Ahad dan Amar.

Berdasarkan kriteria, simbol, atau sifat-sifatnya, kita dapat melakukan identifikasi untuk membedakan kapasitas dan jenis dari Ahad dan Amar.

Kapasitas Entitas Ahad:

1. Unik

Asy-Syu’ara: 11

كَيْفَ يَكُونُ لَهُ وَلَدٌ وَلَمْ تَكُن لَّهُ صَاحِبَةٌ

Syai’ (شَيْءٌ) adalah sesuatu yang terdiri dari komponen ‘amar. Oleh sebab itu Ahad berbeda dan tidak sama dengan sesuatu.

2. Bukan Zat dan Sifat

Zat adalah sesuatu yang memiliki sifat yang melekat/bersatu dengan zat. Oleh sebab itu Ahad tidak memiliki sifat dan zat. (Ash-Shaffat: 180)

شَيْئًا وَزَيًّا وَزَيًّا رَبَّ الْفَرْدِ مِنَ الْمُتَّقِينَ

3. Stabil

Ahad bersifat stabil dalam arti tidak tumbuh, berubah, dan berkembang (باقٍ). Sedangkan sesuatu bersifat tidak stabil dalam arti selalu tumbuh, berubah, dan berkembang.

Al-Qashash: 88

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Ke-stabil-an ini dikenal dengan istilah بَاقٍ (Baqi).

Ar-Rahman: 26

وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالإكْرَامِ

4. Meliputi segala sesuatu

An-Nisa: 126

وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيْطًا

Allah dengan sistem-Nya meliputi segala sesuatu.

Kapasitas Entitas Sya’i (شيء)

Sya’i adalah eksistensi dalam bentuk kehadiran yang terdiri dari unsur-unsur Amar. Dengan perkataan lain, watak-watak dan sifat Sya’i ditentukan oleh watak-watak dan sifat pembentuk Sya’i. Berdasarkan hal ini, kita dapat melakukan identifikasi kapasitas dan jenis dari Amar untuk membedakannya dengan Ahad:

1. Unik

Amar juga bersifat unik, tetapi keunikannya ada dalam struktur material. Misalnya Helium (He), tersusun dari 2 elektron dalam orbit atom Helium. Sedangkan atom Hidrogen (H) terdiri dari 1 elektron dan 1 proton. Dengan demikian, dapat kita katakan bahwa Helium (He) bersifat genap dan Hidrogen (H) bersifat ganjil.

2. Zat dan Sifat

Jika Ahad bukan zat dan sifat, maka Amar adalah zat dan sifat yang kita sebut sebagai materi. Sifat materi ini salah satunya adalah selalu tumbuh, berubah, dan berkembang. Misalnya Helium, sifatnya lebih ringan dari udara sehingga mudah berpindah atau naik ke atmosfer.

3. Tidak Stabil

Jika Ahad bersifat stabil, maka Amar bersifat tidak stabil. Dalam arti, Amar selalu tumbuh, berubah, dan berkembang dengan sifat-sifat otonom dalam dirinya.

4. Tidak Saling Meliputi

Karena masing-masing eksistensi Amar memiliki zat dan sifat, maka Amar tidak saling meliputi.

Berdasarkan sifat umum dan kriteria dari entitas serta perbedaan kapasitas, dapat kita tentukan bahwa pada fase Purba atau yang disebut Qadim terdapat dua eksistensi atau dua realitas awal, yaitu Ahad dan Amar. Kapasitas Ahad meliputi kapasitas Amar, sedangkan kapasitas Amar diliputi oleh kapasitas Ahad. Adanya kapasitas meliputi dan diliputi inilah yang menjadi batas ilmu pengetahuan atau batas pemahaman manusia saat ini. Kita tidak bisa melampaui aspek Purba atau aspek Qadim, karena melampauinya sama halnya dengan melampaui Tuhan, atau memasuki wilayah yang mustahil bagi manusia untuk mengetahuinya.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *