Tema 49: Filosofi Puasa

oleh Iswan Muhammad Isa

Kita sudah mendiskusikan tentang batas (ḥudūd), yaitu memisahkan sesuatu agar tidak tercampur dengan yang lain atau tidak melampaui batas yang telah ditetapkan. Pada hakikatnya, hidup ini adalah proses mencari batas dari sesuatu yang tidak terbatas. Misalnya, dari seluruh pakaian kita memilih yang sesuai dengan keinginan, dari semua wanita atau pria kita menentukan siapa yang menjadi jodoh, dari sekian banyak sekolah kita memilih sekolah tertentu. Jadi, seluruh aspek kehidupan selalu berkaitan dengan batas.

Batas-batas inilah yang kemudian berkembang dalam ilmu pengetahuan menjadi berbagai istilah, seperti tirakat dalam usaha mengelola jiwa, penetapan definisi, penetapan batas-batas etika, moral, hukum, dan lain sebagainya.

Mengapa manusia memerlukan batas? Sebagai al-Basyar, ketika kita memasuki “dunia tanpa batas” yang dikenal dengan istilah baligh, muncul kecenderungan sadar yang didorong oleh hasrat otonom dalam diri manusia. Hasrat otonom ini disebut al-hawā (الهوي), yaitu rasa otonom yang hadir akibat adanya “sentuhan”.

Setidaknya ada empat batas yang sering dilanggar oleh manusia melalui kecenderungan sadar ketika memasuki “dunia tanpa batas” (baligh):

1. Batas Biologis

Ketika manusia mulai memasuki dunia biologis, manusia cenderung membuat kanal-kanal pelepasan hasrat dalam dirinya secara biologis. Kanal-kanal ini dapat berbentuk dalam berbagai hal, seperti gaya hidup (style), pemanfaatan waktu luang, eksplorasi jenis makanan, dan lain sebagainya, yang tergolong sebagai posbiologis.

2. Batas Pedagogis

Sistem belajar mengajar dengan pengembangan ilmu pengetahuan yang menyimpang, penjara pemikiran, atau bisnis teologis. Pengembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) seperti asisten virtual, GPS navigation, filter Instagram, papan ketik virtual, dan lain-lain. Semua ini dapat digolongkan sebagai posintelegensi.

3. Batas Psikologis

Perlakuan yang ditujukan untuk kesenangan atau kepuasan psikis, seperti mutilasi, hypersex, perundungan (bullying), bergunjing, dan lain sebagainya.

4. Batas Sosiologis

Dominasi kelompok, kekuasaan, status sosial, dan lain-lain.

Batas-batas yang kita langgar atau lampaui inilah yang disebut sebagai Dunia Pos-Realitas, yaitu dunia tanpa batas sebagai hasil budaya dalam bentuk pemikiran manusia, yang kemudian membentuk suatu worldview atau cara pandang dunia.

Untuk menghindari pelanggaran batas-batas dalam dunia tanpa batas ini diperlukan kesepakatan global sesuai dengan tema-tema yang berkembang dan yang ingin dikembangkan, baik dalam aspek sosial, ekonomi, militer, maupun perilaku individu.

Namun, kesepakatan global tidak dapat dibangun berdasarkan worldview (cara pandang dunia) semata, melainkan harus berlandaskan Godview (cara pandang Tuhan). Dalam Godview inilah manusia dapat membangun kesepakatan global yang berawal dari kesepakatan diri atau individu.

Apa hubungannya dengan puasa?
Kata puasa berasal dari akar kata ṣhāma – yaṣhūmu (صام – يصوم) yang merujuk pada makna adanya kondisi yang menyebabkan pembatasan atau tindakan membatasi. Dari akar kata ini lahir kata ṣhiyām (صيام) dan ṣhaum (صوم) yang secara umum kita artikan sebagai “puasa”.

Kita telah mendiskusikan bahwa dua kata yang berbeda tidak mungkin memiliki arti dan makna yang persis sama. Dalam disiplin morfologi Arab (‘ilm al-ṣarf) dikenal kaidah bahwa “bentuk kata menunjukkan karakter makna”. Dari sini dapat dibedakan antara kata ṣhaum (صوم) yang terdiri dari tiga huruf, dan ṣhiyām (صيام) yang terdiri dari empat huruf. Artinya, makna ṣhiyām lebih luas dibandingkan dengan ṣhaum.

Penggunaan kata ṣaum (صوم) lebih bersifat pada pembatasan material. Hal ini dapat kita lihat pada firman Allah:

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Maka makan, minum dan bergembiralah kamu, jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: “Sesungguh nya aku telah bernazar untuk ar-Rahman, maka aku tidak berbicara (shauman) dengan seorang manusia pun pada hari ini.” (Maryam: 26)

Pembatasan material dapat kita lihat pada penggunaan kata ar-Raḥmān dalam kalimat نَذَرْتُ لِلرَّحْمَـٰنِ صَوْمًا pada ayat di atas.

Sedangkan kata ṣiyām (صيام) tidak hanya bersifat sebagai pembatasan material, tetapi juga mencakup batas-batas biologis, pedagogis, psikologis, dan sosiologis. Oleh sebab itu, banyak hadis yang menginformasikan pembatasan-pembatasan tersebut. Misalnya:

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

“Bukanlah puasa itu sebatas menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi puasa adalah menjauhi perkara yang sia-sia dan kata-kata kotor.” (Hadits Ibnu Khuzaimah)

Puasa dalam makna yang tidak sekadar pembatasan makan dan minum lebih jelas terlihat pada penggunaan kata ṣaum (صوم) dan ṣiyām (صيام) yang muncul dalam satu kalimat pada sebuah hadits:

صُمْ أَفْضَلَ الصَّوْمِ صَوْمَ دَاوُدَ، صِيَامَ يَوْمٍ وَإِفْطَارَ يَوْمٍ 

“Puasalah dengan shaum terbaik yaitu shaum Daud (dalam bentuk) shiyam sehari dan berbuka sehari.”

Dari pemahaman ini, kita dapat menilai Hadits Qudsi (jika benar) terhadap dua hadis yang beredar dengan redaksi sama tetapi menggunakan kata shaum dan shiyam:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا

Hadis yang pertama diriwayatkan Bukhari dan hadis yang kedua diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dapat dipastikan hadis kedua adalah hadis yang sahih.

Jadi, puasa adalah cara kita melatih diri untuk memasuki perjalanan yang panjang dalam dunia tanpa batas agar kita terhindar dari melampaui batas-batas posrealitas.

Mengapa bulan Ramadhan? Sepanjang yang dapat kita pahami karena pada bulan Ramadhan diturunkannya al-Qur’an. Dengan demikian, Ramadhan adalah terminal-terminal dari rangkaian perjalanan yang panjang untuk memperbaiki kendaraan guna melanjutkan perjalanan hingga ke “terminal” selanjutnya.

Dari makna filosofis inilah kita mengucapkan “Marhaban Yā Ramadhan” ketika bulan Ramadhan tiba. Marhaban terbentuk dari huruf ر ح ب yang merujuk pada makna panjang, lapang, dan terbuka lebar. Dari sinilah marhaban dipahami sebagai menerima atau diterima dengan lapang dan gembira. Dari sini juga muncul kata رحبت yang merujuk pada makna tempat yang luas untuk memperbaiki sesuatu guna melanjutkan perjalanan selanjutnya.

Kata marhaban terdapat pada Shad ayat 59 dan 60.

لَا مَرْحَبًا بِهِمْ إِنَّهُمْ صَالُوا النَّارِ

“Tidak ada penerimaan dengan gembira kepada mereka karena mereka akan masuk neraka.”

لَا مَرْحَبًا بِكُمْ أَنْتُمْ قَدَّمْتُمُوهُ لَنَا فَبِئْسَ الْقَرَارُ 

“Tidak ada marhaban bagimu karena kamulah yang menjerumuskan kami, maka amat buruklah (neraka) sebagai tempat menetap.”

Kata rahbat/rahibat terdapat pada at-Taubah ayat 25 dan 118.

ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ

“Bumi yang luas terasa sempit olehmu.”

إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ 

“Bumi terasa sempit pada hal luas bagi mereka.”

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *