Beberapa makna ḥikmah dalam kitab tafsir:
Ibnu Katsir: ḥikmah adalah “pemahaman dalam agama.”
Quraish Shihab: ḥikmah adalah “diperolehnya pengetahuan yang didukung oleh pengalaman yang benar, dan pengalaman itu dilandasi oleh ilmu.”
Beberapa makna ḥikmah dalam al-Qur’an:
1. Nasihat atau arahan Nabi kepada istri-istrinya.
وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan Hikmah. Allah Maha Lembut.” (Al-Ahzab: 34)
2. Larangan-larangan yang disampaikan Allah dalam al-Isra’: 31-37 kita dilarang Allah: membunuh anak takut miskin, mendekati zina, membunuh tanpa alasan, mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang baik, timbangan yang betul, mengikuti sesuatu tanpa ilmu dan hanya persangkaan, berbuat sombong.
Ayat selanjutnya dikatakan semua itu kejahatan yang di benci Allah. Dan selanjutnya dikatakan:
ذَٰلِكَ مِمَّا أَوْحَىٰ إِلَيْكَ رَبُّكَ مِنَ الْحِكْمَةِ ۖ وَلَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتُلْقَىٰ فِي جَهَنَّمَ مَلُومًا مَدْحُورًا
“Itulah Hikmah yang sebagian diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu menjadikan Tuhan selain Allah yang menyebabkan kamu di lemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela.” (Al-Isra’: 39)
3. Mengambil manfaat dari kejadian/peristiwa/fenomena dan informasi sebagai peringatan:
حِكْمَةٌ بَالِغَةٌ ۖ فَمَا تُغْنِ النُّذُرُ
“Itulah Hikmah yang sempurna/memiliki alasan. Maka, tidaklah berguna peringatan itu bagi mereka.” (Al-Qamar: 5)
4. Menyelesaikan masalah – masalah yang dihadapi untuk dirinya sendiri:
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
“Dan sesungguh nya, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman yaitu Bersyukurlah kepada Allah, maka ia dan barang siapa kufur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Terpuji.” (Luqman: 12)
5. Kemampuan menyelesaikan permasalahan orang lain untuk dirinya sendiri dan orang lain:
فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ ۚ وَكُنَّا فَاعِلِينَ
“Maka Kami telah memberikan pemahaman kepada Sulaiman. Dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan Hikmah dan Ilmu. dan telah Kami tundukkan gunung-gunung dan burung-burung, semua bertasbih bersama Daud. Dan Kamilah yang melakukannya.” (Al-Anbiya’: 79)
وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ
“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya (Daud) hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (Shad: 20)
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan Hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui orang yang mendapat.” (An-Nahl: 125)
وَلَمَّا جَاءَ عِيسَىٰ بِالْبَيِّنَاتِ قَالَ قَدْ جِئْتُكُمْ بِالْحِكْمَةِ وَلِأُبَيِّنَ لَكُمْ بَعْضَ الَّذِي تَخْتَلِفُونَ فِيهِ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ
“Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata : “Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentang nya”, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada)Ku.” (Az-Zukhruf: 63)
6. Hikmah dalam arti/makna sebagai Sunnah.
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Dialah yang mengutus seorang Rasul kepada kaum yang ummi dari (kalangan) mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Nya, menyucikan mereka, serta mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Al-Jumu’ah: 2)
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rosul dari kalanganmu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu dan mengajarkan kamu al-Kitab dan al-Hikmah, serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.” (Al-Baqarah: 151)
Dari ayat-ayat yang disampaikan dapat dipahami bahwa al-ḥikmah terpisah dari wahyu dan petunjuk ma‘ūnah, kecuali sedikit yang berkaitan dengan larangan dan peringatan.
Dalam konteks saat ini, al-ḥikmah dalam arti petunjuk langsung masih terus berlangsung sebagaimana firman Allah:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
“(Allah) memberikan al-Hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Siapa yang di beri al-Hikmah sungguh Dia telah diberikan kebaikan yang banyak. Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali ulul albab.” (Al-Baqarah: 269)
Al-ḥikmah bukan berasal dari Kitāb Maknūn yang berada “di luar kesadaran” manusia, melainkan bersumber dari Kesadaran Puncak yang ada di Lauh Maḥfūẓ, lalu diberikan “ke dalam aktivitas sadar dalam diri manusia.”
Mengapa demikian? Karena dalam diri manusia terdapat dialektika yang disebut sebagai ilham.
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ﴿٧﴾ فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ﴿٨﴾
“Dan jiwa serta penyempurnaan nya. Maka di Ilham kan (kepada jiwa itu/nafs) amoralitas dan taqwa.” (Asy-Syams: 7-8)
Jadi:
- Al-ḥikmah berasal dari Kesadaran Puncak Allah.
- Ilham/alhama berasal dari dialektika nafs manusia dalam bentuk aktivitas sadar manusia.
Selama ini ilham sering dipahami berasal langsung dari Allah, padahal yang benar adalah inspirasi yang timbul dari dialektika dalam diri manusia.