Tema 44: Sab’ul Matsani

oleh Iswan Muhammad Isa

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu 7 ayat yang berulang-ulang dan al-Quran ‘azim.” (Al-Hijr: 87)

Kata al-matsānī (المثانى) berasal dari huruf pembentuk ث ن ى yang memiliki dua makna: “dua kali berulang” dan “berulang secara berurutan.” Jadi, sab‘an mina al-matsānī adalah tujuh ayat (tanda, kode) yang berulang secara berurutan.

Ayat adalah fenomena yang ada dalam semesta ini, apa pun bentuknya, termasuk huruf dan angka yang dapat difahami sebagai tanda, simbol, atau kode.

Al-Qur’ān (القرآن) berasal dari qara’a (قرأ) yang secara umum merujuk pada makna membaca, menghimpun, dan mengumpulkan. Dari sinilah muncul kata atau derivasi:

  • al-Qur’ān: sesuatu yang dibaca.
  • al-Qar’u, al-Qirā’ah: menghimpun.
  • istiqrā: penelitian.
  • al-muqāranah: perbandingan.

Kata al-‘aẓīm (العظيم) bermakna “besar” atau “panjang,” misalnya dikatakan:

وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Jadi, al-Qur’ān al-‘aẓīm (القرآن العظيم) berarti “bacaan yang panjang.”

Kata al-matsnā (المثنى) juga berasal dari akar kata tsa-nun-ya (ث ن ى) yang bermakna “berawal dari ujung tali.” Dengan demikian, al-Matsānī juga dapat bermakna ujung tiap surah, dalam bentuk satu ayat yang bermuatan huruf-huruf dengan batasan yang terpisah.

Dengan demikian, sab‘an mina al-matsānī (سبعا من المثانى) adalah tujuh ayat yang berisi huruf-huruf terpisah pada permulaan surah, yaitu:

  • الم
  • المص
  • كهيعص
  • طس
  • طسم
  • حم
  • عسق

Ayat-ayat di atas bukan berupa kata, melainkan potongan huruf, bunyi, atau fonem, yang masing-masing berdiri sebagai satu ayat (ayat pertama).

Selain itu, terdapat pula potongan huruf, bunyi, atau fonem yang muncul pada ayat lain, tetapi bukan merupakan satu ayat tersendiri, melainkan bagian dari ayat, misalnya:

  • (Yusuf) الر تلك آيات الكتاب المبين
  • (ar-Ra‘d) المر تلك آيات الكتاب
  • (an-Naml) طس تلك آيات القرآن
  • (al-Qalam) ق والصلاة
  • (Qaf) ق والقرآن المجيد
  • (Sha’d) ص والقرآن ذى الذكر

Terakhir adalah عسق, yang bukan pembuka surat atau ayat, melainkan berada pada ayat 2 (asy-Syūrā: 2) — حم عسق.

Huruf, bunyi, atau fonem yang terdapat pada sab‘al matsānī terdiri dari 11 fonem:

ا، ل، م، ص، ط، ه، ي، ع، ح، س، ق

Sedangkan fonem yang terdapat pada huruf-huruf selain sab‘al matsānī adalah:

الر، المر، المص، طس، طسم، ق، ص، عسق

Semua fonem yang terdapat pada selain sab‘al matsānī sudah ada pada sab‘al matsānī, kecuali tiga fonem, yaitu: ق، ر، ن.

Ketiga huruf inilah yang menurunkan kata-kata: al-Qur’ān, al-Qar’ū, al-Qirā’ah, al-Istiqrā, dan al-Muqāranah.

Jika fonem sab‘al matsānī digabungkan dengan fonem ق، ر، ن, maka diperoleh 11 + 3 = 14 = 7 × 2, yaitu “tujuh yang diulang” (سبعا من المثانى).

Pada al-Ḥijr: 87 dikatakan:

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

Artinya, ada sab‘al matsānī dan ada al-Qur’ān al-‘aẓīm.

Kedua istilah ini dipisahkan dengan huruf wāw (و) ‘aṭaf. Hal ini menunjukkan bahwa keduanya berbeda, tetapi setara atau seimbang karena sama-sama merupakan wahyu Allah. Misalnya dalam at-Taḥrīm: 5 digunakan ungkapan tsayyibāt wa abkārā (janda dan gadis). Keduanya berbeda, tetapi sama-sama perempuan.

Al-Qur’ān al-‘aẓīm sebagai “bacaan yang panjang” tentu berisi fonem, yaitu suara-suara yang terwujud dalam tanda baca dan huruf yang membentuk kalimat yang dapat dibaca. Sedangkan sab‘al matsānī sudah kita buktikan berupa huruf atau suara yang terdiri dari 11 fonem.

Dengan pemahaman ini, dapat disimpulkan bahwa suatu bahasa yang membentuk perkataan panjang memiliki batas minimal 11 fonem, atau dalam pengertian bahasa Indonesia setara dengan 11 abjad. Manusia yang belum mencapai 11 abjad belum dapat memiliki bahasa yang sempurna.

Sampai hari ini, kita mengenal sistem bahasa yang hanya memiliki 11 fonem, yaitu pada bahasa kelas Gusrah, seperti suku Pirahã di Amazon dan Rotokas di Pulau Nugini.

Sebagai penafsiran pengembangan kita dapat melihat ayat berikut:

وَمِنْ آيَاتِهِ خَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِنْ دَابَّةٍ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ جَمْعِهِمْ إِذَا يَشَاءُ قَدِيرٌ

“Diantara ayat-ayat Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang disebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.” (ِAsy-Syura: 29)

Jika kata al-arḍ (الأرض) dipahami sebagai mencakup seluruh planet atau benda langit, maka ayat di atas menegaskan akan adanya makhluk yang tersebar, yaitu dābbah (دابة) atau makhluk melata, termasuk manusia atau makhluk berakal lainnya.

Allah memungkinkan untuk mengumpulkan makhluk berakal ini dengan dasar ‘alā jam‘ihim (عَلَىٰ جَمْعِهِمْ), karena huruf mīm (م) pada kata -hum (هم) hanya merujuk pada kata ganti untuk makhluk berakal. Kemungkinan ini ditunjukkan dengan kalimat idhā yashā’ (إذا يشاء) — apabila Allah menghendaki.

Dengan perkataan lain, jika terdapat makhluk berakal lain di dalam semesta ini, maka komunikasi bahasa dapat dilakukan dengan menggunakan suara yang berbasis pada 11 fonem.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *