Tema 42: Sunnatullah

oleh Iswan Muhammad Isa

Berdasarkan pelajaran sebelumnya, dapat kita susun pemahaman sebagai berikut:

  • Dalam al-Kitab, Allah menurunkan ayat-ayat muhkamat, yaitu informasi tentang hukum-hukum material objektif dalam bentuk Kalimatullah dan Ayatullah.
  • Dalam al-Qur’an, Allah menurunkan yang mutasyabihat (serupa), yaitu informasi yang berasal dari subjektivitas Allah.
  • Yang muhkamat dan serupa dengan ayat-ayat muhkamat ini disebut surat-surat muhkamat.
  • Surat-surat muhkamat inilah yang disebut sunnah, yaitu sikap dan perilaku subjektif, baik yang berasal dari “dalam diri Allah” maupun yang berasal dari “dalam diri manusia” yang diinformasikan oleh Allah.

Informasi ini secara umum dapat berbentuk wa-ha-ya (wahyu) dan dapat pula berupa a-ta-ya (أتى) (didatangkan) dalam bentuk bukti-bukti material.

An-Nisa: 163

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

Perhatikan ayat di atas, pertama dikatakan auhaina (أوحينا) kepada Muhammad, sebagaimana kepada Nuh dan Nabi setelah Nuh, kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub dan anak-cucunya, Isa, Ayyub, Yunus dan Sulaiman. Kemudian dikatakan “Kami datang kan/Kami berikan (واتينا) Dawud Zabur.

Ayat selanjutnya kita lihat al-Baqarah: 136.

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَىٰ وَعِيسَىٰ وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

Perhatikan ayat di atas:

  • Proses unzila (أُنزِلَ) diberikan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya‘qub, dan keturunan mereka.
  • Proses ūtiya (أُوتِيَ) diberikan kepada Musa, Isa, dan nabi-nabi lainnya.

Adapun bentuk-bentuk ūtiya (yang diberikan/didatangkan) dapat kita lihat pada ayat-ayat berikut:

Al-An’am: 89

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ

Al-Jatsiyah: 16

وَلَقَدْ آتَيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ

Ali Imran: 79

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللَّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ

Jadi, berdasarkan ayat-ayat di atas, bentuk-bentuk ūtiya (أُوتِيَ) adalah al-Kitāb, al-Ḥukma, dan an-Nubuwwah.

Kata atā (أتى) menunjuk pada makna datangnya sesuatu untuk menyikapi suatu keadaan. Atā bisa datang kepada siapa saja, baik dalam bentuk wujud material objektif maupun subjektif. Misalnya dalam doa kita mengatakan:

Al-Baqarah: 201

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً

Al-Isra’: 101

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَىٰ تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَات

Al-Isra’: 55

وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

Shad: 10

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا

An-Naml: 15

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمً

Dengan demikian dapat dipahami bahwa salah satu sunnatullah adalah mendatangkan sesuatu kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, baik dari golongan nabi maupun manusia biasa. Bentuknya dapat berupa wujud objektif, baik material maupun mental, dalam makna positif maupun negatif.

Apa yang didatangkan ini bersifat individual atau kelompok, artinya tidak untuk disampaikan dalam bentuk ajaran yang bisa dimiliki setiap orang. Dengan kata lain, orang yang mendapatkan atā (أتى) memperoleh kemampuan yang khusus dimiliki dirinya sendiri.

Jika dikumpulkan, beberapa bentuk ātaynā (آتينا) yang didatangkan Allah adalah: al-Kitāb, al-Ḥukm, an-Nubuwwah, faḍhlan (fadhilah), ilmu, dan lain-lain.

Semua ini berasal dari subjektivitas Allah dalam bentuk sunnatullah, bukan kalimatullah—meskipun dalam bentuk “hadir”-nya tampak sebagai kalimatullah dalam bentuk ayat. Dengan perkataan lain, al-Kitāb, al-Ḥukm, dan an-Nubuwwah bukanlah teks-teks yang kita pelajari dalam mushaf al-Qur’an, tetapi hadir pada masing-masing individu dalam bentuk kemampuan yang diberikan Allah.

Jadi, atā (أتى) bukan dalam konteks nubuwwat dan risālat yang harus disampaikan dan dilaksanakan oleh seluruh umat, melainkan lebih merupakan kemampuan pribadi. Misalnya ayat berikut:

وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ ۚ وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Dan sesungguhnya Kami berikan Hikmah kepada Luqman yaitu bersyukurlah kepada Allah. Barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri. Barang siapa kufur Allah Maha Kaya dan Terpuji.” (Luqman: 12)

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا

“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba, di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat (رحمة) dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Al-Kahfi: 65)

Luqman dan hamba yang saleh (Khidir) bukanlah nabi, tetapi mereka diberikan atau didatangkan (atā / أتى) berupa hikmah, rahmat, dan ilmu.

Penggunaan atā (أتى) secara umum bagi manusia dapat kita lihat pada QS. al-Insān: 1.

هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

“Telah datang atas manusia moment waktu (حين) dari suatu masa yang tidak terbatas, sehingga ia ketika itu belum merupakan sesuatu yang bernama (yang dapat disebut).” (Al-Insan: 1)

Makna lain dari atā (أتى) juga berarti “menghadap,” sebagaimana terdapat dalam asy-Syu‘arā: 89.

إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Kecuali orang yang menghadap Allah dengan Qalbin Salim.” (Asy-Syu’ara: 89)

Ada dua kata yang mendekati makna atā (أتى), yaitu jā’a (جاء) dan ḥaḍara (حضر).

Al-A’raf: 34

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Al-Baqarah: 180

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا ۖ الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *