Kita ingat kembali pengertian ayat dan muhkamat pada pelajaran sebelumnya.
- Ayat adalah tanda-tanda material objektif yang dapat dipersepsi atau diabstraksikan, yang hadir di alam semesta sebagai representasi dari realitas tertentu.
- Muhkamat berasal dari akar kata ha-ka-ma, yaitu sesuatu yang menunjuk pada keteraturan, kejelasan, kepastian tanpa ambigu, dan tanpa cacat.
Dengan demikian, ayat muhkamat adalah ayat-ayat, baik berupa ayat tekstual (teks wahyu) maupun ayat-ayat kauniyah (alam semesta, termasuk manusia di dalamnya), yang menunjukkan keteraturan, kejelasan, dan kepastian tanpa adanya ambiguitas maupun cacat.
Ayat muhkamat ini terdiri dari dua sisi, yaitu sebagai kalimat dan sebagai ayat.
Kalimat adalah substansi dari wujud alam semesta yang teratur, jelas, pasti, dan tanpa cacat, dengan hukum-hukum yang bersifat ḥaqq sebagaimana adanya, sesuai rancangan Allah tanpa perubahan.
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَعَدْلًا ۚ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ ۚ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Telah selesai kalimat Tuhanmu dengan (benar, jelas, pasti, tanpa cacat) dan adil (seimbang) tidak ada yang dapat merubah kalimat – kalimat Nya.” (Al-An’am: 115)
Kalimat pada al-An‘am: 115 merujuk pada hukum-hukum wujud objektif pada alam semesta. Sedangkan “kalimat” yang merujuk pada hukum-hukum wujud subjektif terdapat pada Yunus: 82.
وَيُحِقُّ اللَّهُ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ
“Allah menetapkan yang haq dengan kalimat-Nya, walaupun orang yang berbuat dosa tidak menyukainya.” (Yunus: 82)
Ayat ini menjelaskan peristiwa ketika Allah menolong Musa AS saat berhadapan dengan para tukang sihir Fir‘aun. Dengan kata lain, “kalimat” dapat bersumber dari subjektivitas maupun objektivitas Allah.
Ayat adalah gejala atau fenomena dari “kalimat” yang dapat dipersepsi atau diekstraksi, baik yang ada di alam semesta maupun dalam diri manusia, sebagaimana disebutkan dalam adz-Dzāriyāt: 20–21. Secara lebih detail, Allah menjelaskannya dalam al-Jātsiyah (45): 1–6.
حم ﴿١﴾ تَنزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ ﴿٢﴾ إِنَّ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّلْمُؤْمِنِينَ ﴿٣﴾ وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِن دَابَّةٍ آيَاتٌ لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ ﴿٤﴾ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن رِّزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ آيَاتٌ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ ﴿٥﴾ تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۖ فَبِأَيِّ حَدِيثٍ بَعْدَ اللَّهِ وَآيَاتِهِ يُؤْمِنُونَ ﴿٦﴾
“Di langit dan bumi ada tanda-tanda bagi orang ber-IMAN. Dalam penciptaan manusia dan binatang yang bertebaran ada tanda-tanda bagi Orang Yang Yakin. Pada pergantian siang dan malam dan rizki berupa hujan yang diturunkan dari langit yang menghidupkan bumi setelah matinya dan pada perkisaran angin terdapat tanda-tanda bagi Orang Berakal. Itulah ayat-ayat Allah yang Kami bacakan, kepada mu sebenarnya, maka dengan perkataan (حديث) mana lagi mereka akan beriman setelah Allah dan ayat-ayat-Nya?”
(Al-Jatsiyah: 1-6).
Jadi, dalam ayat ini yang disebut orang beriman adalah mereka yang yakin dan berakal, yaitu yang memanfaatkan intelektualnya. Oleh sebab itu, Allah memisahkan antara konsep Islam dan Iman.
Al-Hujurat: 14
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا ۖ قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Seluruh proses dari ayat-ayat ke-alam-an dan alam semesta berada dalam suatu sistem yang nyata, yang disebut Kitab Mubin.
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Disisi Nya kunci-kunci yang ghaib. Tidak ada yang mengetahui melainkan Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut; tidak ada daun yang gugur melainkan Dia mengetahui, dan tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak pula yang basah, dan kering, melainkan kan dalam Kitab Mubin (كتاب مبين).” (Al-An’am: 59)
Jadi, Kitab Mubin (كتاب مبين) adalah keseluruhan proses hukum-hukum material objektif beserta segala konsekuensi logisnya yang ada di langit dan di bumi.
وَمَا مِنْ غَائِبَةٍ فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Tidak ada yang tersembunyi (ghaib) di langit dan di bumi melainkan ada dalam Kitab Mubin.” (An-Naml: 75)
Jika Kitab Mubin (كتاب مبين) adalah keseluruhan proses hukum-hukum material objektif beserta konsekuensi logisnya, maka yang posisinya disebut ‘indahu ummul al-Kitab adalah sumber asalnya. Sedangkan al-Kitab al-Mubin adalah keseluruhan proses hukum-hukum material subjektif beserta konsekuensi logisnya. Hal ini dapat kita lihat pada az-Zukhruf: 1–4.
حم ﴿١﴾ وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ ﴿٢﴾ إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ﴿٣﴾ وَإِنَّهُ فِي أُمِّ الْكِتَابِ لَدَيْنَا لَعَلِيٌّ حَكِيمٌ ﴿٤﴾
“Ha Mim. Demi al-Kitab al-Mubin. Sesungguh nya Kami menjadikannya bacaan dalam bahasa Arab agar kamu mengerti. Dan sesungguh nya al-Kitab al-Mubin itu ada di dalam Ummul Kitab di sisi Kami yang benar-benar tinggi” (Az-Zukhruf: 1-4)
Jadi, ada Kitab Mubin yang bersifat objektif dan ada al-Kitab al-Mubin yang bersifat subjektif.
- Kitab Mubin posisinya disebut عنده (‘indahu / dimiliki).
- Al-Kitab al-Mubin posisinya disebut لدينا (ladaynā / mempunyai).
Dari turunan makna inilah kemudian dikenal istilah ‘Ilmu Ladunī.
فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا آتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
“Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba Kami, yang telah Kami berikan Rahmat dari عند نا (milik Kami) dan yang telah Kami ajarkan من لدنا (ilmu yang Kami punyai).” (Al-Kahfi: 65)