Tema 31: Ruh

oleh Iswan Muhammad Isa

Pada tema sebelumnya tentang al-Basyar disebutkan bahwa ketika Basyar telah sempurna, maka ke dalam dirinya ditiupkan Ruh (Shad: 71–72). Hal ini juga ditegaskan dalam al-Hijr: 28–30.

Kata Ruh berasal dari mashdar ر و ح yang bermakna potensi kesadaran yang dapat menumbuhkan atau mengembangkan aspek intelektual, spiritual, maupun moral. Oleh sebab itu, penggunaan kata ruh di dalam Al-Qur’an selalu merujuk pada makna ini.

1. Al-Qur’an disebut Ruh.

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah, Kami wahyukan kepadamu Ruh dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah al-kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya (Ruh) itu cahaya yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Asy-Syura: 52)

2. Jibril disebut Ruh karena tugasnya menyampaikan wahyu.

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ

“Turun malaikat ar-Ruh (Jibril) pada malam itu dalam izin Tuhan-nya untuk mengatur segala urusan.” (Al-Qadr: 4)

3. Demikian juga ketika Nabi Isa AS semasa bayi mampu berbicara sebagaimana orang dewasa.

Allah berfirman:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِّنْهُم مَّن كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ ۚ وَآتَيْنَا عِيسَى  ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِن بَعْدِهِم مِّن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۖ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُم مَّنْ آمَنَ وَمِنْهُم مَّن كَفَرَ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا ۗ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata dan sebagiannya Allah meninggikan beberapa derajat. Dan Kami berikan kepada Isa putra Maryam kecerdasan dan Kami perkuat dia dengan Ruh Qudus. Dan kalau  Allah menghendaki (Sya’a), niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang sesudah rasul-rasul itu, sesudah datangnya penjelasan-penjelasan. Akan tetapi mereka berselisih, maka ada diantara mereka yang beriman dan ada pula di antara mereka yang kafir.” (Al-Baqarah: 253)

Berdasarkan ayat-ayat tentang Ruh di atas, dapat kita simpulkan bahwa Ruh adalah Potensi Kesadaran Mutlak atau Kesadaran Puncak yang ada pada Entitas Abstrak Ahad. Oleh sebab itu Allah menyatakan:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra: 185)

Dan oleh sebab itu pula, ketika Basyar ditiupkan Ruh, Allah menyatakan bahwa Ruh yang ditiupkan itu bersumber dari Potensi Kesadaran Mutlak milik Allah secara otonom:

وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي

“Dan telah Ku-tiupkan ke dalamnya sebagian kecil Ruh-Ku.” (Shad: 72)

Dengan ditiupkannya Ruh ke dalam diri Basyar, maka makhluk biologis Basyar yang sebelumnya secara biologis serupa dengan makhluk pada dunia fauna memperoleh potensi kesadaran dalam dirinya.

Basyar yang telah ditiupkan Ruh inilah yang kemudian disebut sebagai “Adam”.

Sebagaimana Allah yang Ahad merupakan Entitas Abstrak, maka konsekuensi logisnya Ruh juga adalah Entitas Abstrak. Artinya, Ruh tidak dapat diketahui melalui dirinya sendiri, melainkan hanya dapat dipahami dari fungsinya yang tampak melalui kemampuan, sikap, perilaku, serta kesadaran yang berproses secara bertahap.

Fungsi Ruh:

  1. Memberikan potensi kesadaran pada nafs psikis.
  2. Mengendalikan, mengatur, dan membatasi sifat otonom al-Basyar.
  3. Menjadi amanah yang dipikul manusia.

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan/membentangkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengabaikannya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu zalim dan bodoh.” (Al-Ahzab: 72)

Catatan:

Perlu didiskusikan lebih lanjut:

  • Apakah karena zalim dan bodoh maka manusia menerima amanah?
  • Apakah karena zalim dan bodoh maka Allah memberi amanah?
  • Apakah “amanah” itu terkait dengan kekhalifahan?

Berbagai tafsir ulama tentang Ruh:

Imam Abu Bakar al-Anbary: Kata Ruh dan Nafs adalah sama.

Imam as-Suhaili dalam ar-Raudh: Ruh adalah muannas karena Ruh bermakna Nafs.

Abu Abbas: Ruh adalah penyebab hidupnya jasad.

Ibn Qayyim al-Jauziyah: Ruh adalah sebab hidup, bergerak, memperoleh manfaat, dan menghindar dari kemudaratan.

Syekh Muhammad Syaltut: Ruh adalah kekuatan yang menghadirkan kehidupan dalam alam yang hidup, baik berupa tumbuh-tumbuhan, binatang, maupun manusia.

Abu Hamid al-Ghazali:

  • Ruh adalah suatu jisim yang halus, berasal dari rongga jantung, lalu menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh nadi.
  • Ruh adalah jisim halus yang dapat mengenal.

Jawad Hurbakshy: Ruh adalah lapisan hati yang menikmati titik pandang cahaya Allah, tempat Allah memperlihatkan wujud-Nya tanpa tabir penghalang. Hati diibaratkan kulit kerang, sedangkan Ruh adalah mutiaranya.

Imam At-Thusi: Ruh adalah wujud cahaya tinggi yang hidup, yang bertentangan dengan benda, sebagaimana beriaknya air pada bunga mawar.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *