Tema 29: Wahyu

oleh Iswan Muhammad Isa

Setelah melalui masa pembelajaran al-Ta’lim, al-Bayan, dan pengetahuan tentang hari akhir (eskatologi), ketika bahasa telah sempurna, mulailah Allah menyampaikan pesan dalam bentuk wahyu, sebagaimana dijanjikan-Nya dalam al-Baqarah: 38.

قُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَاىَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Petunjuk dalam bentuk wahyu ini pertama kali disampaikan kepada Nabi Nuh A.S., sebagaimana firman-Nya:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَىٰ نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ ۚ وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَىٰ وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ ۚ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُورًا

“Sesungguhnya Kami telah mewahyukan kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan Nabi-Nabi sesudah (Nuh), dan telah Kami wahyukan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.” (An-Nisa: 163)

Kata “wahyu” (وَحْيٌ) berasal dari akar kata wa-ḥa-ya yang bermakna menyampaikan informasi atau pengetahuan secara rahasia agar pihak penerima dapat memahami dan mengetahuinya. Dengan demikian, pada dasarnya wahyu merupakan suatu bentuk transformasi yang berisi perintah, larangan, atau informasi yang harus dipelajari dan diketahui.

Sebagai suatu proses transformasi, wahyu memiliki berbagai bentuk sesuai dengan tujuan yang hendak disampaikan.

1. Program atau fungsi pada struktur gen mahluk hidup.

وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Jadikanlah gunung-gunung sebagai rumah, di juga pohon serta apa yang mereka sediakan.” (An-Nahl: 68)

2. Program atau fungsi bentuk materi.

فَقَضَىٰهُنَّ سَبْعَ سَمَٰوَاتٍ فِى يَوْمَيْنِ وَأَوْحَىٰ فِى كُلِّ سَمَآءٍ أَمْرَهَا ۚ وَزَيَّنَّا ٱلسَّمَآءَ ٱلدُّنْيَا بِمَصَٰبِيحَ وَحِفْظًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ ٱلْعَزِيزِ ٱلْعَلِيمِ

”Maka Dia menetapkan tujuh langit dalam dua periode. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Fushilat: 12)

3. Bentuk fuadi (suara dan bentuk).

Bentuk ini paling sederhana dan paling primitif.

وَلَقَدْ جَآءَتْ رُسُلُنَآ إِبْرَٰهِيمَ بِٱلْبُشْرَىٰ قَالُوا۟ سَلَٰمًا ۖ قَالَ سَلَٰمٌ ۖ فَمَا لَبِثَ أَن جَآءَ بِعِجْلٍ حَنِيذٍ

“Dan sesungguhnya utusan-utusan Kami telah datang kepada lbrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengucapkan: “Selamat”. Ibrahim menjawab: “Selamat,” maka tidak lama kemudian Ibrahim menghidangkan daging anak sapi yang dipanggang.” (Hud: 69)

4. Bentuk bisikan halus.

Wahyu dalam bentuk ini diperoleh manusia ketika menghadapi suatu keadaan yang sulit, termasuk dalam upaya memecahkan persoalan ilmu pengetahuan. Bentuk wahyu semacam ini tidak berkaitan dengan syariat, melainkan muncul pada saat menghadapi masalah kritis yang bersifat praktis-epistemik.

وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِى ٱلْيَمِّ وَلَا تَخَافِى وَلَا تَحْزَنِىٓ ۖ إِنَّا رَآدُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ

“Dan kami wahyukan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai. Janganlah kamu takut dan sedih, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang Nabi.” (Al-Qashash: 7)

5. Melalui manam/dalam keadaan tidur.

Wahyu juga dapat disampaikan melalui fenomena yang ditujukan khusus kepada Nabi. Adapun bagi selain Nabi, bentuknya disebut sebagai mubashirah (المباصرة)/wawasan.

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعْىَ قَالَ يَٰبُنَىَّ إِنِّىٓ أَرَىٰ فِى ٱلْمَنَامِ أَنِّىٓ أَذْبَحُكَ فَٱنظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِىٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Maka tatkala anak itu sampai (balgha) berusaha bersama (Ibrahim), Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”. (Ash-Shaffat: 102)

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ إِنِّى رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِى سَٰجِدِينَ

“Ingatlah, ketika Yusuf berkata : “Wahai ayahku, aku melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.” (Yusuf: 4)

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى ٱلْعَرْشِ وَخَرُّوا۟ لَهُۥ سُجَّدًا ۖ وَقَالَ يَٰٓأَبَتِ هَٰذَا تَأْوِيلُ رُءْيَٰىَ مِن قَبْلُ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّى حَقًّا ۖ وَقَدْ أَحْسَنَ بِىٓ إِذْ أَخْرَجَنِى مِنَ ٱلسِّجْنِ وَجَآءَ بِكُم مِّنَ ٱلْبَدْوِ مِنۢ بَعْدِ أَن نَّزَغَ ٱلشَّيْطَٰنُ بَيْنِى وَبَيْنَ إِخْوَتِىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى لَطِيفٌ لِّمَا يَشَآءُ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

“Dan ia menaikkan  ibu-bapaknya ke atas Arasy. dan yang lainnya merebahkan diri kepada Yusuf. Dan Yusuf berkata: “Wahai ayahku inilah ta’wil mimpiku yang dahulu. Sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan. Dan sesungguhnya Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antara aku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Yusuf : 100)

Adapun mimpi sehari-hari yang sering kita alami disebut al-ḥulm (الحلم), yaitu potongan-potongan mimpi yang berasal dari memori yang tersimpan di dalam otak dan tidak saling berhubungan. Rasulullah ﷺ bahkan pernah dituduh mengalami al-ḥulm.

بَلْ قَالُوٓا۟ أَضْغَٰثُ أَحْلَٰمٍۭ بَلِ ٱفْتَرَىٰهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِـَٔايَةٍ كَمَآ أُرْسِلَ ٱلْأَوَّلُونَ

“Bahkan mereka berkata : “Itu hanya mimpi yang kacau atau rekayasa atau dia itu seorang penyair. Cobalah dia datangkan kepada kita suatu tanda seperti rasul terdahulu”. (Al-Anbiya’: 5)

Kata al-ḥulm berasal dari akar kata ḥa-la-ma yang bermakna kesamaran antara satu hal dengan hal lainnya. Istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan kematangan biologis.

وَإِذَا بَلَغَ ٱلۡأَطۡفَٰلُ مِنكُمُ ٱلۡحُلُمَ فَلۡيَسۡتَـْٔذِنُواْ كَمَا ٱسۡتَـْٔذَنَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡۚ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٞ

“Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur (baligh), maka hendaklah mereka meminta izin seperti orang yang sebelumnya minta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. Dia Allah Maha mengetahui lagi bijaksana.” (An-Nur: 59)

Sudah kita pahami bahwa wahyu adalah transformasi informasi atau pengetahuan yang disampaikan secara rahasia. Artinya, penerima wahyu tidak berjumpa secara fisik dengan entitas pemberi informasi, melainkan menerimanya melalui tanda, simbol, isyarat, atau sarana lain yang berfungsi sebagai perantara. Hal ini ditegaskan Allah SWT. dalam firman-Nya:

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُكَلِّمَهُ ٱللَّهُ إِلَّا وَحۡيًا أَوۡ مِن وَرَآئِ حِجَابٍ أَوۡ يُرۡسِلَ رَسُولٗا فَيُوحِيَ بِإِذۡنِهِۦ مَا يَشَآءُۚ إِنَّهُۥ عَلِيٌّ حَكِيمٞ

“Dan tidak mungkin bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (Asy-Syura: 51)

Transformasi wahyu yang diterima Rasulullah ﷺ:

1. Wahyu dalam bentuk persepsi indrawi fu’adi yang bersifat konkret dan nyata.

Bentuk wahyu ini pertama kali diterima Nabi ketika melakukan kontak awal dengan Malaikat Jibril. Hal ini diperlukan agar Nabi meyakini bahwa pengalaman yang dialaminya bukanlah mimpi ataupun sekadar fenomena alam biasa.

Inilah salah satu alasan mengapa al-Qur’an diturunkan secara bertahap, agar dapat diterima dan ditangkap secara teratur oleh indera fu’adi Rasulullah ﷺ.

وَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ عَلَيۡهِ ٱلۡقُرۡءَانُ جُمۡلَةٗ وَٰحِدَةٗۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِۦ فُؤَادَكَۖ وَرَتَّلۡنَٰهُ تَرۡتِيلٗا

“Berkata orang-orang kafir: ‘Mengapa al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekali gus?’ Demikianlah supaya Kami perkuat fuad-mu dengan nya dan Kami bacakan secara teratur dan urut.” (Al-Furqan: 32)

2. Wahyu dalam bentuk abstraksi.

Wahyu jenis ini merupakan yang paling tinggi dan paling banyak diterima Nabi, yaitu ketika Jibril datang tanpa dapat dipersepsi secara indrawi dan langsung mendokumentasikan informasinya di qalbu Nabi.

Keadaan atau situasi saat Nabi menerima wahyu ini dapat dilihat dalam beberapa hadits:

“Terkadang wahyu itu datang kepadaku seperti suara lonceng, dan inilah yang paling berat bagiku. Saat itu ia menyampaikan sesuatu, maka aku pun memahaminya. Dan terkadang malaikat datang dalam wujud seorang laki-laki, lalu ia berbicara kepadaku dan aku pun memahami apa yang ia ucapkan.” (HR. Bukhari no. 3043 & Muslim no. 2333).

Aisyah r.a. meriwayatkan:

إِذَا نَزَلَ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ﷺ الْوَحْيُ ثُقِلَ ذٰلِكَ عَلَيْهِ وَلَقَدْ رُؤْيَا فِيْ وَجْهِهِ عَرَقًا

“Apabila Rasulullah ﷺ menerima wahyu saat berada di atas tunggangannya, maka bagian perut unta itu akan menempel ke tanah.” (HR. Ahmad no. 24912).

Berdasarkan hadits-hadits di atas, dapat diketahui betapa beratnya keadaan yang dialami Nabi ketika menerima wahyu, bahkan terkadang sampai tidak sadarkan diri. Di sinilah letak perbedaan mendasar antara kondisi Nabi dengan manusia yang mengalami epilepsi atau kesurupan, sebagaimana tuduhan pihak luar terhadap beliau.

Orang yang mengalami epilepsi, pingsan, atau kesurupan, setelah sadar tidak mengetahui apa pun yang telah terjadi pada dirinya. Sebaliknya, Nabi setelah sadar mampu membacakan wahyu, bahkan ayat-ayat panjang sekalipun, dengan benar dan dapat diuji.

Mengapa harus dalam keadaan tidak sadar?

Psikologi modern membuktikan bahwa manusia tidak mampu menerima dan memproses data yang masuk pada nalar (fu’ad) maupun intelek/otak (qalb) dalam satu momen yang bersamaan.

Dalam kehidupan sehari-hari hal ini dapat diibaratkan dengan fokus sebuah kamera: data yang jelas dan terang hanya terdapat pada titik fokus, sementara data yang berada di luar titik tersebut akan tampak kabur. Dengan demikian, data atau informasi harus diterima secara berurutan agar dapat dipahami secara sempurna.

Ada dua cara memberi dan menerima informasi:

1. Melalui alat indrawi.

Data masuk melalui alat indrawi, kemudian dikirim ke otak. Otak menyimpan data tersebut, melakukan konstruksi, dan menarik kesimpulan. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan manusia untuk menggunakan akal (qalb) terhadap data-data yang diterima melalui indra.

أَفَلَمۡ يَسِيرُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ فَتَكُونَ لَهُمۡ قُلُوبٞ يَعۡقِلُونَ بِهَآ أَوۡ ءَاذَانٞ يَسۡمَعُونَ بِهَاۖ فَإِنَّهَا لَا تَعۡمَى ٱلۡأَبۡصَٰرُ وَلَٰكِن تَعۡمَى ٱلۡقُلُوبُ ٱلَّتِي فِي ٱلصُّدُورِ

“Maka apakah mereka tak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai Qalbu yang dengan itu mereka dapat menggunakan akalnya, atau mereka mempunyai telinga yang dengan itu dapat mendengar ? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tapi yang buta itu adalah Qalbu (otak) yang ada dalam batok kepalanya.” (Al-Hajj: 46)

2. Langsung ke otak tanpa melalui alat indrawi.

Informasi atau data dapat langsung masuk ke otak tanpa perantara alat persepsi indrawi. Berbagai eksperimen telah membuktikan hal ini melalui dunia virtual. Secara teknis, contohnya dapat dilihat dalam film The Matrix yang disutradarai oleh Lana dan Lili Wachowski pada tahun 1989 (sekarang sudah mencapai episode IV).

Dengan demikian, data akan diterima secara jernih dan tidak bercampur apabila alat persepsi indrawi tidak bekerja. Inilah sebabnya ketika Nabi menerima wahyu, beliau kehilangan kesadaran dalam arti alat indrawinya tidak berfungsi, mirip dengan keadaan orang pingsan atau kesurupan. Namun karena data wahyu sudah terdokumentasi di dalam qalbu, maka ketika sadar Nabi dapat menceritakan dan membacakannya kembali dengan lancar.

Catatan:

  • Hadits Nabi menjelaskan bahwa manusia biasa pun dapat menerima informasi melalui mubasysyirāt (kabar gembira) atau dalam bentuk “bisikan halus”, baik berupa informasi maupun penyelesaian masalah-masalah yang mendesak.
  • Berdasarkan hal tersebut, informasi hanya dapat diterima ketika kesadaran tidak terpecah, atau bahkan (mungkin) sedikit berkurang. Hal inilah yang dipraktikkan dalam aliran sufi atau tarekat dengan berbagai bentuk kegiatan, seperti tarian, zikir, tawajjuh, dan lain sebagainya, yang intinya adalah mengurangi kesadaran inderawi.
  • Hal tersebut dapat dilakukan selama tidak bertentangan dan tidak menyalahi prinsip-prinsip Al-Qur’an dalam kehidupan nyata.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *