Tema 27: al-Bayan

oleh Iswan Muhammad Isa

Secara sederhana, kita dapat mengikuti kembali tahap perkembangan manusia:

  1. Pembentukan al-Basyar sebagaimana Shad: 71, di mana al-Basyar berproses secara evolusi untuk mencapai kesempurnaan bentuk.
  2. Fase manusia al-Basyar ini tumbuh, berubah, dan berkembang sebagaimana makhluk biologis lainnya seperti primata (gorila, monyet, kera) yang hidup berkelompok, bersaing, merusak, serta menumpahkan darah (membunuh dan memakan daging).
  3. Manusia al-Basyar ini kemudian ditiupkan Ruh, dan dengan potensi Ruh inilah fase al-Basyar memasuki fase Adam.
  4. Pada fase Adam, manusia al-Basyar sudah mampu mempelajari Asma (simbol suara dan bentuk), termasuk rasa yang menimbulkan keinginan sadar (al-Baqarah: 30–35).
  5. Keinginan sadar dari rasa inilah yang menimbulkan persepsi dari hasil suara dan bentuk. Persepsi manusia Adam menyebabkan Adam terpedaya oleh asy-Syaithan sehingga akhirnya ia dan istrinya keluar dari Jannah (al-Baqarah: 36).

فَأَزَلَّهُمَا الشَّيْطَانُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِي الْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَاعٌ إِلَىٰ حِينٍ

“Lalu keduanya digelincirkan Syaithan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula, dan Kami berkata ‘Ihbithu’, sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat dan waktu di bumi serta kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” (Al-Baqarah: 36)

  1. Ayat ini menunjukkan fase Adam yang mempelajari asma’, memiliki “persepsi” terhadap asma’ yang dengan “persepsi” tersebut Adam terpedaya akibat pemikiran Syaithani yang muncul pada dirinya. Hal ini dijelaskan pada  Thaha: 120-121.

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ ‎﴿١٢٠﴾‏ فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ ‎﴿١٢١﴾

“Kemudian  Syaithan membisikkan kepadanya, berkata: ‘Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada kamu pohon kekal dan kerajaan yang tidak akan binasa?’ Maka keduanya memakannya memakan dari pohon itu, lalu mpaklah  aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupi dengan daun-daun Jannah, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia.” (Thaha: 120-121)

  1. Fase ihbithū yang pertama adalah fase persepsi, yaitu saat manusia Adam mulai memahami adanya moral sehingga ia menutupi dirinya yang tadinya telanjang.
  2. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya (al-Baqarah: 37).

فَتَلَقَّىٰٓ ءَادَمُ مِن رَّبِّهِۦ كَلِمَـٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

  1. Ayat ini memperlihatkan logika bahwa kedua spesies Adam mengalami transformasi dari fase persepsi menuju fase pemahaman, dan akhirnya berujung pada abstraksi. Melalui abstraksi inilah Adam dapat menerima beberapa kalimat dari Tuhannya.
  2. Jadi, Adam mulai memasuki fase mempelajari al-Qalam, yaitu kemampuan memisahkan unsur dan mengecap fase, sebagaimana seorang anak kecil dengan pipinya mulai mengenal benda.
  3. Dari uraian ini, sangat jelas bahwa persepsi dapat dilakukan secara individual, sedangkan abstraksi dapat diperoleh dari pihak luar. Dalam konteks ini, Allah-lah yang mengajarkan (ta’līm). Konfirmasi ini terlihat ketika Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah pun menerima taubatnya.
  4. Lalu, bagaimana menghubungkan persepsi dengan abstraksi? Tahap individu harus melalui gagasan dari pihak luar, yaitu Allah yang mengajarkan (ta’līm), untuk membedakan dan menghidupkan unsur “susun”, yang kemudian menjadi dasar kemampuan al-Qalam.
  5. Pada saat Adam menerima kalimat dari Tuhannya inilah manusia memasuki fase al-Bayān, sebagaimana firman-Nya.

الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ‎﴿٤﴾‏ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ‎﴿٥﴾

“Yang mengajarkan dengan al-Qalam. Mengajarkan manusia apa yang belum mereka ketahui.” (Al-‘Alaq: 4-5)

Melalui al-Ta‘līm inilah al-Insān mulai berproses mempelajari bahasa yang disebut al-Bayān, sebagaimana firman Allah:

عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ

“Mengajarinya pandai berbicara” (Ar-Rahman: 4)

Pada fase inilah kelompok atau spesies Adam yang telah memasuki fase al-Insān kemudian memasuki tahap khalīfah yang kedua, sebagaimana firman-Nya:

قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Kami berfirman: Ihbithu semuanya dari sana. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka tidak ada ketakutan baginya dan tidaklah mereka bersedih.” (Al-Baqarah: 38)

Pada tahap ini mulailah perkembangan bahasa bagi al-Insān awal. Tahap ini berlangsung lama, karena pada tahap ini dimulai proses pembelajaran bahasa dan pemberian berbagai istilah secara sederhana.

Pada tahap ini, wahyu dari Tuhan belum diberikan, sebab wahyu secara sempurna baru dapat disampaikan ketika manusia telah memiliki bahasa yang sempurna.

Sepanjang informasi al-Qur’an, anak-anak Adam harus mengetahui arti, karena al-Qur’an sebagai hidayah tidak boleh ambigu. Sebagaimana firman Allah:

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِدْرِيسَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا ‎﴿٥٦﴾‏ وَرَفَعْنَاهُ مَكَانًا عَلِيًّا ‎﴿٥٧﴾

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris di dalam al-Kitab. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. (Maryam: 56-57)

وَإِسْمَاعِيلَ وَإِدْرِيسَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّابِرِينَ ‎﴿٨٥﴾‏ وَأَدْخَلْنَاهُمْ فِي رَحْمَتِنَا ۖ إِنَّهُم مِّنَ الصَّالِحِينَ ‎﴿٨٦﴾

Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. Kami telah memasukkan mereka kedalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh. (ِAl-Anbiya’: 85-86)

Nabi Idris inilah yang bertugas sebagai pengajar dalam pengajaran bahasa yang berlanjut secara efektif. Hal ini akan disampaikan dalam pelajaran yang lain.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *