Sampai hari ini, setidaknya kita sudah mengetahui bahwa sya’i (materi) pada bagian terkecilnya terdiri dari inti atom, proton, neutron, serta garis edar elektron-elektron yang berbentuk awan atau asap. Elektron ini bersifat negatif dan merupakan partikel elementer, yaitu bentuk dasar atau cikal bakal pembentuk sya’i (materi).
Cikal bakal lainnya adalah “anti-partikel elektron” yang disebut positron dan bermuatan positif.
Elektron yang bersifat negatif ini memiliki potensi, sifat, dan otonom dalam dirinya sendiri yang senantiasa berubah, tumbuh, dan berkembang sebagaimana dijelaskan dalam al-Qashash: 88.
وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Jangan tunduk /patuh selain Allah. Tidak ada Tuhan selain Dia. Setiap sya’i pasti berubah, tumbuh, dan berkembang kecuali Wajah-Nya. Baginya segala hukum / kebijaksanaan / hikmah dan kepada-Nya kamu dikembalikan.” (Al-Qashash: 88)
Allah Yang Maha Meliputi sya’i, dengan kesadaran-Nya mengetahui perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan dari cikal bakal elektron negatif ini, dari awal hingga akhir, termasuk potensi munculnya nafs (entitas hidup) dari perkembangan tersebut. Hal ini sebagaimana diinformasikan Allah:
هَلْ أَتَىٰ عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْـًٔا مَّذْكُورًا
“Bukankah telah datang atas manusia suatu momen (masa) (حين) yang berasal dari الدهر (masa lalu yang panjang) yang pada waktu itu belum menjadi sya’i (sesuatu) yang dapat disebut.” (Al-Insan: 1).
Dengan segala kebijaksanaan, hukum, dan hikmah-Nya melalui simbol-simbol ar-Rahman dan ar-Rahim, Ahad melakukan intervensi, campur tangan, atau melibatkan Diri-Nya untuk mengarahkan serta membimbing agar perubahan, pertumbuhan, dan perkembangan partikel elementer yang bersifat negatif ini dapat berubah, tumbuh, dan berkembang menjadi lebih baik dari sifat-sifat awalnya yang negatif.
Tindakan awal dan berlanjut inilah yang diinformasikan serta ditegaskan Allah kepada manusia sebagaimana firman-Nya:
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dialah yang awal dan akhir, yang lahir dan batin dan Dia mengetahui segala sesuatu yang diliputinya.” (Al-Hadid: 3)
Coba perhatikan: hanya penggunaan Awal–Akhir dan Zhahir–Bathin dari seluruh asma’ Allah yang menggunakan huruf wawu (و) athaf. Jadi:
- Ahad-lah yang Awal hingga Akhir melakukan intervensi.
- Intervensi ini dapat dipahami melalui simbol-simbol ar-Rahman (secara zhahir) dan ar-Rahim (secara bathin).
- Sebelum intervensi, tidak ada kekosongan materi karena cikal bakal materi, yaitu elektron negatif, sudah ada sebelumnya. Yang ada sebelum tindakan awal adalah “kekosongan hukum-hukum rahmani dan rahimi.”
Oleh karena itu, Allah mengingatkan agar kita tidak merusak apa yang telah dilakukan Allah:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا ۚ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
“Jangan kamu rusak permukaan bumi (aradh) setelah Allah meng-Islah Nya. Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf: 56)
Intervensi awal dan seterusnya inilah yang kita kenal dengan Qadha (قضاء).
Dalam al-Qur’an pengertian/penggunaan Qadha ada beberapa makna:
1. Bermakna informasi:
فَقَضَيْنَا إِلَيْهِ ذَٰلِكَ الْأَمْرَ أَنَّ دَابِرَ هَٰؤُلَاءِ مَقْطُوعٌ مُّصْبِحِينَ
“Telah Kami informasikan kepada nya (Luth) tentang perkara ini, bahwa mereka akan ditumpas habis di waktu Subuh.” (Al-Hijr: 66)
2. Bermakna amar/perintah:
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Allah dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al-Isra: 23)
3. Bermakna mengakhiri sesuatu (kematian):
فَوَكَزَهُ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ
“Lalu Musa memukulnya, maka berakhirlah (mati) lah ia.” (Al-Qashash: 15)
4. Terakhir yang menjadi bahasan kita adalah Qadha (قضاء) bermakna kehendak Ilahi dalam bentuk-bentuk operasional ketetapan hukum-hukum material-obyektif dari partikel elementer elektron dan positron.
Beberapa ayat yang berkaitan dengan Qadha dalam pengertian ini:
بَدِيعُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ وَإِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
“Allah membuat bentuk baru yang tidak ada bentuk seperti langit dan bumi sebelumnya; ketika (Allah) menetapkan Qadha Amar, maka Dia ber-Qaul (berfirman) kepada partikel elementer: ‘Kun fayakun’.” (Al-Baqarah: 117)
Catatan:
hu (nya) ditujukan pada materi padat cikal bakal langit dan bumi. Lihat juga (Al-Anbiya: 30.)
مَا كَانَ لِلَّهِ أَن يَتَّخِذَ مِن وَلَدٖۖ سُبۡحَٰنَهُۥٓۚ إِذَا قَضَىٰٓ أَمۡرٗا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
“Tiada layak bagi Allah mempunyai anak. Maha Suci Dia. Apabila menetapkan Qadha Amar maka Dia ber-Qaul kepada-Nya (materi dasar partikel elementer) kun fa yakun.” (Maryam: 35)
Ayat ini berkaitan dengan Ali ‘Imran: 47.
قَالَتْ رَبِّ أَنَّىٰ يَكُونُ لِي وَلَدٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ ۖ قَالَ كَذَٰلِكِ اللَّهُ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ إِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ
“(Maryam) berkata: Wahai Tuhanku, bagaimana aku memperoleh seorang anak padahal aku tidak disentuh laki-laki? Demikianlah keadaan-Nya, Allah mempola apa yang Dia kehendaki; apabila Dia menetapkan Qadha Amar maka Dia ber-Qaul kepada materi dasar (partikel elementer) kun fa yakun.” (Ali Imran: 47)
هُوَ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ فَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُن فَيَكُونُ
“Dialah yang menghidupkan dan mematikan, maka apabila Dia menetapkan Qadha Amar, Dia hanya ber Qaul kepadanya (Partikel Elementer): Kun Fayakun” (Ghafir: 40)
Jadi, Qadha Amar adalah ketetapan yang bersumber dari kehendak Ilahi dalam bentuk operasional ketetapan hukum-hukum wujud material objektif dari partikel elementer elektron dan positron yang belum membentuk sya’i (gabungan unsur materi). Oleh sebab itu, pada proses Kun Fayakun pada ayat-ayat di atas tidak kita temukan kata sya’i (شيء).