Tema 21: Syai (Materi)

oleh Iswan Muhammad Isa

Materi (شَيْءٍ) atau dalam kajian teologis biasa disebut jirim adalah entitas selain Allah yang menempati ruang. Dalam kajian teologis, ruang yang ditempati disebut ‘aradh.

Materi atau syai’ ini tersusun dari molekul-molekul yang terdiri atas atom-atom yang dapat berbentuk padat, cair, gas, dan zat plasma.

Ada lagi bentuk materi yang dieksperimenkan di Universitas Colorado Boulder yang disebut Kondensat Bose–Einstein, yaitu keadaan ketika materi didinginkan mendekati suhu nol mutlak. Kondisi ini membuat atom berada dalam keadaan kuantum terendah.

Keadaan kuantum adalah sistem fisik yang dijelaskan melalui fungsi gelombang yang terdiri atas bilangan kuantum. Secara matematis, hal ini digambarkan sebagai sebuah vektor keadaan yang hanya dapat dimengerti dalam bentuk pengetahuan.

Atom sebagai materi terbentuk karena adanya interaksi partikel sub-atom yang terdiri dari inti atom (proton dan neutron) serta awan garis edar elektron. Elektron bermuatan negatif dan tidak memiliki komponen dasar ataupun substruktur (sepanjang pengetahuan sains saat ini), sehingga dipercaya sebagai partikel elementer.

Anti-partikel elektron disebut positron, yang identik dengan elektron tetapi bermuatan positif. Ketika elektron bertumbukan dengan positron, keduanya dapat berhamburan atau musnah total dan berubah menjadi sinar gamma (radiasi elektromagnetik).

Dari pengetahuan ini, kita memperoleh gambaran tentang apa yang disebut sya’i (شيء) serta sifat-sifat otonom yang ada padanya, yaitu: berubah, tumbuh, dan berkembang. Perubahan inilah yang disebut Allah dalam al-Qashash: 88.

وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ ۘ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Jangan menyembah selain Allah. Tidak ada Tuhan selain Dia. Segala sesuatu pasti berubah, tumbuh dan berkembang. Begitulah segala hukum/kebijaksanaan. Kepada-Nya kamu dikembalikan.” (Al-Qashash: 88)

Dari sini juga kita memperoleh pemahaman tentang firman Allah:

هَلْ أَتَىٰ عَلَى ٱلْإِنسَٰنِ حِينٌ مِّنَ ٱلدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْـًٔا مَّذْكُورًا

“Bukankah telah datang atas manusia suatu masa (momen) dari ٱلدَّهْرِ (masa lalu yang panjang, yang lama) yang pada waktu itu belum menjadi syai’ (sesuatu) yang dapat disebut.” (Al-Insan: 1)

Dari dua ayat di atas, kita dapat memahami beberapa hal:

1. Dunia fisik, dunia tumbuhan, dunia hewan, dan dunia insan berasal dari partikel elementer (bahan dasar) yang berkarakter negatif, yang tumbuh, berubah, dan berkembang.

2. Dari partikel elementer inilah muncul:

  • Dunia fisik, alam semesta.
  • Nafs fisik dan nafs psikis dunia flora dan fauna.
  • Nafs fisik dan nafs psikis dunia insan dan jin.
  • Dunia malaikat.

3. Keempat entitas fisik inilah yang kita ketahui sesuai petunjuk Allah dalam perkembangan ilmu pengetahuan manusia.

Entitas b, c, dan d berasal dari proses berkelanjutan dari dunia fisik alam semesta.

Dari molekul-molekul air (الماء) yang ada pada dunia fisik alam semesta, muncullah entitas hidup.

إِنَّ ٱللَّهَ فَالِقُ ٱلْحَبِّ وَٱلنَّوَىٰ ۖ يُخْرِجُ ٱلْحَىَّ مِنَ ٱلْمَيِّتِ وَمُخْرِجُ ٱلْمَيِّتِ مِنَ ٱلْحَىِّ ۚ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ ۖ فَأَنَّىٰ تُؤْفَكُونَ

“Sesungguhnya Allah yang menumbuhkan butir dan biji,  Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati, mengeluarkan yang mati dari yang hidup. Demikianlah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling?” (Al-An’am: 95)

وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ ۖ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

“Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengapa kamu tidak pecaya?” (Al-Anbiya: 30)

Entitas hidup inilah yang disebut nafs, baik nafs fisik maupun nafs psikis.

Entitas hidup pertama muncul dalam bentuk sel tunggal, termasuk sebagai cikal bakal entitas manusia.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَٰحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَآءً ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ٱلَّذِى تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

“Hai manusia, bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari “nafs tunggal”, dan dari nafs itu diciptakan pasangannya, dan dari keduanya tersebar/berkembang biak laki-laki dan perempuan.” (An-Nisa: 1)

Berdasarkan al-Insan: 1, materi (شيء) tidak tercipta atau diciptakan dari ketidakadaan mutlak. Materi tidak musnah, melainkan mengalami pertumbuhan, perkembangan, dan perubahan. Langit dan bumi juga merupakan materi, sehingga keduanya tidak lenyap menjadi nihil. Peristiwa kiamat hanyalah proses perubahan sebagaimana sifat materi. Oleh sebab itu dikatakan pada Ibrahim: 48.

يَوْمَ تُبَدَّلُ ٱلْأَرْضُ غَيْرَ ٱلْأَرْضِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ ۖ وَبَرَزُوا۟ لِلَّهِ ٱلْوَٰحِدِ ٱلْقَهَّارِ

“Pada hari digantinya bumi dan langit dengan bumi dan langit yang lain dan mereka berkumpul menghadap Allah.”

Malaikat, sepanjang yang dapat kita ketahui, juga berasal dari partikel elementer, yaitu positron dan elektron. Dalam konteks inilah (jikapun benar) kita dapat memahami hadits bahwa malaikat berasal dari cahaya.

Demikian juga jin; kita mengetahui bahwa unsur molekul air adalah H (Hidrogen) dan O (Oksigen). Hidrogen pada suhu tertentu dapat menyebabkan timbulnya ledakan yang menghasilkan api dalam bentuk gelombang panas. Oleh sebab itu dikatakan:

وَٱلْجَآنَّ خَلَقْنَٰهُ مِن قَبْلُ مِن نَّارِ ٱلسَّمُومِ

“Kami telah menciptakan jin sebelumnya dari api yang sangat panas.” (Al-Hijr: 27)

وَخَلَقَ ٱلْجَآنَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ

“Kami telah menciptakan jin dari nyala api.” (Ar-Rahman: 15)

Kesimpulan:

  1. Alam semesta beserta segala isinya berasal dari partikel elementer sebagai cikal bakal sya’i (شيء).
  2. Cikal bakal sya’i inilah yang di-khalaqa dan di-ja‘ala oleh Allah agar tercipta keseimbangan dalam bentuk ketetapan hukum-hukum wujud.
  3. Rancangan dan pola (khalaqa) dibuat berdasarkan partikel elementer yang sudah ada sebelumnya dan melalui rangkaian proses wujud yang berkelanjutan, bukan dari kekosongan (ketiadaan).
  4. Ketetapan hukum-hukum wujud terhadap partikel elementer dikenal dengan konsep Qadha.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *