Tema 17: Pengetahuan Qalbi

oleh Iswan Muhammad Isa

4. Pengetahuan Qalbi (Teoritis)

Jika pengetahuan fuadi dan informasi lebih berfokus pada kerja fuad atau nalar, maka pengetahuan qalbi (teoritis) lebih berfokus pada kerja qalbi (logika intelektual) melalui logika formal dan logika matematika.

Data berupa suara atau bentuk yang diperoleh dari pendengaran dan penglihatan pada awalnya diproses melalui penalaran fuad untuk menghasilkan premis (pernyataan awal).

Premis ini kemudian memerlukan verifikasi atau validasi (landasan haq) untuk menghilangkan prasangka-prasangka yang mungkin timbul, dengan menggunakan perangkat kesadaran atau perangkat lainnya.

Fungsi verifikasi atau validasi ini adalah sebagai kontrol metodologis yang memindahkan premis menjadi pernyataan konklusi (pernyataan keputusan).

Data berupa suara dan bentuk yang dinalar untuk menghasilkan premis ini dapat dijelaskan lebih jelas pada surah al-Hajj ayat 46.

  أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَـٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qalbu yang dengan itu mereka dapat menggunakan akal (logika intelektual) atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah qalbu yang di dalam shudur.

Al-Hajj: 46 mengindikasikan bahwa apa yang kita lihat saat berjalan di muka bumi atau apa yang kita dengar harus dipertimbangkan dengan akal menggunakan qalbu (logika intelektual) yang berada di ṣudūr (batok kepala). Jangan sampai qalbu menjadi buta.

Pemindahan dari premis (pernyataan awal) yang diperoleh dari suara dan bentuk untuk mendapatkan konklusi (keputusan) inilah yang memerlukan kerja qalbu (logika intelektual).

Kerja qalbu ini membutuhkan ketelitian, sebab di sinilah salah satu pintu masuk atau peluang timbulnya prasangka pemikiran syaithani. Sebuah premis (pernyataan awal) yang diperoleh dari suara atau bentuk tidak bisa langsung dianggap benar hanya karena tidak ditemukan kontradiksi antara premis dan konklusinya.

Contoh Kasus:

  • Ibu Musa mendengar dan melihat (suara dan bentuk) melalui fuadnya bahwa setiap bayi yang lahir akan dibunuh oleh Fir’aun. (premis)
  • Bayi Musa dihanyutkan di Sungai Nil, lalu dilihat ibunya jatuh ke tangan istri Fir’aun.
  • Dengan pertimbangan hanya berdasarkan fuad, ibu Musa menyimpulkan bahwa bayi Musa akan dibunuh. (konklusi/keputusan)
  • Dengan keputusan berdasarkan fuad semata, ibu Musa ingin keluar dari persembunyiannya untuk menyelamatkan bayi Musa, tanpa memikirkan akibatnya atau tanpa pertimbangan akal, sehingga menghentikan kerja qalbu (logika intelektual). Hal ini nyaris membuka rahasia bahwa dirinya adalah ibu dari bayi Musa. Namun Allah memperkuat qalbu ibu Musa agar ia tetap dalam persembunyiannya.
  • Ternyata, bayi Musa tidak dibunuh, justru dipelihara oleh Fir’aun. Artinya, konklusi ibu Musa keliru.

Kasus ibu Musa ini menunjukkan betapa pentingnya verifikasi atau validasi sebelum mengambil keputusan atau konklusi. Ketepatan dan kemampuan verifikasi atau validasi inilah yang memerlukan kerja qalbu dengan benar sebelum suatu konklusi ditetapkan.

Kerja intelektual inilah yang berfungsi untuk verifikasi dan validasi, yang dalam perkembangan ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi menjadi dasar lahirnya berbagai bentuk teori dalam upaya mencari kebenaran. Dalam al-Qur’an, hal ini disebut sebagai wasilah.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَٱبْتَغُوٓا۟ إِلَيْهِ ٱلْوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُوا۟ فِى سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (Al-Maidah: 35)

Dari contoh di atas, verifikasi atau validasi diperlukan untuk memperoleh kesimpulan melalui argumen logis.

Contoh sederhana:

Semua bilangan genap habis dibagi 2.
20 adalah bilangan genap.
Jadi, 20 pasti habis dibagi 2.

Jika jembatan ditutup, kendaraan akan berhenti.
Jika kendaraan berhenti, akan terjadi macet.
Sekarang jembatan ditutup, jadi akan terjadi macet.

Namun perlu diingat bahwa argumen yang berawal dari fuad bisa saja keliru ketika kenyataannya berbeda.

Contoh:
Apakah setiap kemacetan disebabkan oleh jembatan yang ditutup?
Tentu tidak.

Hal ini menunjukkan bahwa pada rentang sebab-akibat dengan variabel yang sangat kompleks, diperlukan verifikasi dan validasi dengan berbagai indikator agar keputusan yang kita ambil tetap berada dalam lingkup kebenaran.

Di sinilah peran qalbu, yaitu memetakan berbagai variabel agar pemindahan premis menjadi konklusi tidak keliru, sehingga dapat menutup celah masuknya pemikiran syaithani.

Variabel dan indikator yang dikumpulkan akan membuktikan apakah argumen atau teori yang kita bangun, serta keyakinan atau kepercayaan yang kita anut, benar atau keliru.

Variabel dan indikator ini berlaku baik pada premis (pernyataan awal), verifikasi/validasi, maupun konklusi (keputusan), serta pada masa lalu, masa kini, maupun masa depan. Misalnya al-Furqan: 61 dan Yunus: 5.

تَبَارَكَ ٱلَّذِى جَعَلَ فِى ٱلسَّمَآءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَٰجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا

“Maha Suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan juga padanya matahari dan bulan yang bercahaya.”

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا

“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya”

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *