Tema 16: Pengetahuan Fuadi

oleh Iswan Muhammad Isa

3. Ilmu Pengetahuan Fuadi

Ilmu pengetahuan fuadi bersumber dari sentuhan melalui indera perasa, suara, dan bentuk. Pengetahuan ini merupakan yang paling banyak digunakan dan paling efektif, sejak manusia masih bayi hingga akhir hayat, bahkan sejak masa manusia Adam.

وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak tahu apa-apa, dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan fuad (nalar) agar kamu bersyukur.” (An-Nahl: 78)

Fuad atau nalar adalah tingkatan dalam proses berpikir yang bertolak dari pengamatan inderawi, sehingga menghasilkan sejumlah pengertian dan konsep. Jenis pengamatan ini mencakup segala sesuatu yang dapat dirasakan, didengar, dan dilihat dalam bentuk fenomena atau ayat/tanda.

Namun, dalam situasi tertentu nalar dapat keliru dalam mengambil keputusan, sebagaimana yang terjadi pada anak kecil ataupun orang dewasa, seperti yang dialami oleh ibu Musa AS.

وَأَصْبَحَ فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَٰرِغًا ۖ إِن كَادَتْ لَتُبْدِى بِهِۦ لَوْلَآ أَن رَّبَطْنَا عَلَىٰ قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ

“Dan menjadi kosonglah fuad (hati) ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan kalbunya, supaya ia termasuk orang yang percaya.” (Al-Qashash: 10)

Ayat ini memberikan informasi ketika ibu Musa melihat bayinya yang dihanyutkan di Sungai Nil untuk menghindari Fir’aun, justru jatuh ke tangan istri Fir’aun. Ibu Musa yang sebelumnya mendengar bahwa Fir’aun akan membunuh bayi, kini mendapati anaknya berada di tangan keluarga Fir’aun.

Kondisi inilah yang membuat fuad atau naluri ibu Musa tidak bekerja. Yang muncul adalah nalar reflektif basyari, seperti naluri hewan yang ingin menyelamatkan anaknya. Oleh sebab itu dikatakan: “hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa.”

Nalar reflektif ini, karena semata-mata mengandalkan rasa, pendengaran, dan penglihatan, bisa saja keliru. Oleh sebab itu Allah mengingatkan:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan fuad (nalar), semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (Al-Isra: 36)

Jadi, untuk menetapkan apakah pengetahuan fuadi benar atau salah, kita tetap memerlukan verifikasi atau validasi, meskipun keputusan atau pernyataan kita tampak benar.

Dalam era informasi dan komunikasi saat ini, kita menerima berbagai informasi yang tidak terbatas. Kita sering kali tidak dapat membedakan mana yang bersifat Qur’ani, mana yang menyimpang, dan mana yang merupakan hoaks. Jika kita tidak kembali kepada al-Qur’an dan berusaha memahaminya dengan benar, sesuai dengan kriteria dan tolok ukur dari al-Qur’an itu sendiri, maka fluktuasi makna sulit untuk dihindari.

وَمَا لَهُم بِهِۦ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ ۖ وَإِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغْنِى مِنَ ٱلْحَقِّ شَيْـًٔا

“Dan mereka tidak mempunyai suatu pengetahuan pun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan. Sesungguhnya persangkaan itu tidak berguna sedikit pun bagi kebenaran.” (An-Najm: 28)

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِى ٱلْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta.” (Al-An’am: 116)

Dalam konteks saat ini, setiap hari kita mendengar, membaca, dan melihat berbagai informasi yang disampaikan oleh berbagai sumber, baik dari masyarakat, para intelektual, ulama, maupun lainnya. Semua itu merupakan pengetahuan fuadi yang perlu dicermati.

Misalnya, dalam acara TV One: Indonesia Damai dijelaskan betapa pentingnya akhlak bagi seseorang; bahwa akhlak yang buruk dapat menyebabkan amalan tidak berguna. Dikisahkan, ada seseorang yang sudah dipastikan masuk surga, namun ketika ia hendak memasukinya, ia mengalami hambatan dan akhirnya tidak jadi masuk surga karena diketahui akhlaknya buruk. Pertanyaannya: apakah saat hisab, akhlaknya tidak diperhitungkan dan baru diketahui kemudian?

Karena itu, pengetahuan fuadi harus selalu “dikawal” dengan ilmu pengetahuan lainnya. Sebab, pengetahuan fuadi bisa saja keliru ketika dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan.

Karena fuadi adalah respons terhadap suara atau bentuk yang dapat menimbulkan rasa, maka fuad juga digunakan Allah dalam al-Qur’an untuk menggambarkan rasa kesakitan di alam akhirat.

وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْحُطَمَةُ ‎﴿٥﴾‏ نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ ‎﴿٦﴾‏ الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الْأَفْئِدَةِ ‎﴿٧﴾

“Tahukah kamu, apakah Hutomah itu? Api Allah yang menyala-nyala, yang sampai ke fuad.” (Al-Humazah: 5-7)

Dalam perkembangan modern, ilmu pengetahuan fuad melahirkan ilmu pengetahuan empiris, yaitu kebenaran yang diperoleh melalui pengamatan, observasi, dan pengalaman.

Dalam filsafat, empirisme termasuk dalam cabang positivisme, yaitu salah satu aliran filsafat yang meyakini bahwa pengetahuan yang benar berasal dari alam semesta yang dapat dipersepsi. Dari sinilah lahir ilmu-ilmu alam.

Hal ini sejalan dengan al-Qur’an yang jauh sebelumnya telah menegaskan bahwa alam semesta beserta isinya adalah haq.

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *