Tema 11: Hubungan Nonverbal

oleh Iswan Muhammad Isa

Petunjuk non-verbal dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu alam semesta dan manusia, sebagaimana pada adz-Dzāriyāt ayat 20–21.

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ ‎﴿٢٠﴾‏ وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ ‎﴿٢١﴾

“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz-Dzariyat: 20-21)

وَفِي خَلْقِكُمْ وَمَا يَبُثُّ مِن دَابَّةٍ آيَاتٌ لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Dan pada penciptaan kalian dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran terdapat tanda-tanda untuk kaum yang yakin.” (Al-Jatsiyah: 4)

Dalam memahami alam, kita perlu memiliki abstraksi tentang makna Kitab (Kataba), yaitu terhimpunnya segala sesuatu yang terpisah dalam suatu sistem, mekanisme, dan struktur dalam tema tertentu. Sebagai Kitab, alam semesta bersifat sangat logis dan rasional; artinya, dapat dipahami dan dibuktikan melalui sains dan teknologi berdasarkan hukum-hukum wujud rahmani yang telah dirancang dan ditetapkan sebelumnya dalam suatu keseimbangan.

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا ۖ مَّا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَـٰنِ مِن تَفَاوُتٍ ۖ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ

“Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu tidak melihat pada pola rahmani sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah! Berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? ” (Al-Mulk: 3)

Keseimbangan dan kesempurnaan tanpa cacat, beserta konsekuensi logis yang dihadapi manusia dan makhluk lainnya, telah ditetapkan sebelumnya dalam suatu sistem, struktur, dan tema-tema tertentu. Oleh karena itu dikatakan:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

“Setiap sesuatu yang menimpa (dalam bentuk musibah) di bumi dan dari diri kalian, melainkan ada dalam kitab (suatu sistim dengan tema tertentu) sebelum kami mewujudkannya. Yang demikian itu mudah bagi Allah.” (Al-Hadid: 22)

Sistem dan tema-tema ini bersifat nyata; artinya dapat kita pahami dan pelajari karena tersusun secara teratur, seimbang, serta tidak saling bertentangan dengan segala konsekuensi logisnya. Sistem dan tema yang nyata ini disebut Kitab Mubin.

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Dan pada sisi Allah kunci-kunci ghaib, tidak ada yang tahu melainkan Allah. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut; tidak daun yang gugur melainkan Dia mengetahui. Dan tidak biji-bijian dalam kegelapan bumi, dan tidak yang basah dan tidak yang kering; melainkan ada dalam Kitab Mubin.” (Al-An’am: 59)

وَمَا تَكُونُ فِى شَأْنٍ وَمَا تَتْلُوا۟ مِنْهُ مِن قُرْءَانٍ وَلَا تَعْمَلُونَ مِنْ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيْكُمْ شُهُودًا إِذْ تُفِيضُونَ فِيهِ ۚ وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّبِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِى ٱلسَّمَآءِ وَلَآ أَصْغَرَ مِن ذَٰلِكَ وَلَآ أَكْبَرَ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ

“Tidak ada yang lebih kecil dan besar dari itu, melainkan ada dalam Kitab Mubin (sistem & tema yang nyata).” (Yunus: 61)

Karena sistem dan tema yang nyata inilah, manusia dapat menjadikan alam semesta sebagai petunjuk dan pedoman yang melahirkan ilmu pengetahuan.

Sebagai makhluk otonom, manusia juga dapat menyusun sistem dan tema dengan segala konsekuensi logisnya. Dalam al-Qur’an, hal ini disebut Kitab Mastur, yaitu sistem dan tema yang dirancang oleh manusia beserta seluruh implikasinya.

وَإِن مِّن قَرۡيَةٍ إِلَّا نَحۡنُ مُهۡلِكُوهَا قَبۡلَ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَوۡ مُعَذِّبُوهَا عَذَابٗا شَدِيدٗاۚ كَانَ ذَٰلِكَ فِي ٱلۡكِتَٰبِ مَسۡطُورٗا

“Tidak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab dengan azab yang pedih. Yang demikian itu di dalam Kitab Mastur.” (Al-Isra’: 58)

وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُوا۟ عَن كَثِيرٍ

“Dan musibah apapun yang menimpa kamu adalah sebab perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah banyak memaafkan.” (Asy-Syura: 30)

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ

“Nun – Demi Qalam & apa yang mereka susun.” (Al-Qalam: 1)

Jadi, musibah memiliki dua sumber penyebab, yaitu:

1. Hukum-hukum alam yang sistem dan temanya ditetapkan oleh Allah: Kitab Mubin.

2. Perilaku manusia yang sistem dan temanya ditetapkan atau dilakukan oleh manusia: Kitab Mastur.

Dalam membangun akidah dan ilmu pengetahuan Qur’ani melalui hubungan komunikasi dengan alam semesta, kita harus memahami makna kata al-Kitab secara utuh serta penggunaannya dalam berbagai ayat, agar terhindar dari kerancuan akidah.

Sebagai contoh, dalam Surah Ali Imran ayat 1–6, tema-tema yang disampaikan (al-Kitab) bersumber dari subjektivitas Allah (ar-Rahim). Oleh karena itu, pada ayat ke-6 ditegaskan:

هُوَ ٱلَّذِي يُصَوِّرُكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ كَيۡفَ يَشَآءُۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut apa yang Dia kehendaki (يشاء). Tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa Maha Bijaksana.” (Ali Imran: 6)

Sedangkan kata al-Kitab pada Ali Imran ayat 7, kata al-Kitab bersumber dari obyektivitas Allah (ar-Rahman). Oleh sebab itu pada ayat 9 dinyatakan:

رَبَّنَآ إِنَّكَ جَامِعُ ٱلنَّاسِ لِيَوۡمٖ لَّا رَيۡبَ فِيهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخۡلِفُ ٱلۡمِيعَادَ

“Ya Tuhan kami, Engkaulah yang mengumpulkan manusia bagi hari yang tidak ada keraguan di dalamnya (kiamat). Sungguh Allah tidak menyelahi janji-Nya.” (Ali Imran: 9)

Berbeda lagi makna al-Kitab pada Surah al-Baqarah ayat 1–2. Pada konteks ini, yang dimaksud dengan al-Kitab adalah keseluruhan sistem dan tema, baik yang bersumber dari subjektivitas Allah maupun dari objektivitas Allah.

ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ

Alif Lam Mim. (ذَٰلِكَ) Kitab – itulah al-Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya sebagai petunjuk orang yang taqwa, yaitu:

  • Percaya (ghaib)
  • Shalat
  • Infaq
  • Percaya (kitab)
  • Hari kiamat