Tema 5: Asy-Syaithan

oleh Iswan Muhammad Isa

Pada pelajaran sebelumnya kita telah membahas kalimatullah dan sunnatullah yang bersumber dari ar-Rahman dan ar-Rahim. Dari gambar atau skema yang disampaikan dapat dipahami bahwa ar-Rahman dapat dipandang dari dua sisi, yaitu adanya produktivitas dalam diri dan adanya produktivitas pikiran manusia.

Produktivitas pikiran manusia yang sesuai dengan produktivitas alam disebut dengan Pemikiran Rahmani, sedangkan pemikiran yang tidak sesuai dengan Pemikiran Rahmani disebut dengan Pemikiran Syaithani. Salah satu dasar Qur’ani penyebutan istilah ini dapat dilihat, misalnya, pada Maryam: 44.

يَـٰٓأَبَتِ لَا تَعْبُدِ ٱلشَّيْطَـٰنَ ۖ إِنَّ ٱلشَّيْطَـٰنَ كَانَ لِلرَّحْمَـٰنِ عَصِيًّا

“Wahai ayahku, janganlah kamu tunduk kepada asy-Syaithan, karena asy-Syaithan itu menentang ar-Rahman.”

Dalam al-Qur’an, kata asy-Syaithan berasal dari dua akar kata yang berbeda, yaitu dari akar kata sya-tha-na dan sya-tha.

1. Akar kata sya-tha-na (ش ط ن)

Jika kata syaithan berasal dari akar kata syathana, maka huruf nun (ن) adalah huruf asli/asal. Dalam makna ini, ia menunjuk pada oknum atau objek di luar kesadaran/pemikiran manusia. Artinya, wujud yang ada bukan hasil atau produktivitas pemikiran manusia. Misalnya: alam, matahari, manusia, dan jin.

Al-Baqarah: 14

وَإِذَا لَقُوا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا ۖ وَإِذَا خَلَوْا۟ إِلَىٰ شَيَـٰطِينِهِمْ قَالُوٓا۟ إِنَّا مَعَكُمْ ۖ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَ

“Apabila mereka berjumpa dengan orang beriman, mereka berkata: ‘Kami telah beriman’. Tetapi apabila mereka kembali pada syaitan-syaitan mereka, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami bersama kalian, kami hanya berolok-olok’.”

Al-Anbiya: 82

وَمِنَ ٱلشَّيَـٰطِينِ مَن يَغُوصُونَ لَهُۥ وَيَعْمَلُونَ عَمَلًۭا دُونَ ذَٰلِكَ ۖ وَكُنَّا لَهُمْ حَـٰفِظِينَ

“Dan telah Kami tundukkan syaitan-syaitan yang menyelam untuknya dan mengerjakan pekerjaan selain itu, dan Kami memelihara mereka.”

Shad: 37

وَٱلشَّيَـٰطِينَ كُلَّ بَنَّآءٍۢ وَغَوَّاصٍۢ

“Dan (Kami tundukkan) syaitan-syaitan, semuanya ahli bangunan dan penyelam…”

2. Sya-tha / Syi-tha (شاط)

Kata syaithan yang berasal dari akar kata syatha / syitha mempunyai makna dasar “hilang atau batalnya sesuatu.” Huruf nun di sini merupakan tambahan. Adanya huruf nun menunjukkan adanya dialektika dalam pemikiran oknum (manusia atau jin) yang menghasilkan “kebatilan.”

Oleh karena itu, ada yang mengatakan akar katanya adalah sya-tha, yang berarti dua ujung tali yang saling menjauh. Dengan demikian, dalam produktivitas pikiran manusia, asy-Syaithan merupakan kebalikan dari ar-Rahman.

Ayat-ayat pendukung:

Al-Furqan: 29

لَّقَدْ أَضَلَّنِى عَنِ ٱلذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَآءَنِى ۗ وَكَانَ ٱلشَّيْطَـٰنُ لِلْإِنسَـٰنِ خَذُولًۭا

“Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan ketika telah datang kepadaku. Dan asy-Syaithan itu tidak menolong manusia/pengkhianat manusia.”

Az-Zukhruf: 36

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ ٱلرَّحْمَـٰنِ نُقَيِّضْ لَهُۥ شَيْطَـٰنًۭا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٌۭ

“Barang siapa berpaling dari peringatan ar-Rahman, Kami adakan baginya asy-Syaithan, maka asy-Syaithan itu teman yang menyertainya.”

Jadi, di sini kita bukan membicarakan halal-haram, melainkan sesuatu yang lebih besar dari itu bagi umat manusia dalam hidup dan kehidupan, dalam yakin dan keyakinan, yaitu antara Haq dan Bathil, antara ‘Azam dan Zann. Pada titik inilah asy-Syaithan atau pemikiran Syaithani telah meraih kejayaan dan kesuksesan dalam memengaruhi pemikiran manusia.

Beberapa contoh wilayah yang menjadi sasaran bagi pemikiran Syaithani:

1. Kejadian terpisah tetapi tampak beriringan sehingga dijadikan sebab, padahal tidak ada hubungannya:

  • Gerhana dan kematian Ibrahim putra Nabi
  • Ayam berkokok dan matahari terbit
  • dan lain-lain

2. Menyamakan atau menyatukan antara Qudrat (kemampuan), Iradat (kemauan), dan Sya’a (kehendak):

  • Fulan bisa menyetir, tetapi tidak semua kendaraan bisa disetir Fulan.
  • Fulan bisa mengajar, tetapi tidak setiap orang bisa diajar oleh Fulan.

Jadi, hubungan antara Qudrat, Iradat, dan Sya’a dapat berlaku pada dunia fisik (fenomena, realitas benda) maupun pada dunia manusia (perilaku subjek).

Al-Mulk: 2

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Al-Qiyamah: 4

بَلَىٰ قَادِرِينَ عَلَىٰٓ أَن نُّسَوِّيَ بَنَانَهُۥ

Al-Baqarah: 20

وَلَوْ شَآءَ ٱللَّهُ لَذَهَبَ بِسَمْعِهِمْ وَأَبْصَـٰرِهِمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍۢ قَدِيرٌۭ

Tetapi semua kemampuan dan kelemahan tergantung pada iradah (kemauan dengan terpenuhinya syarat-syarat). Dengan demikian, dalam mengambil kesimpulan untuk menilai hubungan Allah, alam, dan manusia, harus diketahui atau dipertimbangkan hubungan hukum-hukum objektif Rahmani/Rahimi, sunnatullah/kalimatullah.

3. Percampuradukkan antara risalat dan nubuwat, yaitu menyamakan antara sains dan etika/moral yang berada pada wilayah manusia dengan ritual yang berada pada wilayah Allah. (Contoh: nasab – ampunan Allah).

4. Logika abstrak antara pernyataan dan keputusan (antara premis dan konklusi):

  • Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi direalisasikan terhadap kafilah.
  • Nabi menerima wahyu dan direalisasikan dalam perilaku.

Jadi, informasi yang tepat yang didapat atau diyakini harus dapat direalisasikan dalam pemikiran, tindakan, dan penilaian.

5. Hasrat Khayali (al-amani)

Kondisi ini disebut dapat terjadi pada siapa saja, termasuk dalam ayat:

Al-Hajj: 52

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ وَلَا نَبِيٍّ إِلَّا إِذَا تَمَنَّىٰ أَلْقَى الشَّيْطَانُ فِي أُمْنِيَّتِهِ فَيَنسَخُ اللَّهُ مَا يُلْقِي الشَّيْطَانُ

An-Nisa: 120

يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا

KOMENTAR

Berkomentarlah dengan bijak! Bidang yang harus diisi ditandai *